Connect with us
Midnight Mass Review
Netflix

TV

Midnight Mass Review: Ketika Seorang Radikal Salah Persepsi Tentang Ajaran Agama

Mengubah referensi agama Katolik menjadi materi gothic horror memikat dan mendalam.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Midnight Mass” merupakan Netflix Original Series terbaru, sekali lagi dari Mike Flanagan. Sukses dengan “The Haunting of Hill House” dan “The Haunting of Bly Manor”, Mike hendak menyuguhkan serial dengan konsep terbaru jika dibandingkan dengan dua serial sebelumnya. “Midnight Mass” semakin kental dengan nuansa gothic horror yang menjadi signature vibe dari sutradara horror favorit Netflix ini.

Berlatar di pulau kecil dengan komunitas gereja Katolik yang masih konservatif, Crockett Island, sebuah keajaiban mulai melingkupi pulau tersebut ketika seorang pendeta muda datang ke gereja St. Patrick. Pendeta Paul Hill ternyata tidak hanya membawa ‘keajaiban’ ke Crockett Island, namun ‘sesuatu’ yang lebih berkuasa untuk memberikan kehidupan kekal atau justru kutukan dan kebinasaan.

Midnight Mass Review

Sederet Karakter dengan Penokohan Kuat, Didukung dengan Penampilan Akting Berkelas

Bagi penggemar serial Mike Flanagan di Netflix, pasti sudah tidak asing lagi dengan beberapa cast dalam “Midnight Mass”, khususnya Kate Siegel dan Rahul Kohli. Dimana keduanya memiliki karisma yang ikonik sebagai aktor/aktris dalam karya sutradara ini.

Ada banyak aktor baru yang masuk dalam deretan cast dengan penampilan yang berkesan. Mulai dari Zach Gilford (sebagai Riley Flynn), Samantha Sloyan (sebagai Beverly Keane), dan Hamish Linklater (sebagai Pendeta Paul Hill).

Cukup serupa dengan serial Mike sebelumnya, “Midnight Mass” memiliki kisah yang tidak fokus pada satu karakter saja sebagai protagonis. Setiap karakter memiliki penokohan dan latar belakang masing-masing yang akhirnya membentuk sebuah komunitas otentik.

Ada Pendeta yang dipuja, wanita yang mendominasi komunitas, sheriff yang menjaga keamanan, dan berbagai penduduk dengan profesi masing-masing yang mudah dikenal dalam komunitas pulau terpencil. Tidak ada protagonis dengan plot armor, semua sama dihadapan sebuah fenomena supranatural yang mampu mempengaruhi siapapun.

Hamish Linklater berhasil memberikan penampilan yang otentik sebagai seorang pendeta Katolik. Mulai dari pembawaan, hingga unsur misterius sekaligus kengerian yang janggal berhasil Ia pancarkan melalui akting-nya. Samantha Sloyan juga berhasil menjadi “Karen”-nya Crockett Island. Ketika kita menyadari betapa menyebalkan karakter satu ini, di situlah kita akan menyadari kualitas akting dari sang aktris.

Midnight Mass Netflix

Ketika Seorang Radikal Agama Salah Menasfirkan Sabda Tuhan

Setiap episode “Midnight Mass” memiliki judul sesuai dengan injil dalam alkitab Katolik. Lebih dari sekadar estetika produksi atau gimmick dalam karya bertema gothic horror, penulis naskah tampaknya cukup memahami ideologi dasar yang dianut umat Katolik dan ayat-ayat alkitabnya. Ada cukup banyak kutipan alkitab yang menjadi materi sebuah dialog mendalam.

Kita bisa melihat interaksinya dengan Riley sebagai karakter yang tidak percaya Tuhan, ada juga Sheriff Hassan yang dalam kisah ini beragama Muslim. Ada banyak perbincangan seputar kematian, keyakinan, hingga ilmu pengetahuan yang muncul dalam serial ini.

Dengan referensi ideologi maupun ajaran agama Katolik, “Midnight Mass” tidak bermaksud menodai agama tertentu. Poin terpenting dari keseluruhan kisah dalam serial ini adalah bagaimana kengerian yang sesungguhnya dapat tercipta melalui kesalahpahaman seorang radikal akan ajaran agamanya. Pembenaran diri dan pemikiran yang sempit mampu mengarahkan seseorang pada keyakinan yang sesat, kemudian menimbulkan teror dan bencana.

Konsep Gothic Horror yang Memberikan Sentuhan Artistik pada Produksi Serial

“Midnight Mass” memiliki konsep produksi yang sangat kental dengan nuansa Katolik pada setiap aspeknya. Mulai dari komunitas gereja yang menjadi objek utama, naskah dengan referensi ayat-ayat kitab suci, hingga berbagai adegan misa yang terasa natural dan lagu-lagu pengiring ala choir gereja. “Midnight Mass” memiliki vibe yang cukup serupa dengan film “The Devil All the Time” (2020) dan “Saint Maud” (2019).

Desain lokasi dan kostum setiap karakter telah memberikan visual yang ikonik, melengkapi penokohan. Rasa terisolasi dan atmosfer yang konservatif menjadi kemasan sempurna untuk menghidupkan Crockett Island sebagai latar utama kisah.

Beberapa adegan krusial juga memiliki arahan atau storyboard yang dramatis untuk meninggalkan kesan pada penonton. Namun, dengan materi agama yang spesifik, kesan yang berbeda bisa muncul dari setiap penonton. Tergantung latar belakang keyakinan hingga ideologi pribadi.

“Midnight Mass” bisa jadi merupakan serial terbaik dari Mike Flanagan sejauh ini. Lebih dari sekadar kisah horor di sebuah pulau terpencil, naskah serial ini memiliki dialog mendalam seputar keyakinan yang menarik untuk disimak.

A World Without Review A World Without Review

A World Without Review: Dystopia Futuristik Bertema Pemberdayaan Wanita

Film

Diana The Musical Diana The Musical

Diana The Musical Review: Broadway Comedy Show yang Tak Pantas untuk Putri Diana

Film

There’s Someone Inside Your HouseThere’s Someone Inside Your House There’s Someone Inside Your HouseThere’s Someone Inside Your House

There’s Someone Inside Your House Review

Film

No One Gets Out Alive Review No One Gets Out Alive Review

No One Gets Out Alive Review

Film

Advertisement
https://www.cultura.id?_dnembed=true
Connect