Connect with us
Zongzi Bacang
Photo via thespruceeats.com

Culture

Sejarah Zongzi, Bacang, dan Chimaki Beserta Saudara-saudara di Asia

Ternyata Bacang memiliki banyak saudara di Benua Asia.

Bacang merupakan salah satu camilan berbahan baku beras yang populer di Indonesia. Berbeda dengan lemper yang rasanya gurih, bacang sendiri memiliki cita rasa manis meski isinya daging. Ini karena rasa bacang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia sehingga pada bagian isian ditambahkan sedikit kecap. Umumnya bacang sendiri memiliki isian daging sapi maupun ayam meski di daerah pecinan banyak yang menjual dengan isian daging babi. Misalnya di daerah Suryakencana di Kota Bogor. Selain isi daging babi, ada pula bacang dengan isian buah seperti mangga yang dijual musiman. Namun walau dijual di pecinan, bukan berarti bacang tersebut rasanya otentik seperti dari daerah asalnya di China.

Orang China menyebutnya sebagai Zongzi. Makanan ini telah dikenal selama ribuan tahun dan memiliki kaitan erat dengan tragedi bunuh diri seorang menteri ternama di masa itu. Sang menteri sekaligus penyair bernama Qu Yuan. Ia tinggal di Kerajaan Chu (475-221 SM). Orangnya sangat berprinsip dan bicara apa adanya. Sikapnya itu membuat raja dan pejabat lainnya merasa tidak suka. Rekan-rekannya lalu memfitnah Qu Yuan sehingga raja pun membuangnya ke pengasingan. Ketika berada di pengasingan, Qu Yuan mendengar bahwa ibu kota kerajaan jatuh dikuasai negara tetangga. Qu Yuan yang patah hati karena merasa tak berhasil melindungi negaranya lalu bunuh diri dengan melompat ke dalam sungai Miluo.

Kematian Qu Yuan pada hari kelima di bulan kelima menurut penanggalan China membuatnya menjadi simbol masyarakat. Ia adalah lambang dari patriotisme, keadilan, dan tindakan untuk tidak mementingkan dirinya sendiri. Orang-orang lalu melemparkan Zongzi ke dalam air selama mencari tubuh Qu Yuan. Tujuannya adalah melindungi tubuh Qu Yuan agar tidak dimakan ikan. Menurut tradisi di China, tubuh orang mati harus dijaga agar tidak rusak. Sebab tubuh itu berasal dari orangtua yang telah melahirkannya. Seorang anak perlu menunjukkan kesalehannya dengan menjaga tubuhnya dari luka.

Versi lain menyebutkan bahwa zongzi tersebut dibungkus dengan daun tertentu—bukan daun bambu pada umumnya—dan diikat benang warna-warni untuk menakuti naga. Naga dikenal sebagai dewa penguasa air. Rakyat juga mencari mayat dari Yu Quan dengan naik kapal sambil menabuh genderang untuk menakuti para penghuni air. Kini peringatan kematian Yu Quan masih dilakukan setiap tahunnya bersamaan dengan Festival Perahu Naga. Para orangtua akan mengajarkan kepada anak mereka mengenai sejarah dari festival itu beserta filosofi di balik konsumsi zongzi dan kaitannya dengan Yu Quan.

Dengan berjalannya waktu zongzi pun dikenal sebagai makanan tradisional di seluruh penjuru China. Namun zongzi ini pun disesuaikan dengan selera di daerah masing-masing. Ada dua macam zongzi yaitu dengan isian manis dan dengan isian gurih. Bentuknya umumnya adalah piramida dan memang tak selalu dibungkus dengan daun bambu. Di daerah Fujian, zongzi umumnya diisi dengan daging babi maupun udang, jamur, dan biji teratai. Di Jiaxing, kadang zongzi disajikan dengan daging segar maupun buah longan. Rasanya juga lebih berlemak karena dikukus atau direbus dengan lemak hewan sehingga lebih unik. Uniknya di Beijing sendiri zongzi diisi dengan kurma dan jarang yang memiliki cita rasa gurih.

Patut diketahui bahwa China adalah salah satu negara penghasil kacang terbesar di dunia sehingga banyak dari isian zongzi menggunakan kacang maupun pasta kacang. Saking populernya, zongzi pun dikenal di luar China. Negara-negara tetangga mulai ikut menikmati zongzi tentunya dengan resep yang disesuaikan dengan lidah lokal. Salah satu negara yang mengadopsi erat tradisi menikmati zongzi adalah Jepang. Orang Jepang menyebutnya chimaki, berasal dari kata chigaya (rumput cogon) dan maki (membungkus). Meski namanya chimaki tetapi makanan ini tidak selalu dibungkus dengan rumput cogon. Chimaki mulai dikenal di Era Heian (794-1185 M) walau tidak jelas dalam sejarah siapa yang memperkenalkannya pertama kali.

Japanese Chimaki

Chimaki | Photo via thespruceeats.com

Mirip dengan di China, Jepang juga merayakan hari tertentu ketika menikmati chimaki yaitu tiap tanggal 5 Mei. Disebut sebagai Hari Anak alias ‘kodomo no hi’ yaitu perayaan bagi anak lelaki maupun perempuan untuk kebahagiaan dan kesehatan mereka. Seperti di negara asalnya, chimaki juga memiliki dua jenis cita rasa yaitu manis dan gurih. Isiannya memang sedikit berbeda dengan zongzi. Misalnya, chimaki yang manis diisi dengan pasta kacang merah dan akar tanaman garut. Sementara chimaki yang gurih diisi dengan daging dan sayuran. Mulai dari rebung, jamur shiitake, wortel, akar burdock, kastanye, sampai kacang gingko.

India sebagai negara yang berbatasan langsung dengan China pun mengadopsi zongzi. Orang India menyebutnya sebagai elai adai. Rasanya manis dan dibungkus dengan daun pisang raja. Isiannya sendiri berupa kelapa, gula merah, nangka, dan kapulaga. Bila dilihat elai adai memiliki kemiripan dengan nagasari, kue dari tepung beras dengan isian pisang yang populer di Pulau Jawa. Elai adai sendiri populer di daerah Kerala dan merupakan camilan sehingga tidak terkait dengan hari besar seperti di China maupun Jepang. Selain elai adai dan nagasari, zongzi dengan cita rasa manis ini bermetamorfosis menjadi suman di Filipina. Bedanya, suman direbus dalam santan bukan air biasa.

Beberapa jenis suman juga dimasak dalam air rendaman kunyit sehingga warnanya menjadi kekuningan. Suman memiliki beragam isian seperti mangga, gula, maupun kelapa. Daun pembungkusnya sendiri beraneka ragam seperti daun pisang, daun palem, hingga daun bambu. Zongzi juga dikenal di Laos maupun Thailand dengan nama khao tom. Pada versi manisnya, khao tom berisi beras, pisang, dan santan. Varian ini memang lebih mirip dengan nagasari dibandingkan dengan elai adai. Sementara itu versi gurihnya berisi daging babi dan pasta kacang. Biasanya biarawan akan memberikan dua buah khao tom kepada pasangan untuk mendoakan keberuntungan bagi mereka.

Orang Vietnam mengenal báhn chu’ng yang biasanya disajikan di masa Tét alias perayaan Tahun Baru China ala Vietnam. Isinya sendiri berlapis. Ada pasta kacang dengan daging babi yang dimasak memakai saus ikan dan lada hitam. Báhn chu’ng dibungkus dalam daun dong dengan bentuk persegi. Sementara itu sejauh ini hanya Suku Rukai di Taiwan yang memiliki varian zongzi dengan daun yang bisa dimakan. Artinya daun di sini tidak hanya berperan sebagai pembungkus tetapi juga ikut dinikmati. Makanan ini disebut sebagai abai dengan isian jawawut dan daging babi. Daunnya sendiri memiliki rasa dan aroma mirip dengan bawang.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect