Connect with us
Sejarah Susu Formula dan Makanan Bayi
Photo by Rainier Ridao on Unsplash

Culture

Sejarah Susu Formula dan Makanan Bayi

Apa kaitan revolusi industri dan penemuan susu formula?

Revolusi industri memberikan harapan baru bagi kaum perempuan yaitu kesempatan mereka untuk terjun ke dunia kerja. Saat itu berbagai penemuan mengubah peradaban dunia. Kebangkitan dunia industri membuat ada lebih banyak pekerja yang dibutuhkan.

Perempuan maupun anak-anak pun turut memajukan perekonomian negara. Mereka ikut serta mulai di industri tekstil hingga industri tambang. Namun ada banyak masalah yang dihadapi kaum perempuan saat itu. Bila para ibu bekerja, mereka akan kesulitan dalam menyusui anak-anaknya.

Pada zaman dahulu dikenal budaya ibu susu atau wet nursing. Dalam sejarah Islam Rasulullah disusui oleh Tsuwaibah, perempuan yang bekerja pada Abu Lahab. Hal itu dilakukan selama beberapa hari. Lalu Rasul disusui oleh Halimah yaitu seorang perempuan yang datang dari desa lain. Bagi budaya masyarakat Arab di masa itu kehadiran ibu susu adalah hal yang lazim.

Berdasarkan sejarah, jauh sebelum Rasul lahir, masyarakat dunia pun telah mengenal ibu susu kurang lebih sejak 2000 SM. Dahulu ibu susu merupakan sebuah alternatif kebutuhan yang kini sifatnya bergeser menjadi alternatif pilihan. Sebab dulu bila seorang ibu tidak mampu menyusui bayinya ia tak punya pilihan menggunakan susu formula seperti sekarang. Ia hanya bisa memberikan bayinya pada ibu susu atau memberinya susu hewan.

Kini, ibu susu disebut sebagai alternatif pilihan karena ia adalah opsi paling akhir. Di zaman modern umumnya bila seorang ibu tak mampu menyusui bayinya maka ia akan memberi bayinya susu formula. Kalaupun ada alergi, maka ia akan memberinya susu dari produk nabati. Ibu susu di abad 21 ini bukanlah profesi yang menjanjikan seperti dulu. Orang umumnya menyedekahkan susunya secara gratis karena produksinya berlimpah bukan untuk mendapatkan uang.

Sebenarnya tradisi pemberian susu botol pun telah ada sejak 2000 tahun lampau. Para arkeolog menemukan bejana tanah liat dengan moncong yang memiliki residu susu di dalamnya. Bentuknya memang tidak benar-benar menyerupai botol. Umumnya botol susu pada zaman kuno itu diisi susu sapi, kambing, ataupun domba. Bila si bayi meninggal dunia maka botol susunya akan ikut dimakamkan bersama si jenazah. Selain itu bayi umumnya diberi pap. Ini adalah tepung yang diencerkan dengan air dan diberikan pada sang bayi sebagai makanan utama.

Tentu saja pada masa itu belum ada penelitian mengenai pemberian makanan bergizi kepada bayi sehingga pemberian pap sangat dimaklumi. Tak hanya Islam saja, budaya maupun agama lain pun menganggap menyusui seorang anak adalah kewajiban. Ada banyak teks sejarah yang mengisahkan tentang ASI. Namun dapat dipahami bila si ibu tak dapat memberinya entah karena sakit, produksi ASI rendah hingga tak ada, atau bahkan meninggal.

Kegagalan laktasi sendiri tercatat dalam cikal bakal ensikolepedia medis di peradaban Mesir kuno tahun 1550 SM bernama The Papyrus Ebers. Walaupun isinya memang belum terbukti secara ilmiah, tapi kita dapat memetik bahwa sudah ada kesadaran mengenai ketidakmampuan tubuh ibu menyusui. Isi teksnya adalah bila seorang ibu tak dapat menyusui maka gosoklah punggungnya dengan minyak dan ikan.

Di Yunani pada 950 SM, kehadiran ibu susu menjadi hal yang umum bagi perempuan-perempuan bangsawan. Profesi sebagai ibu susu adalah posisi yang cukup menjanjikan dan dapat memiliki budak. Di Roma pada 300 SM – 400 M, bangsawan membuat kontrak dengan para ibu susu. Mereka disuruh menyusui bayi-bayi telantar yang ketika telah dewasa akan dijadikan budak. Kontrak itu berlangsung selama 3 tahun meliputi suplai pakaian, lampu minyak, dan pembayaran jasa mereka.

Bahkan sejak 100 M sudah ada kriteria yang dituliskan oleh dokter-dokter zaman kuno mengenai bagaimana memilih ibu susu yang baik. Kualitas ASI dari si ibu susu haruslah tidak terlalu cair dan tidak terlalu kental. Ada pula anjuran bagi ibu susu untuk menguasai cara mengendong bayi hingga menyanyikan lagu nina bobo. Lalu ada beragam aktivitas yang dianjurkan demi mendorong aliran susu yang lancar bagi si bayi. Misalnya si ibu susu harus banyak berjalan.

Terlepas dari nutrisi bayi dan pentingnya ASI, bisa dilihat berdasarkan sejarah mengenai campur tangan padangan budaya terhadap isu ini. Ada banyak mitos yang berkembang baik pada ibu menyusui maupun ibu susu. Ditambah lagi dunia medis belum berkembang pesat sehingga apa yang keluar dari mulut para ahli di masa itu akan didengar. Aturan-aturan ini berpotensi mempersempit ruang gerak ibu yang menyusui maupun ibu susu.

Contohnya di abad ke-17 seorang dokter kandungan Prancis menyebutkan bahwa seorang ibu harus membesarkan anaknya sendiri, tidak memakai jasa ibu susu. Menurutnya, kekurangan yang dimiliki si ibu susu dapat “menular” pada si bayi dan orangtua kandungnya. Tentu saja klaim ini terdengar tak masuk akal di masa kini. Tapi saat itu, untuk seseorang yang bertitel dokter, maka kata-katanya akan didengar. Ditambah lagi ia bersikap diskriminatif dengan mengatakan perempuan berambut merah tak cocok menjadi ibu susu.

Revolusi industri mendorong orang-orang yang tinggal di pedesaan pindah ke kota. Para perempuan yang datang bersama keluarganya turut bekerja dan meninggalkan bayinya pada perempuan desa. Berdasarkan hukum saat itu, setiap perempuan desa yang menjadi ibu susu harus mendapatkan lisensi dan melaporkan tiap kematian bayi yang ia asuh. Namun aturan itu seringkali tidak dilaksanakan.

Sejarah Susu Formula dan Makanan Bayi

Photo by Mae Mu on Unsplash

Akhirnya muncullah penemuan susu formula pada 1860-an. Susu formula dipandang lebih aman dibanding susu hewan—bila tidak disterilisasi dengan baik. Tingkat kematian bayi juga tinggi sehingga dunia medis berjibaku untuk mencari produk yang aman. Selain itu susu formula dianggap lebih bergizi dibandingkan memberi bayi tepung dan air saja. Umumnya selain pap bayi akan diberi bir, anggur, kaldu daging, roti basi, hingga sayur yang teksturnya betul-betul halus. Bisa dibayangkan betapa tak bergizinya bayi-bayi yang tumbuh saat itu.

Susu formula ditemukan oleh ahli kimia Jerman bernama Justus von Liebig. Ia membuatnya dari susu sapi yang dicampur potassium bicarbonate dan gandum lalu dikeringkan menjadi bubuk. Langkah ini diikuti seorang pengusaha Swiss, Henri Nestlé yang mencampur krimer kental manis dengan remahan gandum. Produk ini digadang kualitasnya lebih baik dari susu. Sayangnya kualitas produk makanan bayi di masa itu rendah sehingga banyak kasus kontaminasi. Diperkirakan sepertiga dari total bayi yang diberi makanan pabrikan di masa itu meninggal.

Di awal abad 20, ilmuwan menyadari bahaya kontaminasi. Selain itu kulkas baru banyak digunakan pada tahun 1910 sehingga sebelumnya susu-susu tidak dapat disimpan dengan baik. Metode pasteurisasi ditemukan pada 1864 oleh Louis Pasteur. Awalnya proses pasteurisasi dilakukan untuk membuat susu lebih tahan lama. Namun akhirnya diketahui ternyata pasteurisasi membuat susu lebih sehat. Pengetahuan yang rendah membuat metode itu sempat ditolak karena dianggap mengurangi kandungan gizi dari susu.

Kemudian susu evaporasi ditemukan pada 1883 oleh John B. Myenberg. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa bayi yang mengonsumsi susu evaporasi pun tumbuh sebaik bayi yang disusui. Harganya yang murah membuat susu ini mudah diterima publik dan dapat dijangkau siapa saja. Di tahun 1940 hingga 1960, sebagian besar bayi yang tidak disusui diberi susu evaporasi.

Sementara itu sejak 1950 marketing susu formula makin agresif. Ditambah semakin banyak jumlah ibu yang bekerja sehingga susu formula makin diterima oleh publik. Sayangnya kepopuleran susu formula membuat jumlah ibu yang menyusui bayinya terus menurun. Hal ini menimbulkan keprihatinan. Ditambah lagi, bayi-bayi itu umumnya diberi susu formula hanya hingga usia 6 bulan. Lewat dari itu mereka diberi susu sapi biasa karena harganya lebih murah tanpa mempertimbangkan gizinya.

Penelitian-penelitian pun dilakukan untuk melihat bagaimana manfaat dari menyusui. Hal itu mendorong kembalinya tren menyusui di tahun 1980. Tak dipungkiri bahwa ASI memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan susu formula.

Namun bukan berarti fakta ini mengesampingkan para ibu yang tubuhnya tidak mampu memproduksi ASI ataupun sedang sakit. Kini edukasi yang lebih baik membuat para ibu dapat membuat pilihan terbaik dalam memberi makan bayinya. Entah itu ASI maupun susu formula hal tersebut dipilih karena telah melalui pertimbangannya sendiri.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect