Connect with us
Apa yang Indonesia Bisa Pelajari dari French New Wave?
Jean Luc-Godard: Breathless (1960)

Culture

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari French New Wave?

Memaknai lagi kebebasan setelah 76 tahun Indonesia merdeka dari kacamata seni.

Apakah manusia hari ini lebih bebas dari manusia di masa lalu? Dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, tanpa sadar kebebasan kita dikontrol oleh hal-hal yang tidak terlihat, seperti permainan kata dari media dan pembentukan selera global. Namun sebenarnya, apa pentingnya kebebasan itu sendiri?

Ada banyak definisi yang diberikan orang-orang maupun filsuf terdahulu terkait kebebasan. Menurut Albert Camus, kebebasan adalah kondisi yang diperlukan setiap individu untuk membentuk persepsi akan makna kehidupannya. Jika seseorang tidak bebas, dia akan terperangkap dalam dunia yang tidak adil.

Nilai-nilai kebebasan memiliki asosiasi yang kuat dengan bangsa Prancis. Beberapa peristiwa revolusioner yang mengubah dunia dimulai dari Prancis. Tidak heran jika rakyat Prancis dikenal sebagai “tukang protes”. Sifat ini berakar kepada revolusi Prancis yang melahirkan sebuah motto “liberté, egalite, fraternité”. Melalui motto ini, terbentuklah nilai dasar yang menjelaskan budaya masyarakat Prancis dan kehidupan demokrasi secara umum.

“Freedom is nothing but a chance to be better.” – Albert Camus

Setelah perang dunia II berakhir, Prancis mengalami kekalutan dalam membangun kembali negaranya dari kemerosotan ekonomi dan kehancuran infrastruktur. Melihat kondisi dunia pasca perang yang terpolarisasi menjadi dua kekuatan, Prancis mendekati Amerika dan berpihak kepada kekuatan barat. Prancis berusaha membendung kekuatan komunis di negaranya dan cenderung bertindak secara konservatif.

Melalui suatu perjanjian, Prancis mengizinkan industri Amerika untuk masuk ke negaranya, termasuk film Hollywood. Untuk menjaga supaya masyarakat tetap mengakar kepada kebudayaan Prancis yang luhur, pemerintah menyelipkan film-film klasik Prancis di antara film-film Hollywood yang bertengger di bioskop.

Sifat konservatif Prancis yang menolak adanya perubahan dari segi kebudayaan ini kemudian mengundang para pemuda yang revolusioner dan berani untuk menentang sistem tersebut.

French New Wave dan Momentum Kebebasan Berekspresi Para Sineas

Adalah majalah “Cahiers du Cinema” asuhan Andre Bazin di mana kritik-kritik terhadap film diutarakan. Majalah ini muncul pada 1951 dan semenjak itu menjadi markas bagi sekelompok Cinephiles muda seperti François Truffaut, Jean-Luc Godard, Claude Chabrol, Jacques Rivette, dan Eric Rohmer untuk menyampaikan kritiknya. Apa yang ingin dirubah oleh para cinephiles ini? Sebuah revolusi atas budaya yang kaku dan status quo yang diterapkan oleh pemerintah.

Setelah dibukanya keran industri Amerika, film Prancis dengan busana yang ketinggalan zaman sangat jauh berbeda jika disandingkan dengan film Hollywood yang penuh aksi dan modern. Apa yang ditampilkan oleh sinema Prancis tersebut tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat Prancis itu sendiri.

Sinema Prancis kemudian kalah popularitas dengan film-film Hollywood. Misi pemerintah untuk menjaga warga Prancis tetap konservatif tidak dapat tercapai, karena modernisme telah terjadi di mana-mana.

Selain itu, terdapat senioritas yang sangat kuat dalam industri perfilman Prancis. Jika ingin membuat film, maka harus mulai dari bawah dan mengikuti formula yang ada. Tidak ada ruang bagi sineas muda untuk berekpresi. Oleh sebab itu, satu persatu sineas Prancis mulai membuat film di luar aturan-aturan yang ada.

Pada 1959, Truffaut memproduksi “Les Quatre Cents Coup” (The 400 Blows) yang terinspirasi dari masa kecilnya yang berada di lingkungan kelas pekerja. Film ini kemudian dikenal sebagai film dengan cerita yang sangat original dan personal, sesuatu yang tidak dilakukan pada era dominasi studio saat itu.

Francois Truffaut: The 400 Blows (1959)

Francois Truffaut: The 400 Blows (1959)

Gelombang French New Wave itu kemudian mempopulerkan istilah “auteurisme” yang menempatkan sutradara atau filmmaker sebagai author / penentu jalannya cerita dari film yang dibuatnya. Mereka menentang dominasi studio sehingga film-film yang dihasilkan harusnya adalah cerminan dari apa yang ingin disampaikan sang sutradara. Menurut para cinephile French New Wave, posisi sutradara serupa penulis novel dengan penanya.

Dengan mengedepankan konsep ini, para sutradara menunjukkan bahwa film adalah bahasa audiovisual yang dapat mengekspresikan berbagai keadaan internal maupun eksternal yang terjadi dalam kehidupan nyata. Kembali lagi kepada hakikat kebebasan di awal, Camus merupakan pendukung kebebasan artistik secara penuh. Ia berpendapat bahwa seni akan berharga jika memiliki nilai internal yang mencerminkan kesadaran pembuatnya.

Konsep “auteurisme” dan dekonstruksi formula Hollywood dalam membuat film menjadikan para sineas Prancis ini memproduksi film mereka secara independen. Meskipun dengan pendanaan yang terbatas, mereka tidak terkungkung oleh status quo dan berhasil mengekspresikan apa yang ingin disampaikan.

Era French New Wave meninggalkan warisan yang mengubah dunia perfilman di seluruh dunia, bahwa film mampu berfungsi sebagai media berekspresi pembuatnya dan dapat diproduksi di luar studio.

Southeast Asian New Wave, Indonesian New Wave?

Lantas, bagaimana kabar auteurisme di Indonesia saat ini? Menurut Southeast Asia Fiction Film Lab, tahun 1990-an memberi kita Southeast Asian New Wave, seperti Garin Nugroho dari Indonesia, Rithy Panh dari Kamboja, Eric Khoo dari Singapura, Pen-ek Ratanaruang dari Thailand dan Tran Anh Hung dari Vietnam.

Disebut New Wave karena gelombang ini menandai hadirnya film Asia Tenggara di hadapan internasional. Sebelumnya, sinema Asia Tenggara tidak dilirik oleh dunia luar.

Di luar sinema auteur, pembuatan film komersial juga berkembang pesat dengan kesuksesan Ong Bak (2003), Shutter (2004) dan The Raid (2011) di seluruh dunia. Dekade 2000-an ditutup oleh Apichatpong Weerasethakul dari Thailand yang berhasil lolos sebagai pemenang Palme d’Or Cannes melalui karyanya “Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives” (2010).

Apichatpong Weerasethakul

Apichatpong Weerasethakul: Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak film Indonesia yang mendapat pengakuan di festival internasional. Film “Postcard from the Zoo” tampil di Berlinale pada 2012, dan “What They Don’t Talk About When They Talk About Love”, disutradarai oleh Mouly Surya pada 2013, adalah film Indonesia pertama yang berkompetisi di Sundance Film Festival. Film tersebut kini dapat ditonton melalui Netflix. Film Mouly lainnya, “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” juga mendapat pujian kritis di Cannes 2017.

Namun rasanya, auteurismee di Indonesia saat ini memiliki banyak tantangan. Menurut penulis buku “Memahami Film”, Himawan Pratista, gerakan Indonesian New Wave berbeda dengan New Wave dari Prancis. Gerakan sinema kita tidak memiliki karakter estetis yang khas.

Setelah momentum kebebasan berekspresi pasca 1998 dilupakan, tren kembali lagi memakai tema roman atau horror yang dibuat untuk konsumsi remaja atau kaum muda. Fokus pada penonton remaja seolah menjadi keharusan karena merekalah yang mendominasi penonton bioskop, sehingga menjadi jaminan sukses tidaknya suatu film.

Menurut Himawan, kelemahan mendasar yang sering terlihat dalam film-film Indonesia adalah motivasi plot yang sangat lemah. Seringkali tidak dapat ditemukan rangkaian hubungan sebab akibat yang kuat serta konsistensi dalam sebuah alur cerita. Plot lemah juga seringkali semakin diperburuk dengan dialog yang tidak berguna. Film-film yang tampil di bioskop belum menggunakan kekuatan visual sebagai bahasa komunikasi.

What They Don’t Talk About When They Talk About Love Review

What They Don’t Talk About When They Talk About Love Review (Photo via iffr.com)

Apa yang bisa Dipelajari dari French New Wave?

Ada pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa janganlah membandingkan film Indonesia dengan film Hollywood, karena jelas-jelas fasilitas yang ada di Amerika dan di Indonesia berbeda. Kita juga ketinggalan jauh dari segi “start” dan jaringan.

Bayangkan saja, Amerika telah merdeka 169 tahun sebelum Indonesia merdeka. Sejak awal 1900, Amerika juga telah memproduksi filmnya, sementara film nasional Indonesia baru muncul pada periode 1950-an. Jadi, wajar saja kalau dari segi teknis kita kalah dari Amerika.

Namun, dari French New Wave kita dapat belajar bahwa film yang berkualitas dan memiliki pengaruh tidak harus diproduksi dengan biaya besar. Bahkan, gerakan ini menjadikan siapa saja dapat membuat film. Hal ini menjadi pengingat bahwa sineas harus berani untuk keluar dari zona nyaman ataupun formula yang lumrah dalam menentukan tema film.

New Wave juga menjadi pengingat bahwa kebebasan seharusnya dimiliki oleh setiap sineas. Menurut sutradara Nurman Hakim yang dilansir dari Tempo, kini di era Reformasi, “kontrol” terhadap film, khususnya film religi – atau genre lain tapi ada sepotong adegan menyangkut soal agama – dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat.

Meskipun sudah ada Lembaga Sensor Film (LSF), kelompok-kelompok itu tak peduli jika film yang diloloskan LSF tak sesuai dengan paham dan selera mereka. Mereka mencaci-maki film-film yang tak sepaham dan bahkan juga bernada mengintimidasi dengan kedok demonstrasi. Sehingga, seringkali film yang sudah lulus sensor menjadi batal tayang karena desakan dari kelompok tertentu.

Sekali lagi, tulisan ini bukan hanya pesan untuk para sineas. Peringatan 76 tahun kemerdekaan Indonesia seharusnya menjadi pengingat bahwa kebebasan itu penting bagi setiap individu. Kebebasan diperlukan untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Maka, kita harus saling mendukung terhadap kebebasan tersebut, dan bukan saling menjatuhkan.

Click to comment

Ada beberapa peristiwa yang menempatkan karya-karya street art sebagai sesuatu yang patut dianggap serius. Ada beberapa peristiwa yang menempatkan karya-karya street art sebagai sesuatu yang patut dianggap serius.

Sejarah Street Art Melalui Beberapa Momen Penting

Culture

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Culture

Mahaputra Vito Mahaputra Vito

Mahaputra Vito: Visual Artist yang Tak Pernah Membatasi Medium Eksplorasi

Culture

Lika-Liku Seni Mural Jalanan Lika-Liku Seni Mural Jalanan

Lika-Liku Seni Mural Jalanan

Culture

Advertisement
Connect