Connect with us
Severance
Apple TV

TV

Severance Review: Work-Life Balance atau Perbudakan Korporat?

Angkat isu etika ketenagakerjaan dalam skenario dystopia thriller yang menghantui masyarakat urban.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Severance” merupakan serial psychological thriller karya Ben Stiller dan Dan Erickson. Serial ini sempat dinobatkan sebagai salah satu serial terbaik 2022 (yang sayang terlewatkan oleh Cultura Best 2022). Dibintangi oleh Adam Scott, Britt Lower, Patricia Arquette, Zach Cherry, dan John Turturro.

Mark adalah seorang team leader di salah satu divisi suatu perusahaan bernama Lumon. Setiap pegawai Lumon membuat kontrak kerja yang melibatkan prosedur ‘severance’ atau ‘pemutusan’. ‘Pemutusan’ yang dimaksud dalam prosedur ini adalah terpisahnya ingatan pegawai antara kehidupan pribadi dan kehidupan kerja mereka.

Ketika Mark bekerja, ia akan melupakan problematika kehidupan pribadinya. Sementara di luar jam kerja, Mark tak akan mengingat sama sekali apa yang sebetulnya ia kerjakan dan melupakan rekan-rekan kantornya.

Terdengar seperti konsep work-life balance? “Severance” menyulap pandangan hidup tersebut dalam skenario fiksi ilmiah dan dystopia yang bisa memberikan outcome mengerikan bagi peradaban manusia, terutama menyinggung isu etika ketenagakerjaan.

Severance

Angkat Definisi Work-Life Balance ke Level yang Ekstrim

“Severance” seperti salah satu episode “Black Mirror”, namun dikembangkan menjadi serial sendiri dengan skena eksplorasi world-building yang lebih maksimal. Serial Ben Stiller ini memiliki latar dystopia dengan Lumon sebagai perusahaan besar yang memiliki reputasi tinggi.

Sesuai dengan judulnya, ‘severance’ atau prosedur ‘pemutusan’ menjadi isu utama. Meski tidak disebutkan secara eksplisit, kita bisa menyandingkan konsep prosedur ‘pemutusan’ dalam skenario ini sebagai istilah work-life balance. Dimana seseorang mengusahakan kehidupan seimbang antara kerja dengan kehidupan pribadi.

Konsep ini pun dikembangkan menjadi prosedur fiksi ilmiah yang original dalam “Severance”. Melalui Mark, awalnya kita bisa melihat bagaimana ia mendukung prosedur ‘pemutusan’ sebagai pegawai Lumon. Namun juga diperlihatkan bagaimana prosedur ini juga masih dianggap tabu oleh masyarakat luas.

Melihat konsep dari prosedur ‘pemutusan’ kita sebagai penonton juga akan terkesima. Suatu konsep yang menarik. Namun, apakah prosedur ini benar-benar inovasi yang tidak akan memberikan dampak buruk?

Buat penonton yang memiliki profesi sebagai pegawai korporat atau perusahaan secara umum, mungkin lebih bisa relate bagaimana “Severance” memiliki elemen thriller bahkan horror. Isu tentang etika ketenagakerjaan dalam serial ini dielaborasi menjadi sajian satir yang menarik. Mengeksplorasi sisi gelap dari perbudakkan korporat yang bisa sangat mengerikan.

Severance

Apple TV

Dualitas Setiap Karakter Pegawai yang Menarik untuk Diungkap

Kisah berpusat pada Mark sebagai team leader dengan ketiga rekan kerja lainnya, Helly, Irving, dan Dylan. Selain tidak mengetahui apapun tentang kehidupan pribadi masing-masing, mereka sebetulnya juga tidak terlalu paham apa yang sebetulnya mereka kerjakan. Salah satu misteri terbesar yang akan membuat kita terus tune in adalah mengungkap perusahaan apa Lumon sesungguhnya?

Selain misteri dari Lumon sendiri, setiap karakter juga memiliki karakter dan kehidupan pribadi yang bikin penasaran. Kita akan lebih sering melihat sudut pandang Mark. Kita akan mengikuti bagaimana ia menjalani tugas sebagai team leader, kemudian pulang kantor dan kembali menghadapi duka cita besar. Pada akhirnya, kita akan mengetahui bahwa setiap pegawai bisa jadi memiliki berbagai alasan kuat untuk melakukan prosedur ‘pemutusan’.

Helly menjadi karakter dengan penokohan paling kuat dan menggerakan plot. Rutinitas kerja Mark mulai mengalami gejolak ketika Helly bergabung dengan divisinya. Meski identitasnya akan menjadi misteri hampir sepanjang serial, satu hal yang kita tahu, Helly adalah karakter dengan kemauan tinggi dan keras kepala. Selalu berhasil membuat episode semakin menarik.

Melihat tim Mark, kita bisa melihat representasi berbagai jenis pekerja kantoran. Ada pegawai teladan, ada pegawai yang melakukan perlawanan jika ditindas, ada pula pegawai yang kagum dengan idealisme perusahaan. Menarik untuk memprediksi, apakah kepribadian mereka yang di luar kantor akan seratus persen berbeda?

Perkembangan Plot Misteri yang Bertahap Namun Tidak Membosankan

“Severance” memiliki elemen misteri yang suspenseful. Memiliki plot slow burn, namun dengan tahap yang tidak lambat dan membosankan. Apalagi dengan estetika minimalis dan monoton, sekilas serial ini mungkin memberikan kesan yang membosankan dibandingkan serial-serial fantasi yang mendominasi pada 2022. Namun “Severance” jauh dari kata membosankan.

Selalu ada kejadian monumental dan informasi baru yang kita dapatkan di setiap episode. Berawal dari perusahaan yang terlihat biasa-biasanya saja, insiden dan penyimpangan sistem yang terjadi akan membawa kita pada perjalanan mengungkap rahasia Lumon. Semakin kita melanjutkan episode, semakin intens kengerian yang terjadi pada tim Mark yang menjadi fokus utama.

“Severance” finale diakhiri dengan cliffhanger, namun cliffhanger yang bisa diterima. Setidaknya satu misteri pertama sudah diungkap pada season perdana ini. Mengindikasikan adanya kelanjutan pada season berikutnya. “Severance” sangat patut ditonton oleh audience yang lebih luas. Karena isu yang diangkat dalam serial ini bisa disandingkan dengan realita dunia kerja masyarakat urban. Semoga saja “Severance” kembali dengan season terbaru.

the last of us episode 2 the last of us episode 2

The Last of Us (Episode 2) Review: Infected

TV

Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre – Adaptasi Manga Horor yang Kehilangan Jiwanya

TV

alice in borderland season 2 review alice in borderland season 2 review

What to Stream This Weekend: Issue #5

Cultura Lists

The Makanai The Makanai

The Makanai: Cooking for the Maiko House Review – Mengenal Kebudayaan Maiko di Kyoto

TV

Connect