Quantcast
Picture Parlour – The Parlour: Pintu Masuk ke Dunia Rock Baru yang Penuh Imajinasi - Cultura
Connect with us
The Housemaid Korea
Picture Parlour – The Parlour
Photo Cr. Melissa

Music

Picture Parlour – The Parlour: Pintu Masuk ke Dunia Rock Baru yang Penuh Imajinasi

Debut yang mengundang pendengar memasuki ruang surrealitas emosional dengan rock, nostalgia, dan sinematografi musik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Saat Picture Parlour merilis album debut mereka ‘The Parlour’ pada 14 November 2025, ekspektasi sudah terbangun sejak single-single awal seperti “Cielo Drive”, “Who’s There To Love Without You?”, dan “Talk About It”. Album ini terasa seperti undangan menuju “ruang rahasia”—sebuah dunia imajinatif di mana band mencampurkan rock ’70-an, Northern Soul, glam, dan folk-rock dengan estetika sinematik. Perpaduan itu menjadikan The Parlour bukan sekadar koleksi lagu, melainkan narasi emosional yang kaya nuansa.

Suara, Gaya, dan Atmosfer: “The Parlour” sebagai Dunia Tersendiri

Dari detik pertama, album ini membuka pintu dengan “Cielo Drive”—sebuah ledakan rock yang kasar, penuh distorsi gitar kasar, dan vokal khas Katherine Parlour yang melaju dengan intensitas tinggi. Track ini menunjukkan bahwa band ini tak ragu menarik garis ke glam rock, T. Rex, atau Patti Smith dalam hal energi, groove, dan attitude.

Melanjut ke “24 Hr Open”, band memperlihatkan sisi lebih gelap dan introspektif. Lagu ini membawa suasana muram dan penuh nostalgia, merefleksikan kerinduan terhadap momen-momen sederhana dalam kehidupan—sebuah pendekatan emosional yang kontras dengan gemerlap rock pada track sebelumnya.

Sementara itu, “Used To Be Your Girlfriend” menyajikan psychedelia rock dengan lirik yang melankolis dan relatable soal patah hati, eks-cinta, dan rasa kehilangan. Gitar jangly, sentuhan keys halus, dan vokal lembut membalut tema pahit-manis nostalgia cinta. Ini adalah salah satu titik paling manusiawi dalam album dan sekaligus paling mudah dirasakan.

Di sisi lain, lagu seperti “Talk About It” dan “Who’s There To Love Without You?” menunjukkan sisi band yang lebih garang, lugas, dan penuh sikap. Gitar kasar, drumming tegas, dan vokal dengan attitude menyerukan semacam pemberontakan emosional—menolak diam, menolak diabaikan.

Album ini tidak takut bergerak dari glam rock ke folk-rock, dari nostalgia ballad ke fleksibilitas punk-rock. Semuanya dibalut dengan produksi yang terasa organik tapi tetap modern—seolah band membawa masa lalu ke masa sekarang tanpa kehilangan daya tarik.

Tema, Lirik, dan Imajinasi: The Parlour sebagai Kisah & Ruang Emosional

Menurut band sendiri, “The Parlour” adalah sebuah ruang metaforis—sebuah dunia di mana mereka “bersembunyi” dari sorotan publik, mengolah pengalaman hidup, trauma, nostalgia, dan ketidakpastian menjadi musik.

Hal ini tercermin kuat di lagu penutup album, The Travelling Show. Dengan aransemen piano-led yang muram dan vokal penuh kesedihan serta kerinduan, lagu ini menangkap konflik batin sang vokalis terhadap kampung halaman—rasa cinta dan benci pada tempat di mana semua kenangan kelam dan manis bertaut. “The Travelling Show” menutup album dengan rasa bahwa perjalanan emosional ini belum berakhir, kita hanyalah pengunjung di The Parlour.

Selain itu, lirik-lirik mereka acap menyentuh problem universal: patah hati, kehilangan, perjalanan personal, eksistensi, dan pencarian jati diri. Tapi disampaikan dengan gaya teatrikal, kadang penuh ironis, kadang raw, kadang melankolis, membuat album ini terasa lebih dari sekadar playlist, tapi seperti film pendek yang bisa kamu dengar.

Struktur Album & Dinamika — Kekuatan Jukebox Emosional

Salah satu kekuatan terbesar “The Parlour” adalah struktur album yang terasa seperti jukebox: berbagai mood, genre, dan warna musik dilebur dalam satu LP tanpa terasa kacau. Ada rock kasar, glam, psychedelia, ballad melankolis, punk-tinged anthem, hingga folk rock yang introspektif. Tapi tetap terasa koheren berkat karakter vokal, lirik, serta estetika produksi yang konsisten.

Produksi yang dilakukan di Nashville bersama produser Gabe Simon membawa elemen rock klasik Amerika ke dalam DNA Inggris band ini, sebuah kombinasi yang efektif, memberi album lapisan nostalgia dan global appeal.

Album ini berdurasi cukup padat, tapi tidak terasa berat karena setiap lagu menghadirkan energi dan cerita berbeda. Pendengar diajak naik turun suasana dari semangat, nostalgia, kemarahan, lalu kesedihan tapi tetap dalam satu dunia yang terasa nyata dan bisa dibayangkan: The Parlour.

Catatan dan Area untuk Disimak

Kalau ada kekurangan, mungkin album ini menyimpan begitu banyak warna sehingga pendengar butuh waktu untuk menyesuaikan diri terutama jika biasanya menikmati album dengan satu mood konsisten. Kemampuan band menyeimbangkan banyak genre bisa membuat album terasa sedikit “all over the place” bagi penikmat rock konvensional, meskipun bagi mereka yang menikmati eksplorasi, hal ini justru menjadi nilai lebih.

Selain itu, sebagai debut, ada beberapa momen di mana aransemen terasa sedikit terlalu padat, banyak instrumen, banyak ide, bisa membuat beberapa lagu terasa “berdesakan”. Namun, ini bisa dipandang sebagai bagian dari karakter band yang berani bereksperimen.

“The Parlour” dari Picture Parlour bukan sekadar debut album: ini adalah deklarasi estetika, manifesto musikal, dan perjalanan emosional yang imersif. Album ini menunjukkan keberanian band untuk mengeksplorasi genre, menulis narasi personal, dan menciptakan dunia musik mereka sendiri, sebuah ruang di mana nostalgia, kesedihan, pemberontakan, dan kerinduan bisa hidup bersama.

Bagi pendengar yang mencari rock dengan jiwa, bukan sekadar riff atau beat, “The Parlour” adalah pembuka pintu ke sebuah dunia yang gelap, berkilau, dan memikat.

Michael Jackson – Dangerous: Ambisi Pop yang Menentukan Masa Depan Musik Global

Music

Lorde Virgin Lorde Virgin

Lorde ‘Virgin’ Album Review: Pengakuan Diri yang Sunyi dan Penuh Luka

Music

Thriller’ Returns to the Top 10: Michael Jackson Breaks a Six-Decade Record Thriller’ Returns to the Top 10: Michael Jackson Breaks a Six-Decade Record

‘Thriller’ Returns to the Top 10: Michael Jackson Breaks a Six-Decade Record

Music

Grammy 2026 – Snubs & Surprises Grammy 2026 – Snubs & Surprises

Grammy 2026 – Snubs & Surprises

Entertainment

Advertisement Drip Bag Coffee
Connect