Connect with us
The Hives: The Death of Randy Fitzsimmons
Cr. Ebru Yildiz

Music

The Hives: The Death of Randy Fitzsimmons Album Review

The Hives kembali setelah 11 tahun, masih dengan semangat garage punk rock yang kita rindukan selama ini.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Sudah 25 tahun semenjak The Hives meledak di skena musik dunia dengan album pertama mereka “Barely Legal” pada 1997. Sepanjang masa ini, unit rock asal Swedia ini telah keliling dunia, tak pernah gagal membuat penikmat musik revival punk berdendang dengan musik khas mereka yang selalu memancarkan kecerian serta semangat pemberontakan.

Namun setelah satu dekade hiatus, The Hives kembali dengan album terbaru 2023 ini, “The Death of Randy Fitzsimmons”. ‘Randy Fitzsimmons’ menjadi sosok fiksi misterius, disebut sebagai ‘member kehormatan keenam’ dari The Hives (yang kita ketahui selama ini hanya branggotakan lima personil). Dimana ia bertindak sebagai manajer dan penulis lagu dari lagu-lagu The Hives selama ini.

Ketika banyak band dari era 90an sampai 2000an yang baru-baru ini kembali, memperdengarkan materi dan gaya bermusik yang berbeda, Howlin’ Pelle Almqvist bersama personil lainnya masih tampil sama persis dengan The Hives yang selama ini kita kenal.

The Gist:

“The Death of Randy Fitzsimmons” menandai kembalinya unit ini dalam skena musik rock yang dinamis. Setiap lagu yang diperdengarkan menjadi campuran ciri khas band ini dari kekacauan yang terartur, fusion sempurna antara agresi dan kematangan bermain-main yan mengingatkan kita pada jati diri musik mereka sejak awal.

Daripada The Hives yang berusaha mengikuti zaman, kita pendengar yang ditarik kembali ke musik The Hives yang tidak mengalami perubahan (hampir sama sekali tidak ada perubahan) setelah kepergiannya yang lama. Hanya untuk mendeklarasikan mastermind misterius mereka selama ini, Randy Fitzsimmons telah meninggal.

Dari segi lirik, album ini memancarkan kecerian yang penuh keyakinan, lepas dari tema kematian dan horor yang dipilih. Daripada perjalanan nostalgia yang meredup, album ini menjadi perayaan kekacauan masa muda.

Lagu-lagu seperti ‘Crash Into The Weekend’ dan ‘The Bomb’ adalah kilasan kegilaan remaja yang berapi-api, menjadi kerinduan yang tak terpuaskan terhadap kenakalan yang terbatas. Namun adapula track seperti ‘What Did I Ever Do To You?’ menyelami tema yang lebih dalam, menggambarkan kemerosotan hubungan dan kehampaan.

Sound Vibes:

“The Death of Randy Fitzsimmons” masih mengusung genre yang membesarkan The Hives selama dua dekade ini, garage rock, punk, dengan polesan revival yang membuat band ini paling menonjol dalam skenanya. Kita akan masih mendengar track-track dengan cita rasa ‘Walk Idiot Walk’, ‘Come On’, I Hate to Say I Told You So’ dan track-track punk garage catchy yang tak pernah gagal membuat kita melompat seirima. Dengan sedikit eksperimen pada track tertentu, dimana tidak terlalu mendominasi tracklist.

Tracklist album mengalir lancar, dengan setiap track terdengar menyatu dengan track berikutnya, menyulut semangat punk yang membara sepanjang rekaman. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yang membedakan The Hives dengan band garage dan punk lainnya adalah kemampuan mereka untuk mempresentasikan kekacauan yang terstruktur, menghasilkan lagu-lagu yang catchy dan mengundang pendengarnya. Kekuatan itu masih dipegang oleh unit ini.

Best Tracks:

‘Bogus Operandi’ menjadi track pembuka yang percaya diri memperdengarka musik The Hives yang tidak berubah, track ini menjadi single yang menyambut dan dicintai oleh penggemar. Semangat terpancar melalui ‘Bogus Operandi’, menandai nada untuk kelanjutan tracklist, memperdengarkan komposisi khas The Hives antara punk dan garage rock. Dengan melodi yang tak tertolak dan vokal Almqvist yang masih terdengar sama seperti terakhir kali kita mendengarnya; masih mampu berteriak lantang dan bersemangat.

‘Countdown to Shutdown’ juga menjadi single dari album ini yang lantang dan nge-groove. Terutama karena bassline dari The Jonah and Only yang kali ini menjadi bintang utama dalam aransemen musik.

Melalui media kita mengetahui bahwa The Hives dan Arctic Monkeys kerap tampil bersama dalam tour. Menimbulkan asumsi bahwa ‘What Did I Ever Do To You?’ sepertinya terinspirasi dari ‘Do I Wanna Know?’. Karena track ini menjadi satu-satunya yang lirik dan arahan musiknya berbeda dengan lagu-lagu lainnya. Riff gitar yang diperdengarkan juga terdengar cukup serupa dengan hits Arctic Monkeys tersebut. Bukan yang terbaik dalam album ini, namun terlalu disticnt dan menarik untuk kita lewatkan begitu saja.

Mungkin hanya The Hives yang mampu membuat track punk pendek hanya untuk kita memohon lebih. ‘The Bomb’ dan ‘Step Out Of The Way’ menjadi dua track pendek yang meledak, penuh semangat, dan catchy. Memiliki pesona yang serupa dengan ‘Come on!’ dan ‘Dead Quote Olympics’.

The Hives mengklaim bahwa lagu-lagu dalam “The Death of Randy Fitzsimmons’ ditemukan dalam peti mati kosong, mengikuti rician yang ditemukan dalam obituari manajer mereka, Fitzsimmons yang misterius. Setelah absen selama 11 tahun, The Hives bergegas kembali ke studio dengan gaya kacau ala mereka.

Ini saatnya generasi muda (dan penggemar lama) kembali menikmati dosis besar dari musik klasik The Hives, penuh gairah, kecerian, bahkan personil The Hives masih tampil lengkap dengan setelan jas khas mereka. Dimana ini menjadi bentuk dari tribute Randy Fitzsimmons yang sempurna. Bagi kita yang merindukan pesta garage punk bebas hambatan, “The Death of Randy Fitzsimmons” merupakan pemakaman sekaligus perayaan punk rock yang mengundang pendengarnya.

Declan McKenna: What Happened to the Beach? Declan McKenna: What Happened to the Beach?

Declan McKenna: What Happened to the Beach? Album Review

Music

Ariana Grande: Eternal Sunshine Ariana Grande: Eternal Sunshine

Ariana Grande: Eternal Sunshine Album Review

Music

Java Jazz Festival 2024: Embracing Unity Through Music

Entertainment

Green Day: Saviors Album Review

Music

Connect