Connect with us
Munich: The Edge of War
Netflix

Film

Munich: The Edge of War Review

Perpaduan fiksi dan referensi sejarah tepat tentang awal mula Perang Dunia II.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pada 30 September 1938, Jerman, Inggris, Italia, dan Prancis menandatangani perjanjian di Munich untuk menyerahkan Sudetenland (sebuah daerah perbatasan di Czechoslovakia) pada Nazi Jerman di bawah kekuasaan Adolf Hitler.

Hitler mengumumkan bahwa wilayah terakhir yang hendak Ia klaim, dan negara-negara lain memiliki harapan besar untuk mengakhiri Perang Dunia I. Namun kita semua tahu, sejarah memiliki kelanjutan yang lebih mengerikan dari harapan yang tercipta melalui perjanjian di Munich tersebut. 

“Munich: The Edge of War” merupakan film berlatar Perang Dunia I terbaru di Netflix. Dibintangi oleh George MacKay yang sebelumnya sukses di medan perang pada film “1917”, kali ini kita akan mengikuti perjalanan diplomasinya sebagai sekretaris Perdana Menteri Inggris dalam usaha mengakhiri perang.

Munich: The Edge of War

Plot Fiksi yang Diselipkan dengan Rapi untuk Mendukung Keseruan Kisah Bersejarah

Film bertema perang merupakan salah satu komoditi mainstream di jagat Hollywood. Pada titik sudah ada banyak judul film perang yang kita tonton, baik yang berkualitas hingga yang naskahnya hanya copy-paste dari Wikipedia.

Meski bukan hukum yang paten, film bersejarah kerap dipertanyakan nilai faktualnya. Ketika ada bagian naskah yang tidak sinkron dengan peristiwa aslinya, penonton kerap mencibir atau mengkritik film tersebut. “Munich: The Edge of War” sendiri merupakan film sejarah berdasarkan kisah nyata yang dipadukan dengan plot fiksi, dengan pendekatan ‘seandainya…’. 

Munich: The Edge of War

Salah satu kelebihan film Christian Schwochow ini adalah komposisi tepat antara sejarah dan fiksi pada naskahnya. Plot utamanya adalah eksekusi Perjanjian Munich antara empat negara, termasuk Inggris dan Jerman yang menjadi dua sudut pandang dalam film ini.

Kehadiran Hugh Legat (George MacKay) dan Paul von Hartmann (Jannis Niewohner) menjadi plot fiksi yang diselipkan untuk menambah sensasi suspense dalam polemik diplomasi perang.

Tanpa mencederai sejarah, “Munich: The Edge of War” sangat teliti dalam menyapu bersih setiap bukti dari jejak kisah fiksinya. Namun, plot fiksi yang ditambahkan juga memberikan dampak serta pemahaman baru bagi penontonnya.

Munich – The Edge of War

Penampilan Duo George MacKay dan Jannis Niewohner dengan Interaksi Memikat

Hugh Legat dan Paul von Hartmann dikisahkan menjalin persahabat saat kedua mengemban pendidikan di Oxford. Namun, karena perbedaan pendapat politik, keduanya akhirnya berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing. Ketika keduanya telah bekerja untuk pemerintahan (Legat bekerja di Inggris sementara Hartmann bekerja untuk Nazi), mereka dipertemukan di Munich dengan kesempatan mengubah sejarah. 

George MacKay dan Jannis Niewohner memberikan penampilan duo dengan dinamika hubungan yang menarik, hubungan generasi muda di masa Perang Dunia I. Chemistry kedua aktor ini cukup kuat untuk mendukung keseluruhan konsep dari film diplomasi perang ini. Melalui persahabatan mereka, kita bisa melihat potret kehidupan generasi muda ketika bicara soal politik merupakan hal yang penting, lebih dari sekadar adu intelektualitas.

Kita bisa mengambil sesuatu dari diskusi maupun perdebatan keduanya. Sebagai karakter fiksi, Legat dan Hartmann juga memiliki penokohan yang kuat, mempengaruhi opini, tindakan, dan reaksi mereka akan sebuah fenomena politik. Ada banyak materi dialog yang bisa kita maknai melalui film bertema sejarah ini.

Naskah yang Menyajikan Opini akan Sebuah Peristiwa Diplomasi Politik Perang

Bagi kita yang pada dasarnya menyukai film perang, terutama film perang yang lebih fokus pada peristiwa diplomasi, “Munich: The Edge of War” dijamin akan menjadi tontonan yang sangat memikat.

Tidak cuma menjiplak deskripsi sejarah yang bisa kita temukan sendiri di internet, film ini mengadaptasi naskah dari novel “Munich” karya Robert Harris dengan menyelipkan plot fiksi. Keseluruhan konsep dari film ini terasa seperti kolom opini akan sebuah peristiwa politik yang biasa kita temukan pada koran atau majalah. 

Ada situasi dimana kita diberi kesempatan untuk melihat kemungkinan terbaik yang seharusnya bisa direalisasikan untuk mencegah perang. Legat dan Hartmann menjadi medium opini para pelaku politik yang masih muda dengan idealismenya sendiri. Namun, kenyataan yang disuguhkan oleh para pemimpin dunia berpengalaman menghantam kita dengan fakta ‘tidak semudah itu’.

Peran Perdana Menteri Inggris, Neville Chamberlain (Jeremy Irons) juga menjadi tokoh yang menarik untuk disimak, bagaimana caranya bermain dalam politik dengan adil dan visi jangka panjang yang tidak ideal, namun memiliki harapan. 

“Munich: The Edge of War” merupakan film bertema perang dengan naskah yang menyuguhkan sesuatu berbeda dari film perang biopik pada umumnya. Film ini memiliki opini yang menarik dalam menanggapi Perjanjian Munich, namun tetap bertanggung jawab dalam mempertahankan materi sumbernya, yaitu sejarah awal mula Perang Dunia II yang tidak bisa diubah. 

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Happiest Season Happiest Season

Rekomendasi Film Chick Flick 2020an

Cultura Lists

Kilas Balik Trilogi Baru Star Wars: Kehancuran Sebuah Franchise

Entertainment

My Missing Valentine My Missing Valentine

My Missing Valentine: Menyusuri Ingatan Satu Hari yang Hilang

Film

Connect