Connect with us
HANAGATAMI (2017)
HANAGATAMI (Cr. Film Partners/PSC2017)

Cultura Lists

10 Rekomendasi Film JFF 2023

JFF 2023 menjadi pintu gerbang mengenal sutradara dan film-film yang terinspirasi dari berbagai daerah di Jepang.

JFF+ Independent Cinema 2023 kembali dengan tema ‘Step into Japan’. Lineup tahun ini diisi dengan film fiksi dan dokumenter yang menampilkan pesona daerah rural Jepang yang mungkin tidak familiar bagi kita.

Tak hanya tentang warisan budaya, pesona alam, atau narasi yang secara spesifik tentang daerahnya, secara menarik film-film juga memuat cerita fiksi dramatis yang juga artistik. Tema JFF tahun ini akan menjadi kesempatan yang sayang untuk dilewatkan cinephile Indonesia.

Selain bisa menjadi tontonan yang menghibur, banyak film akan sangat menginspirasi sineas lokal untuk mengadaptasi pendekatan yang sama dalam filmmaking. Berkreasi dan mengulik potensi daerah di Indonesia sebagai latar film yang otentik, sentimental, namun tetap komersil dan memiliki unsur hiburan. Berikut sederet film pilihan dari lineup JFF 2023 yang patut ditonton. Masih ada waktu sampai 31 Oktober mendatang untuk segera di-streaming!

Lonely Glory (2022)

“Lonely Glory” merupakan film drama keluarga. Menceritakan empat bersaudara yang mendiskusikan masa depan properti dan toko peninggalan kedua orang tua mereka. Haruka, sebagai saudara termuda, namun memiliki ambisi yang paling besar untuk melanjutkan kehidupan.

Plot secara keseluruhan akan fokus dengan usaha Haruka dalam menyakinkan ketiga kakaknya untuk menjual properti tersebut, kemudian membagi hasilnya. Haruka sangat bertekad menjual karena ingin menggunakan uangnya untuk memulai bisnis pasca dipaksa mengundurkan diri dari tempat kerja sebelumnya.

“Lonely Glory” menjadi balada warisan yang otentik dan tidak dramatis. Memperlihatkan interaksi antara saudara yang sebetulnya tidak terlalu akrab satu sama lain. Meski sebetulnya saling peduli dengan kelanjutan hidup masing-masing. Film ini juga hendak menunjukan latar toko kelontong di rural Jepang, serta perannya bagi keluarga pemilik maupun warga sekitar.

A Girl in My Room (2022)

“A Girl in My Room” merupakan film horor komedi yang berlokasi di Onomichi. Bercerita tentang pemuda yang barusan putus, disusul dengan kekasih yang akhirnya pindah. Meninggalkannya sendiri di apartemen yang ternyata di hantui oleh arwah perempuan muda cantik. Pemuda yang telah mengeksplorasi adulthood dan arwah perempuan yang mati sebelum menikmati masa dewasa, menciptakan interaksi yang unik dan sentimental.

Meskipun kenangan yang diciptakan dalam film ini bersifat personal. Kita bisa melihat hal-hal sederhana yang khas di Onomichi dari kenangan yang diciptakan kedua karakternya. Mulai dari pemandangan kota yang indah dari tempat tinggal mereka, bioskop lokal, hingga kedai makanan tersembunyi yang enak di kota tersebut.

Follow the Light (2021)

“Follow the Light” merupakan film drama sci-fi berlatar di area rural bernama Akita, merupakan kampung halaman dari sutrdaranya. Menceritakan Akira, remaja Tokyo yang pindah ke kampung halaman ayahnya setelah gagal menjadi musisi dan akhirnya bercerai. Mengira dirinya akan sulit beradaptasi, Akira mulai membaur ketika terlibat dalam persiapan upacara penutupan sekolah dan gadis bernama Maki.

Selain drama coming of age dan sentuhan sci-fi yang ringan, “Follow the Light” mengangkat isu penurunan sumber daya di Akita sebagai latar lokasi. Dikisahkan banyak bisnis gulung tikar, hasil panen menurun, hingga sekolak lokal yang tutup karena tak memenuhi kuota murid baru. Kemudian dipadukan dengan masalah pribadi dari setiap karakter yang bersingungan dengan tempat tinggal mereka tersebut.

Techno Brothers (2023)

Kalau film yang satu ini jadi salah satu yang unik, “Techno Brothers” adalah film arthouse dari sutradara Watanabe Hirobumi yang juga menjadi salah satu aktor dalam film ini. Bercerita tentang unit techno bernama Techno Brothers, bersama dengan manajernya, Himuro. Bersama-sama mereka hendak menuju Tokyo untuk memulai karir mereka, karena orang-orang di tempat asal mereka tidak memahami musik mereka. Namun selalu ada halangan yang membuat mereka terjebak di kota asal mereka, Otawara.

“Techno Brothers” terinspirasi oleh “The Blues Brothers” dan unit tekno Jerman, Kraftwerk. Film ini sangat sureal dan mengadaptasi humor offbeat yang eksentrik. Intisari dari film adalah bagaimana unit ini berusaha membuat orang paham dengan musik mereka.

Baik penonton akhirnya menyukai film ini atau sebaliknya ikutan tidak paham dan bosan sepanjang film, “Techno Brothers” tetap menjadi film dengan pesan yang tersampaikan poinnya.

