Connect with us
The Fall of the House of Usher
Cr. Eike Schroter/Netflix

TV

The Fall of the House of Usher Review: Horor Yang Liar dan Brutal

Karya horor paling liar dan brutal dari Mike Flanagan sejauh ini.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Fall of the House of Usher” (House of Usher) merupakan serial horor terbaru Netflix dari Mike Flanagan. Ini menjadi serial terakhirnya di platform tersebut setelah rilisan-rilisan horor terbaiknya seperti “The Haunting of Hill House”, “The Haunting of Bly Manor”, “Midnight Mass”, dan “The Midnight Club”.

Kali ini Flanagan mengadaptasi cerita pendek karya Edgar Allan Poe dengan modifikasi modern. Keluarga Usher bergelimang harta berkat perusahaan farmasi sukses diatas kekuasaan Roderick Usher (Bruce Greenwood) sebagai CEO bersama saudara kembarnya, Madeline Usher (Mary McDonnell). Roderick memiliki enam anak dari lima istri berbeda; Frederick (Henry Thomas), Tamerlane (Samantha Sloyan), Victorine (T’Nia Miller), Camille (Kate Siegel), Napoleon (Rahul Kohli), dan Prospero (Sauriyan Sapkota).

Namun untuk keluarga Usher, keberuntungan duniawi datang dengan konsekuensi mematikan. Apakah keluarga Usher masih bisa disebut telah menerima keberuntungan dalam kehidupan? Satu lagi karya Flanagan yang mengandung nilai moral dan filosofi, kali ini tentang keserakahan, dosa-dosa manusia, dan hukum karma.

Sejak masa promosi, “The Fall of the House of Usher” terlihat stylish dan mahal jika dibandingkan serial Mike Flanagan sebelum-sebelumnya di Netflix. Kemasan produksi yang megah ini seimbang dengan kualitas naskah sang sutradara yang masih stabil bobot dan kualitasnya.

The Fall of the House of Usher

Karya Horor Paling Liar dan Brutal dari Mike Flanagan

Serial horor Flanagan di Netflix sebelumnya lebih khas dengan eksplorasi tema berkabung, kesedihan, kepercayaan, dan makna dari kehidupan dan kematian. Materi-materi yang terpancar sebagai cerita yang emosional dan membuat penonton terharu meski dalam latar horor yang menyeramkan. ‘House of Usher’ terasa lebih gruesome dan memanifestasikan kekacauan dalam latar cerita yang lebih megah, kehidupan orang-orang di pucuk kekuasaan, dan hal-hal negatif yang mengikuti mereka. Mulai dari hawa nafsu, ketamakan, kesombongan, kecemburuan, kelicikan, dan berbagai representasi dosa dasar manusia.

“The Fall of House of Usher” menjadi karya paling liar dan brutal dari Mike Flanagan sejauh ini. Telah menjadi kejutan baru bagi para penggemar, bagaimana Flanagan ternyata juga bisa mengeksekusi splatter horror yang gore. Siapin mental saja, karena setiap episode serial ini akan ada adegan kematian yang di-build up dengan sabar dan detail sepanjang durasi episode, kemudian menghantam penonton dengan adegan klimaks setiap akhir episode. Antara membuat kita merasa tak sanggup lagi menonton lebih banyak kebrutalan, atau malah ketagihan dan tak sabar menyelesaikan siksaan ini (dalam artian yang sangat baik).

Meski dilabeli sebagai serial yang ‘liar dan brutal’, lebih banyak peringatan untuk adegan gore dan kekerasan. Sementara adegan dewasanya tidak terlalu dieksploitasi jika tidak dibutuhkan untuk memberikan konteks dalam adegan. Yang paling eksplisit untuk konten dewasa hanya episode pertama, jadi episode pembuka yang cukup ikonik dan langsung menjadi deklarasi dari Flanagan; ya, ini akan menjadi serial yang gila dan brutal.

