Entertainment

Sutradara Perempuan di Hollywood

Melihat kiprah sutradara perempuan yang menggebrak Hollywood.

Isu yang terus bergulir sampai sekarang ini adalah sedikitnya sutradara perempuan di Hollywood. Beberapa orang masih merasa bahwa perempuan tidaklah sebaik laki-laki dalam mengarahkan akting, terutama terhadap para aktor. Anggapan seperti itu tidaklah benar, justru sekarang ini banyak sutradara perempuan yang menghasilkan film bagus bahkan diantaranya diisi oleh para aktor laki-laki.

Di tahun 2021 adalah tahun dimana perempuan menunjukkan tajinya bahwa mereka sama baiknya dengan sutradara laki-laki. Julia Ducournau dengan filmnya “Titane” berhasil meraih Palme d’Or atau penghargaan paling prestisius di festival film Cannes. Di waktu bersamaan Chloe Zhao dengan filmnya “Nomadland” berhasil meraih penghargaan Best Picture dan Best Director di Penghargaan film Oscar.

Selain dua nama tersebut masih ada banyak lagi sutradara perempuan lainnya yang karya-karyanya tak kalah menarik dari sutradara laki-laki.

Kathryn Bigelow

Sutradara perempuan belum tentu menyutradarai film tentang perempuan dan didominasi oleh pemain perempuan juga. Kathryn Bigelow mematahkan anggapan tersebut terutama karena filmnya rata-rata adalah film aksi dengan tokoh utama pria dan menonjolkan adegan kekerasan. Sebut saja film “Point Break”, “Zero Dark Thirty”, “The Hurt Locker”, “K-19: The Widowmaker” dan “Detroit”.

Film “Point Break” selain mengangkat nama Kathryn Bigelow, film itu pun turut mengangkat nama Keanu Reeves sebagai aktor film aksi. Film “Zero Dark Thirty”, The Hurt Locker” dan “K-19: The Widowmaker” merupakan film bertema militer. Konteks militer sendiri biasanya erat dengan pria dan Bigelow mampu menunjukkan dunia bahwa perempuan juga bisa menciptakan suatu karya yang didominasi oleh pria.

Kathryn Bigelow

Photo by Michael Caulfield/WireImage

Di balik dari semua itu, Bigelow sebenarnya memberikan pesan kepada penonton tentang bahaya maskulinitas beracun dengan menonjolkan kekerasan yang berlebih.

Kathryn Bigelow memenangkan Best Director dan Best Picture lewat film “The Hurt Locker”.

Sofia Coppola

Menyandang nama Coppola tidak selamanya memberikan kenyamanan bagi Sofia. Memulai karir sebagai aktris di film ayahnya Francis Ford Coppola yaitu “The Godfather”. Setelah beberapa kali bermain di film sang ayah, Sofia akhirnya memulai debut penyutradaraan di tahun 1999 berjudul “The Virgin Suicides” dan meraih sukses pertama kalinya lewat film “The Lost Translation” pada tahun 2003.

Meski begitu, karir Sofia memang selalu diikuti sentimen yang menyatakan bahwa Sofia hanya menyandang nama besar sang ayah hingga filmnya mudah mendapatkan eksposur.

Film karyanya biasanya berhubungan dengan tema kesepian, kekayaan, privilese, keterasingan dan kehidupan remaja di Amerika. Privilese mungkin menjadi balasan dari Sofia atas anggapan bahwa dirinya hanya dianggap besar karena nama ayahnya. Selain itu beberapa filmnya juga mengangkat isu female gaze.

Sofia Coppola

Di film “The Lost Translation” (2003), Sofia Coppola meraih empat nominasi di Oscar; Best Picture, Best Director dan Best Original Screenplay. Sofia memenangkan penghargaan Best Original Screenplay. Selain itu, karya Sofia dua kali masuk di nominasi Palm d’Or; “Marie Antoinette” (2006) dan “The Beguiled” (2017).

Patty Jenkins

Nama Patty Jenkins sekarang ini lebih dikenal sebagai sutradara perempuan yang akhirnya mampu menjadikan karakter Wonder Woman tidak lagi hanya sebagai objek male gazing seperti di adaptasi sebelumnya. Patty Jenkins sendiri terhitung baru merilis tiga film yaitu “Monster” (2003), “Wonder Woman” (2017) dan “Wonder Woman 1984” (2020), sisanya lebih ke menyutradarai beberapa serial televisi.

Film “Monster” merupakan debut Patty Jenkins yang terbilang sukses. Berkat arahannya, Charlize Theron meraih banyak nominasi aktris terbaik di berbagai penghargaan film. Setelah itu banyak projek yang batal karena berbagai alasan hingga akhirnya Patty kembali di perfilman lewat film “Wonder Woman”.

