Connect with us
Perempuan sedang memperbaiki sepeda
Perempuan sedang memperbaiki sepeda (1895). | Sumber: Montana State University Library

Culture

Sepeda, Emansipasi Perempuan, dan Celana Baggy

Bagaimana perempuan menemukan kebebasan dengan roda dan celana?

Tujuh ribu tahun lalu, laki-laki mengenal yang disebut sebagai loincloth alias cawat. Terutama bagi mereka yang tinggal di daerah panas. Mereka hanya memakai kain yang digunakan untuk menutup dari bagian perut ke kaki. Mungkin, nenek moyang kita di Indonesia juga mengenakan pakaian yang sama.

Lalu pada abad 13, laki-laki mulai mengenakan celana baggy sebagai dalaman. Mulai dari rakyat jelata hingga raja sama-sama memakainya. Celana ini longgar dan nyaman digunakan.

Kenyamanan celana baggy jelas membuat sebagian perempuan iri. Terutama kaum kulit putih yang menggunakan dress ketat dan tidak nyaman dengan rok yang berat. Pakaian mereka sungguh tidak praktis. Inilah yang membuat Amelia Jenks Bloomer (1818-1894) memberontak.

Ia mulai muncul ke publik dengan celana baggy—yang kemudian dinamai bloomer seperti nama belakangnya. Keputusannya mendapat kritik publik. Perempuan diharapkan memakai rok saja.

Sekelompok perempuan menaiki sepeda tandem (1893-1924)

Sekelompok perempuan menaiki sepeda tandem (1893-1924) | Photo: The New York Public Library Digital Collections

Namun, kenyamanan celana baggy mulai membuai banyak perempuan. Revolus industri mendorong perempuan terjun ke dunia kerja. Ditambah lagi, ketika ada perang, banyak dari mereka harus menggantikan anggota keluarga laki-laki untuk beraktivitas.

Kaum perempuan di masa itu juga mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan olahraga. Rok bukan lagi menjadi pilihan utama. Walau celana kemudian menjadi populer, penggunaannya di ruang publik oleh perempuan dianggap tidak senonoh. Meskipun sebenarnya celana ini dijadikan dalaman.

Pada 1911 di Inggris seorang aktivis perempuan yaitu Alice Hawkins berkeliling Kota Leicester untuk berkampanye. Ia adalah perempuan pertama yang bercelana longgar di kota itu. Kendaraannya untuk berkeliling kota adalah sepeda.

Aktivitasnya bersepeda menjadi simbol emansipasi perempuan. Perjuangan Alice kemudian dihidupkan kembali sejak tahun 2010 oleh Leicester Critical Mass, kelompok pecinta sepeda di kota tersebut. Sebulan sekali mereka bersepeda secara massal.

Sepeda, Emansipasi Perempuan, dan Celana Baggy

Perempuan Peru bergaya dengan sepedanya. | Photo: The New York Public Library Digital Collections

Sebenarnya sepeda tak hanya dijadikan alat berkendara untuk berkampanye saja bagi para aktivis perempuan. Bila dahulu kendaraan hanya dimiliki orang kaya saja karena kereta kuda dan kudanya sendiri berharga mahal, maka sepeda adalah simbol egaliter. Siapapun bisa memilikinya.

Ditambah lagi sepeda mudah dinaiki baik bagi laki-laki maupun perempuan sehingga sepeda menjadi simbol kebebasan. Selain itu ketika naik sepeda perempuan mau tak mau harus mengenakan pakaian yang lebih praktis sehingga menanggalkan roknya. Sepeda mendorong perempuan bercelana. Atau setidaknya walaupun menggunakan rok, mereka tak lagi memakai pakaian ketat.

Baca Juga: Dari Karl Drais hingga Pandemi: Pasang Surut Popularitas Sepeda

New York Journal of Commerce, majalah perdagangan dunia yang terbit dua minggu sekali, sempat menulis klaim menarik di tahun 1898. Saking populernya sepeda tak hanya sebagai alat berkendara tapi juga olahraga dan hiburan, sepeda mampu mematikan sektor industri lain. Contohnya restoran dan teater yang rugi hingga 100 juta dolar pertahun.

Industri sepeda juga menjadi salah satu industri terbesar dan paling inovatif di Amerika. Sepertiga dari jumlah paten yang diajukan saat itu berkaitan dengan sepeda.

Selama pandemi, sepeda juga kembali berjaya. Orang-orang bersepeda tak hanya untuk menjaga kesehatan tetapi juga beraktivitas. Menggunakan kendaraan umum bukan pilihan terbaik saat ini.

Bila motor membutuhkan SIM dan harus dibayar pajaknya maka tidak demikian dengan sepeda. Karena inilah sepeda menjadi pilihan paling populer dibanding harus memiliki motor atau mobil pribadi. Penjualan sepeda meningkat pesat. Bahkan di Pakistan dilaporkan peningkatan pembelian sepeda oleh perempuan. Jumlah sepeda yang terjual dalam satu bulan jauh lebih banyak dibanding penjualan sepeda selama dua tahun terakhir.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect