Connect with us
Analog Squad Review
Netflix

TV

Analog Squad Review: Kebohongan yang Pelik & Makna Keluarga

Ketika kebohongan menyebabkan situasi yang rumit, namun mengajak kita memahami arti keluarga yang sesungguhnya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Analog Squad” merupakan serial Thailand Netflix Original bergenre komedi drama keluarga. Dibintangi oleh Nopachai Chaiyanam (Hunger) sebagai Pond, karena ayahnya sakit, ia pulang kampung setelah bertahun-tahun meninggalkan orang tuanya.

Tak ingin dianggap memiliki kehidupan yang gagal, ia pun menyewa mantan kekasihnya Lily (Namfon Kullanut) untuk berpura-pura menjadi istrinya. Ia juga menyewa dua anak muda, Bung (Wipawee Patnasiri) dan Keg (Kritsanapoom Pibulsonggram) untuk menjadi anaknya dengan karir sukses.

Konsep menyewa keluarga mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Terutama melihat fenomena agensi resmi di Jepang dengan jasa penyewaan keluarga palsu. Namun “Analog Squad” berlatar di Thailand menjelang momen tahun baru 2000. Skenario menyewa keluarga palsu dalam serial ini akan berbeda dari asumsi kita.

Serial dengan tema komedi tragedi ini juga mengandung eksplorasi makna keluarga yang tidak konvensional. Latar waktunya menjelang momen tahun baru juga menjadi nuansa yang immersive sebagai serial rilisan Desember 2023.

Analog Squad

Ketika Semua Orang Berbohong untuk Membuat Orang Lain Bahagia

Konflik utama yang mendominasi skenario “Analog Squad” adalah lingkaran kebohongan yang pelik. Tak hanya tentang Pond yang menyewa keluarga palsu, karakter-karakter lainnya juga memiliki masalah pribadi yang mengekspos bagaimana mudah sekali untuk orang berbohong demi membuat orang lain bahagia. Namun ada pula kebohongan egois yang juga demi melindungi diri sendiri. Pond adalah karakter dengan penulisan yang konsisten meski secara moral bukan contoh yang benar. Ia keras kepala dan terlihat kuat, padahal pengecut dan selalu lari dari masalah.

Dari skenario sepanjang episode, menunjukan bagaimana sekalinya orang berbohong, akan timbul kebohongan-kebohongan lainnya. Meski terdengar pelik dan bikin frustrasi, “Analog Squad” memiliki presentasi cerita yang memikat untuk kita penasaran dengan nasib masing-masing karakternya. Bagaimana mereka semua nantinya mengatasi masalah kehidupan mereka, namun plot utama tentang kebohongan Pond dan keluarga sewaannya menjadi wahana yang pas untuk menyatukan setiap karakter.

Analog Squad

Estetika Y2K dan Nostalgia Era 2000an

Buat yang familiar dengan estetika 90an akhir hingga 2000an awal, “Analog Squad” mengandung banyak elemen yang akan membuat kita nostalgia. Salah satu latar yang paling menarik adalah tempat kerja Keg yang seorang operator pesan untu pager.

Momen komunikasi via telepon dalam serial ini menjadi tontonan yang terlihat seru. Apalagi dengan situasi-situasi urgent dalam beberapa episode, karakter hanya bisa berkomunikasi dengan mengirim pesan pager atau telepon umum dengan uang koin.

Kemudian memperlihatkan tren peliharaan dengan Tamagochi, konsol Game Boy, hingga tempat penyewaan CD film yang menjadi tempat kerja Bung. Mulai dari latar lokasi, tata rias, pilihan busana, dan arahan sinematografi “Analog Squad” berhasil sajikan era menjelang 2000an yang terlihat otentik. Kalau lagu-lagunya mungkin hanya untuk orang Thailand yang memahami referensi tren pada masanya. Namun tetap mendukung presentasi secara keseluruhan meski buat kita yang tak familiar dengan musik Thailand. Serial ini benar-benar dikemas dengan visual yang vibrant dan playful.

Serial Feel-Good dengan Chemistry Para Aktor yang Berkesan

Meski skenarionya mengandung masalah-masalah keluarga yang bikin pusing, “Analog Squad” termasuk serial drama keluarga yang ringan untuk ditonton. Bukan tujuan penulis naskah untuk membuat penonton frustrasi. Melalui arahannya, setiap elemen diberikan presentasi yang mengundang daripada membuat kita mengadali setiap karakternya, bahkan Pond yang bisa jadi karakter paling menyebalkan dalam skenario ini.

Pada akhirnya, kita akan dibuat jatuh hati dengan semua karakter dan menyayangkan, seandainya saja mereka memang keluarga sungguhan. Interaksi Bung dan Keg menjadi salah satu interaksi yang paling seru disimak. Kelucuan selalu muncul ketika keduanya berdebat maupun sedang bersenang-senang. Mereka juga menjadi duo yang selalu mendukung satu sama lain dalam menghadapi berbagai masalah.

Ayah dan ibu Pond juga menjadi sosok orang tua yang kehadirnya selalu bikin hangat. Pesan-pesan yang mereka sampaikan juga memberikan pelajaran bagai setiap karakter, sekaligus kita sebagai penonton. Tentu saja ada banyak plot twist dan konflik yang bermunculan sepanjang episode, namun tidak akan yang membuat penonton frustrasi. Jika ada reaksi yang akan muncul ketika menonton serial ini, kita lebih banyak dibuat tertawa, terharu, dan pada akhirnya merasakan kehangatan dari interaksi setiap keluarga dalam serial ini, baik yang palsu maupun keluarga yang asli.

“Analog Squad” bisa menjadi tontonan sempurna menemani momen tahun baru. Rasanya spesial bagaimana semangat tahun baru vibe-nya kurang lebih sama meskipun dari era yang jauh berbeda. Dengan presentasinya yang menghibur, memberikan pelajaran, dan positif, “Analog Squad” hendak mengajak kita refleksi diri kemudian menyambut masa depan dengan optimisme tanpa dendam atau luka batin. Semangat yang sudah sepatutnya diingat setiap kali menyambut tahun yang baru.

The Boys Season 3 The Boys Season 3

5 Hal Yang Patut Dinantikan dari “The Boys” Season 4

Cultura Lists

Rekomendasi Tayangan Terbaru Netflix Indonesia Juni 2024

Cultura Lists

Rekomendasi Film & Serial Prime Video Juni 2024

Cultura Lists

A Town Without Seasons Review: Suka Duka Warga Hunian Sementara yang Eksentrik

TV

Connect