Connect with us
Call Me Chihiro
Netflix

Film

Call Me Chihiro Review: Kehidupan Baru Seorang Mantan PSK

Drama kehidupan ala Jepang yang slow pacing dan tidak membebankan cerita pada plot.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Call Me Chihiro” adalah film drama Jepang terbaru di Netflix dari sutradara Rikiya Imaizumi. Film ini diangkat dari manga bergenre slice of life “Chihirosan” karya Hiroyuki Yasuda yang juga ambil bagian sebagai penulis naskah untuk adaptasi live-action ini. Dibintangi oleh Kasumi Arimura sebagai Chihiro, wanita ramah yang bekerja di toko bento di kota pinggiran laut.

Dibalik senyum manis dan sikap baiknya terhadap orang lain, Chihiro sendiri adalah wanita kesepian. Ia merasa asing dengan keluarga kandungnya, serta sempat menjadi PSK sebelum menjadi pegawai di toko bento. Setelah berusaha membuat kehidupan orang lain terasa sedikit lebih baik, mampukah Chihiro mengisi kehampaan yang ada dalam dirinya sendiri?

“Call Me Chihiro” merupakan drama kehidupan dengan premis yang terlihat serius, namun film secara keseluruhan sangat tenang. Nyaris tanpa konflik yang bikin penontonnya emosi. Sangat tipikal slice of life yang slow pacing dari skena film Jepang.

Call Me Chihiro

Mengikuti Keseharian Chihiro Menebar Kebahagian pada Orang Lain

Sebagai live-action drama adaptasi manga, “Call Me Chihiro” tidak memberatkan cerita pada plot. Ini bukan film dengan ‘awal’ dan ‘akhir’, layaknya kehidupan sesungguhnya. Tiba-tiba kita diajak untuk masuk dalam kehidupan Chihiro pada poin yang terasa acak. Setidaknya bisa diidentifikasi bahwa kita sedang menyaksikan pasca titik transisi Chihiro dari PSK yang kemudian mendapatkan pekerjaan baru sebagai penjaga toko bento.

Selain bekerja, kita akan mengikuti keseharian Chihiro berinteraksi dengan karakter-karakter lainnya. Baik karakter yang sudah ia kenal beberapa saat maupun yang baru saja masuk dalam kehidupannya. Mulai dari pemilik toko yang sedang dirawat di rumah sakit, gelandangan yang sedang datang ke kota, remaja penggemar rahasia Chihiro, hingga boss lamanya ketika ia bekerja sebagai PSK. Tidak ada konflik berlebihan, akan melihat bagaimana Chihiro selalu menanggapi semuanya dengan sikap yang positif dan mengutamakan kedamaian.

Dengan begini “Call Me Chihiro” adalah drama yang lebih fokus pada arc protagonis yang sudah move on dari masa lalu. Namun ada masalah internal baru yang sedang berusaha ia resapi. Kita diajak melihat bagaimana orang dengan masa lalu yang terlihat gelap pun memiliki kendali untuk mendapatkan kehidupan yang sedikit lebih baik.

Call Me Chihiro

Setiap Karakter Punya Masalah Pribadi, Namun Tidak Dieksplorasi Secara Utuh

Butuh waktu cukup lama untuk kita tenggelam dan memahami sebetulnya apa pesan yang ingin disampaikan dari karakter Chihiro. Mudahnya, film ini tentang kehidupan baru dan isu kesepian yang dialami Chihiro. Cukup mengherankan mengapa penonton tidak diijinkan terlalu banyak menyelami masa lalu hingga konflik internal yang sedang dialami Chihiro secara maksimal. Seperti apa masa kecil Chihiro seutuhnya, bagaimana masa-masa ketika ia sebelum dan saat menjadi PSK. Ada juga satu cerita tentang luka tusukan di punggungnya, kita hanya di-teasing dan tidak diberi informasi lebih.

Tak hanya Chihiro, beberapa karakter pendukung dalam film ini juga memiliki pergumulan masing-masing. Terutama kisah Okaji (Hana Toyoshima), remaja yang sejak adegan pertama menjadi stalker Chihiro. Mengapa ia mengagumi Chihiro, apa yang sebetulnya konflik internal yang ia miliki dengan keluarganya. Penutupan dari kisah Okaji juga tidak memberikan closure. Entah gaya penyampaian kisah ini memang eksekusi yang ingin diadaptasi. Dimana sebatas kita memahami apayang dirasakan oleh penonton, namun cerita mereka tidak terlalu dieksploitasi.

Pacing Sangat Lambat, Banyak Still Frame yang Dragging

“Call Me Chihiro” memiliki presentasi adegan yang banyak still frame. Teknik seperti ini mungkin sudah sering banget kita temui di film-film drama Jepang dan Korea. Seperti hanya memperlihatkan Chihiro berjalan di pinggir pantai selama beberapa menit tanpa dialog, atau duduk di kompleks kuburan dan entah sedang memikirkan apa. Ada beberapa adegan yang dibarengi dengan close shoot yang membuat kita bisa memperhatikan presentasi akting wajah aktor.

Namun lebih banyak yang cuma memperlihatkan mereka melakukan hal-hal mundane. Seperti ketika sedang makan bersama, membaca manga, duduk santai bersama. Dimana sepertinya memang ada segmentasi penonton di skena perfilman Jepang untuk film seperti ini. Karena panorama kota kecil dan suasana tenang yang melankolis dalam film ini cukup artistik. Initisari dan pesan yang disampaikan dalam film ini sangat subtle. Sepertinya memang banyak film Jepang dengan eksekusi seperti ini. Tanpa narator dan dialog yang padat. Dimana kekuatan utama dibebankan pada akting dan adegan level permukaan saja.

Sayang saja, untuk film drama berdurasi 2 jam, “Call Me Chihiro” terkadang terasa membosankan. Padahal kalau sedang ada adegan perbincangan yang padat, sebetulnya dialognya sangat menarik. Misalnya ketika Chihiro bicara tentang kesepian dan kehampaan, atau pandangannya akan cinta. Buat penggemar slice of life Jepang bernuansa josei, bisa jadi “Call Me Chihiro” menjadi tontonan menenangkan dan reflektif.

Late Night with the Devil Late Night with the Devil

Late Night with the Devil Review: Mimpi Buruk Talk Show Tengah Malam

Film

In a Violent Nature Review In a Violent Nature Review

In a Violent Nature Review: Slasher Horror dari Sudut Pandangan Pembunuh

Film

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Connect