Connect with us
The First Omen
Cr. Moris Puccio/20th Century Studios

Film

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Prekuel The Omen mengeksplorasi penciptaan antichrist yang brutal.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The First Omen” merupakan perkuel dari film horror religi yang sebelumnya sudah popular, “The Omen”. Baik “The Omen” yang rilis pada 1976 maupun versi 2006, premisnya serupa, yaitu anak utusan iblis yang lebih dikenal sebagai Antichrist, diberi nama Damien.

Kehadiran Damien di dunia telah rencanakan demi mengubah dunia untuk kehancuran umat manusia dengan harga pembaharuan peradaban manusia ke arah yang lebih baik. Jika instalasi originalnya lebih fokus pada Damien yang telah lahir ke dunia, film debut sutradara Arkasha Stevenson ini lebih mengeksplorasi awal mula penciptaan dan konspirasi untuk menghadirkan Antichrist ke dunia.

Dibintangi oleh Nell Tiger Free sebagai Margaret, biarawati muda asal Amerika yang tiba di Roma pada 1971. Margaret mulai mempertanyakan kepercayaannya ketika berbagai hal janggal mulai terjadi, menuju konspirasi untuk menghadirkan kekuatan jahat ke dunia.

Dengan popularitas film horror religi dengan biarawati sebagai protagonis di Hollywood belakangan, “The First Omen” tampak serupa dengan “Immaculate” dibintangi oleh Sydney Sweeney yang rilis terlebih dahulu. Sebagai prekuel dari film horor, ekspektasi kita juga mungkin tidak terlalu tinggi, namun “The First Omen” menyajikan film horor yang bisa jadi berbeda dengan ekspektasi umum di skena film horor ini.

The First Omen

Eksplorasi Horor Religi Brutal dan Sadis

“The First Omen” merupakan film horor yang menghadirkan kengerian melalui trik-trik horor klasik. Seperti jumpscare, baik dari penampakan tau interupsi dari karakter lain di tengah adegan menegangkan dengan antisipasi akan jumpscare. Namun trik tersebut tidak terus diulang seiring berjalannya film.

Seiring plot semakin intens, elemen splatter dan body horror mulai hadir untuk membuat penonton trauma. Mulai dari insiden sadis, persalinan yang traumatis, hingga adegan ritual.

Beberapa adegan mungkin bisa cukup triggering untuk penonton. Namun lepas dari elemen sadis dan brutalnya, adegan-adegan tersebut tidak sekedar dieksploitasi untuk shock value. Adegan brutal yang dihadirkan beriringan dengan plot yang memiliki kedalaman cerita juga.

Konsep tentang konspirasi Antichrist sendiri yang menjadi jantung dari kisah ini juga cukup gelap sebagai sumber kengerian. Menimbulkan diskusi yang bisa menarik sekaligus kontroversial dan menantang moralitas kepercayaan.

Sinematografi Artistik dan Produksi Film Horor Maksimal

Di tengah berbagai rilisan film horor remake, spin off, hingga prekuel dari instalasi klasik, kebanyakan dari kita mungkin tidak memiliki ekspektasi terlalu tinggi untuk film ini. Namun setelah melihat kualitas sinematografi dan produksinya secara keseluruhan, “The First Omen” adalah film horor yang terlihat mahal. Dibandingkan dengan instalasi orisinalnya, sutradara Stevenson terlihat memiliki visinya sendiri untuk mewujudkan prekuel ini. Terutama untuk visi visualnya dan ambience yang dibangkitkan.

“The First Omen” memiliki sinematografi yang artistik dengan kebrutalannya. Mengikuti tren visual horor artistik yang sedang populer beberapa tahun belakangan. Bisa bersanding dengan film horor A24 seperti “Midsommar” (2019) hingga “Saint Maud” (2019). Beberapa adegan memang sangat sadis, namun tidak terasa berantakan seperti film horor murahan yang berusaha terlalu keras untuk terlihat brutal.

Produksi latar Roma pada 1976 terlihat detail, mahal, dan otentik dalam film ini. Perpaduan sinematografi dan musik latar oleh Mark Korven juga menjadi bagian dari kemasan berkualitas untuk film ini.

Penampilan Nell Tiger Free sebagai Protagonis yang Berkesan

Aktris maupun aktor horor merupakan penampilan yang seringkali luput dari apresiasi. Nell Tiger Free baru saja bergabung dalam jajaran penampilan protagonis perempuan terbaik dalam film horor tahun ini sebagai Margaret dalam film ini. “The First Omen” sendiri memiliki naskah yang memberikan cukup materi untuk aktris utamanya mengeksplorasi karakter dan aktingnya. Tiger Free melalui rollercoaster emosi yang beragam sepanjang film.

Diawali dengan presentasi yang cukup generik, sebagai biarawati baik hati dan lugu. Kemudian bertransformasi sebagai protagonis dalam film horor yang berusaha mengungkap misteri, memaksa dirinya untuk mulai berani menentang hierarki, demi mendapatkan kebenaran. Hingga akhirnya mengalami turbulensi emosional dalam situasi yang membuat gila dalam ketidaknyamanannya. Tiger Free berhasil membawa penonton untuk merasakan teror psikologi dan emosi yang ia alami sepanjang film.

Pada akhirnya, “The First Omen” adalah salah satu film terbaik di kolam film horor tahun ini yang tidak sedikit sesuai dengan ekspektasi kita; biasa, murahan, atau sekadar eksploitasi horor. “The First Omen” adalah film horor yang terlihat mahal secara produksi, mendukung naskahnya yang memiliki bobot dan tidak sekedar mengandalkan shock value. “The First Omen” sudah bisa di-streaming di Disney+ Hotstar.

Late Night with the Devil Late Night with the Devil

Late Night with the Devil Review: Mimpi Buruk Talk Show Tengah Malam

Film

In a Violent Nature Review In a Violent Nature Review

In a Violent Nature Review: Slasher Horror dari Sudut Pandangan Pembunuh

Film

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Connect