Bachiranun (2021)

“Bachiranun” merupakan film docu-fiction tentang pulau Yonaguni yang menjadi kampung halaman sutradaranya, Higashimori Aika. Dipadukan dengan narasi dan footage berdasarkan narasumber asli, serta dibawakan dengan bahasa daerah Yonaguni, Aika juga memadukan dengan visualisasi fiksi yang dreamy dan memikat sebagai variasi. Judul dari film ini adalah bahasa Yonaguni yang berarti ‘aku tidak akan pernah melupakan’, menjadi surat cinta dari sutradara sekaligus menghimbau unuk tidak melupakan warisan budaya pulau Yonaguni di Jepang.

Secara keseluruhan, “Bachiranun” terlihat sebagai kenangan dan fragmen memori dari sang sutradara akan kampung halamannya. Dimana ada mimpi, intepretasi, dan informasi nyata. Ini bisa jadi inspirasi yang menarik untuk sineas muda Indonesia. Bisa jadi membuat film yang mengangkat warisan budaya daerah pelosokm, namun dalam kemasan yang fresh.

A Muse Never Drowns (2022)

“A Muse Never Drowns” bercerita tentang Sasuko yang hendak berhenti melukis. Setelah insiden dalam kegiatan sekolah, Sasuko malah menjadi sumber inspirasi dari murid berbakat, Saibara, yang akhirnya memenangkan penghargaan untuk lukisannya. Kalau film drama ini lebih kental dengan nuansa coming of age, penemuan jati diri dan minat, serta kenangan masa kecil.

Terutama melalui perspektif Sasuko, kita akan memahami rasa frustasi ketika sedang buntu inspirasi karena perubahan dalam kehidupan. “A Muse Never Drowns” bisa jadi tontonan ringan yang membangkitkan semangat buat kita yang sedang mengalami mind block.

Hey! Our Dear Don-chan (2022)

Berlatar di Ueda, Michio, Gunji dan Enoken adalah tiga aktor yang berbagi rumah. Suatu hari, ia menemukan bayi perempuan yang ditinggalkan oleh mantan Michio. Mereka menamainya Don-chan, kemudian merawatnya bersama lepas dari kesulitan dalam hidup mereka sendiri. Film ini menjadi yang spesial bagi sutrdara Okita Shuichi, dimana ia mengabadikan putrinya sendiri sebagai Don-chan dalam film ini sejak ia berusia 6 bulan selama 3 tahun.

“Hey! Our Dear Don-chan” menjadi film drama yang heartwarming. Menjadi tipikal drama slice of life yang menjadi kekuatan sinema Jepang. Ini menjadi salah satu yang terbaik dan worth to watch dengan durasi kurang lebih 2 jam.

And Your Bird Can Sing (2018)

“And Your Bird Can Sing” merupakan film drama percintaan dalam lineup JFF 2023. Meskipun film sutradara Miyake Sho ini merupakan produksi 2018. Hadirkan kisah cinta tak biasa antara ‘me’, Sachiko, dan Shizuo. Dengan film berlatar di Hakodate, kita akan melihat ketiga karakter bekerja, sekaligus hangout bertiga di malam hari; mengunjungi club setempat, minum-minuman, sekedar menemani satu sama lain. Dengan cinta di dalamnya, namun tanpa komitmen dan larangan yang mengikat.

Naskah film ini diangkat dari novel karya Sato Yasushi. Dimana sebetulnya berlatar di Tokyo, yang kemudian diganti sebagai kesempatan meng-highlight kehidupan pemuda pemudi di Hakodate.

TENZO (2019)

“TENZO” merupakan film dokumenter yang mengeksplorasi keberadaan ajaran agama Buddha setelah peristiwa 3.11, gempa bumi terbesar yang melanda Jepang di sekitar Dogen Zenji. Film mengikuti dua biksu muda, Ryugyo dan Chiken.

Ryugyo tinggal di Yamanashi bersama keluarganya, menyediakan jasa konseling, menjadi instruktur yoga, dan mengajar masakan vegan ala ajaran Buddha. Sementara Chiken kehilangan kuil, keluarga dan pengikutnya setelah tsunami di Fukushima. “TENZO” hendak menyajikan kontempletasi kepercayaan melalui pengalaman kedua biksu pasca tragedi. Dimana pada akhirnya menghadirkan oenyatuan antara elemen fiksi dan dokumenter yang unik.

HANAGATAMI (2017)

Satu lagi film dengan presentasi unik di JFF 2023 adalah “HANAGATAMI”. Berlatar pada musim semi 1941, kita akan mengikuti remaja 17 tahun, Toshihiko yang mencari tempat mengungsi bersama dengan bibinya di Karatsu. Ia menghabiskan waktunya hari-hari bersama Ukai, Kira, dan Aso, teman sekelasnya, berpetualang dan menguji keberanian mereka.

Ia juga melabukan perasaannya pada Mina, sepupunya, ia juga menjalin hubungan yang membuatnya bersemangat dengan dua teman perempuannya, Akine dan Chitose. Melalui “HANAGATAMI” merupakan film drama yang hendak meng-highlight kehidupan remaja di Karatsu pada masa perang.

No More Bets No More Bets

No More Bets: Kisah Korban Penipuan dan Judi Online

Film

The Day Before the Wedding The Day Before the Wedding

The Day Before the Wedding: Balada Persahabatan Cosplayer Pengantin

Film

Arthur the King Arthur the King

Arthur the King: Cukup Menyentuh Walau Klise

Film

Lost in Translation & Her: Kesepian dan Perpisahan dari Dua Perspektif

Film

Connect