The Fall of the House of Usher

Penampilan Sederet Aktor Terbaik dari Klub Horor Flanagan

Banyak wajah familiar dari semesta horor Mike Flanagan pastinya dalam ‘House of Usher’. Tampaknya sutradara ingin memastikan semua peran dieksekusi dengan sempurna, oleh aktor-aktor yang ia percaya. Selalu menyenangkan juga melihat aktor-aktor ini bersama Mike Flanagan terlihat seperti klub teater horor yang solid dan selalu bisa menyajikan pertunjukan yang kita rindukan.

Bedanya, beberapa karakter yang kerap tampil sebagai heorine atau protagonis yang kita jagokan, kali ini menjelma sebagai karakter-karakter dengan penokohan terburuk yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Menunjukan bagaimana aktor-aktor ini mampu menampilkan akting seperti bunglon. Mampu tampil sebagai karakter yang berbeda dan terlihat baru, meski dalam lingkungan yang terasa sama, yaitu semesta horor sang sutradara.

Carla Gugino, salah satu muse Flanagan tampil memikat sebagai sosok wanita misterius dan kharismatik bernama Verna. Penampilan pararel yang jadi highlight dalam serial ini adalah Bruce Greenwood dan Zach Gilford sebagai Roderick Usher, serta Mary McDonnell dan Willa Fitzgerald sebagai Madeline Usher. Aktor-aktor ini berbagai peran untuk versi muda dan versi tua dari masing-masing karakter, kesinambungan penampilan mereka sangat luar biasa konsistensinya. Terutama McDonnell dan Fitzgerald.

Kemudian ada Mark Hamill sebagai Arthur Pym, juga menjadi salah satu karakter dengan cerita paling tragis di akhir. Sama seperti karakter-karakter lainnya, sekalipun karakter pendukung sekalipun, yang menyaksikan jatuhnya keluarga Usher atau menjadi pekerja bayangan, juga meninggalkan kesan dalam keseluruhan cerita.

Eksekusi Berbagai Trik Horor yang Sudah Tidak Diragukan Lagi

Kredibilitas Flanagan dalam eksekusi trik horor sempat sedikit menurun pada serial sebelumnya, “The Midnight Club”. Ini menjadi momen kembalinya dengan berbagai trik dan “jebakan” baru berkesan ketika kita lengah dengan keahlian Flanagan yang sesungguhnya. Satu yang sudah disebutkan adalah elemen splatter yang sadis dan sangat grafik. Kemudian presentasi jumpscare dan foreshadowing-nya juga dirancang dengan baik sepanjang episode. Bukan plot twist, namun build up dari serangkaian petunjuk dan misteri yang ditebar sepanjang epsiode, membuat kita tak bisa beranjak untuk mengungkap kebenaran.

‘House of Usher’ juga memiliki plot flashback yang cukup rumit. Ada tiga latar waktu kunci; masa kini dimana Roderick berbicara dengan C. Auguste Dupin (Carl Lumbly), kemudian mundur ketika anak-anak Usher meninggal satu per satu, dan flashback yang lebih jauh lagi di masa lalu yaitu masa muda Roderick dan Madeline. Meski terdengar membingungkan, eksekusinya di serial termasuk rapi meskipun sangat dinamis. Karena banyak hal terjadi dan banyak informasi yang harus ditampung dalam 8 episode.

Mike Flanagan meninggalkan Netflix dengan karya penutup yang lantang, brutal, berani, seperti ini adalah kesempatan terakhirnya. Memang menjadi kesempatan terakhirnya di Netflix. Namun membuat kita akan terus mengikuti salah satu sutradara horor terbaik di era ini, dimana pun karyanya akan dirilis selanjutnya.

A Town Without Seasons Review: Suka Duka Warga Hunian Sementara yang Eksentrik

TV

Hazbin Hotel Hazbin Hotel

Hazbin Hotel Review: Balada Hotel di Neraka

TV

Monkey Man Monkey Man

Film & Serial Terbaru April 2024

Cultura Lists

Damsel Damsel

Damsel Review: Aksi Menegangkan Millie Bobby Brown Melawan Naga

Film

Connect