Patty Jenkins

Photo: Warner Bros/Everett Collection

Film “Wonder Woman” menjadikan Patty Jenkins sebagai sutradara perempuan pertama yang filmnya menembus daftar film terlaris di tahun itu. Kesuksesannya membuat studio WB memperpanjang kontrak Patty Jenkins untuk membuat trilogy Wonder Woman sekaligus membuat spin-off tentang pasukan Amazon dalam bentuk serial televisi. Patty juga akan menjadi sutradara pertama yang menyutradarai film “Star Wars” yang akan rilis pada tahun 2023.

Karakteristik Patty dalam membuat film adalah mengangkat tema feminisme. “Wonder Woman” terutama dalam mengangkat karakter Wonder Woman yang biasa dijadikan sebagai objek seksualitas baik di komik maupun di adaptasi film terdahulu. Oleh Patty, ia menjadikan Wonder Woman sebagai sosok pahlawan super perempuan tanpa harus terlihat sensual.

Ava DuVernay

Ava DuVernay

Ava DuVernay merupakan sutradara Wanita kulit hitam pertama yang filmnya masuk dalam nominasi Best Picture di penghargaan Oscar lewat “Selma” yang rilis pada tahun 2014. Selain “Selma”, Ava membuat film dokumenter berjudul “13th” (2016) yang dinominasikan sebagai film dokumenter terbaik di Oscar. Tidak hanya film, Ava juga meraih kesuksesan lewat serial TV berjudul “Queen Sugar” (2016) dan serial pendek “When They See Us” (2019).

Karakteristik yang paling menonjol dari film karya Ava DuVernay adalah eksistensi orang-orang kulit hitam di Amerika, khususnya perempuan. Melalui film “Selma”, Ava selain ingin memperlihatkan aksi demonstrasi bersejarah yang dipimpin oleh Martin Luther King Jr, Ava juga ingin menunjukkan bagaimana perempuan juga memiliki andil di dalam pergerakan tersebut.

Selain itu isu yang selalu dibawakan oleh Ava DuVernay di setiap karyanya adalah penangkapan secara masal terhadap orang kulit hitam meskipun kenyataannya tidak ada bukti yang jelas.

Bagi Ava DuVernay hal tersebut merupakan bagian dari legalitas perbudakan yang terjadi di era modern. Serial pendek “When They See Us” yang rilis di Netflix merupakan penegasan Ava DuVernay tentang hal tersebut. Serial tersebut begitu getirnya hingga meraih sebelas nominasi di penghargaan Primetime Emmy Awards ke-71.

Film dokumenter “13th” (2016) memperlihatkan tentang kebrutalan polisi di Amerika terhadap orang-orang kulit hitam hingga berujung penangkapan paksa tanpa adanya dakwaan yang jelas. Film ini ramai kembali ditonton ketika skandal George Floyd.

Chloe Zhao

2021 menjadi tahun yang bersejarah di Hollywood ketika Chloe Zhao memenangkan Best Director di penghargaan Oscar dengan film “Nomadland” dan menjadikan Chloe Zhao sebagai sutradara perempuan dari Asia yang memenangkan penghargaan tersebut. Tidak hanya di Oscar saja, “Nomadland” juga membawa Chloe meraih banyak penghargaan sutradara terbaik di banyak festival.

Karir Chloe dimulai dari tahun 2015 ketika Chloe menyutradarai film “Songs My Brother Taught Me” yang menceritakan tentang suku Indian Sioux di Dakota Selatan, Amerika. Film tersebut berhasil masuk di nominasi Camera d’Or di Festival Film Cannes.

Selanjutnya, film “The Rider” yang menceritakan perjuangan pemain rodeo. “The Rider” kembali memperlihatkan kehidupan orang-orang suku Indian Sioux. Barulah di film ketiganya “Nomadland”, Chloe Zhao meraih kesuksesannya sebagai sutradara film yang mengantarkan dirinya menjadi sutradara film pahlawan super berjudul “Eternals” yang rilis pada tahun 2021.

Chloe Zhao

Photo: AFP / Chris Pizzello / POOL

Chloe Zhao terkenal dengan situasi yang sepi dalam menyajikan filmnya dan menonjolkan pesona alam di pinggiran kota Amerika. Karena itulah ketika Chloe merilis film “Eternals”, film tersebut menuai pro dan kontra di kalangan penggemar film Marvel. “Eternals” tidaklah menunjukkan hingar bingar seperti film MCU biasanya tapi justru terasa begitu sepi dan sangat filosofis.

Bayu Ade Prabowo

Contributor of Cultura. A father of two children and a lecturer with a passion for cinema and music, particularly classic films and music.

Share
Published by
Bayu Ade Prabowo