Connect with us
Maboroshi
Netflix

Film

Maboroshi Review: Groundhog Day Tapi Sekota

Pertanyakan realita, ilusi, dan eksistensi dalam latar animasi memukau garapan MAPPA.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Maboroshi” merupakan film anime terbaru yang masuk ke Netflix. Disutradarai dan ditulis oleh Mari Okada, MAPPA menjadi studio yang mengerjakan animasinya. Masamune adalah remaja 14 tahun terjebak di kota kecil yang “membeku” semenjak ledakan di pabrik di wilayah tersebut.

Tidak hanya dirinya, teman-teman sekolahnya, keluarga, dan seisi penduduk kota harus terjebak di hari ruang dan waktu yang sama, tanpa menua dan mengalami perubahan apapun. Hingga suatu hari Masamune menemukan gadis misterius yang disembunyikan oleh para pekerja pabrik.

“Maboroshi” sebetulnya memiliki konsep seperti Groundhog Day, namun tidak terasa demikian karena semua orang di kota dalam kisah ini menyadari bahwa mereka terjebak di ruang dan waktu yang sama setiap hari.

Dengan sentuhan misteri dan isekai-ish khas anime Jepang, film animasi ini mengingatkan kita pada “Your Name”, serta “Weathering With You” dan “Bubble” dengan kehadiran gadis misteriusnya. Film anime ini memiliki nuansa yang mengingatkan kita pada anime ala Makoto Shinkai.

Maboroshi

Ruang dan Waktu yang Membeku di Kota Kecil Mifuse

“Maboroshi” memiliki pembuka yang berhasil mencuri penonton dengan menimbulkan spekulasi atas apa yang sebenarnya terjadi di Mifuse. Seperti narasi film Jepang pada umumnya, lepas dari genre fantasinya, penulis kerap mempercayai kemampuan analisa penontonnya tanpa perlu menjelaskan segalanya di intro. Semakin kita memahami gambaran besar dari fenomena misterius yang sedang melanda Mifuse kita akan semakin penasaran takdir apa yang menanti mereka ke depannya.

Di tengah kebosanan dan rasa frustrasi bahwa tidak akan ada yang berubah dalam hidupnya, Masamune bersinggungan dengan teman sekolahnya, Mutsumi. Berlanjut pada interaksi mereka yang akhirnya bersama-sama menemani gadis misterius yang disembunyikan oleh para pekerja pabrik.

Masamune memberikan gadis itu nama, Itsumi. Di sini pula plot mulai rumit, sedikit terlalu rumit untuk langsung kita pahami dalam kali pertama menonton. Namun, tanpa memahami keseluruhan plot fantasi, tak mengurangi menikmati “Maboroshi” dari segi filosofi.

Latar Fantasi dengan Muatan Filosofi Eksistensi

Konflik utama yang akhirnya muncul dari “Maboroshi” adalah manusia yang merasanya nyaman dengan ilusi dan mereka yang merindukan realita. Ini kembali membawa kita pada perdebatan pil merah dan pil biru yang dipopulerkan oleh “The Matrix”. Kemudian mereka yang ingin hidup abadi dan mereka yang kehilangan semangat hidup, memilih untuk menghilang dari Mifuse, secara harfiah dalam narasinya. Inilah yang kemudian menjadi intisari dari naskah “Maboroshi”. Peleburan antara tema fantasi dan realita ini menjadi topik menarik yang bisa memancing kita untuk berpikir tentang eksistensi bahkan setelah filmnya selesai.

Kembali mengingat masa-masa pandemi, “Maboroshi” juga cukup relevan dalam menyinggung kehidupan kita selama dan sesudah fenomena global tersebut. Meski tidak secara harfiah, peradaban manusi sempat “berhenti” saat pandemi. Kita semua kembali ke rumah, bekerja dan bersekolah di rumah. Tidak ada pesta, tidak ada festival, banyak aktivitas dibekukan selama kurang lebih 2 tahun. Kemudian kini kehidupan mulai kembali pada kita, dengan kebahagian dan mimpi buruknya. “Maboroshi” akan membuat kita mempertanyakan; Eksistensi seperti apa yang memberikan kenyamanan dan kebahagia bagi kita?

Arahan Animasi Memukai, Namun Plot Sedikit Membingungkan

MAPPA sudah menjadi studio anime Jepang dengan reputasi tinggi. Mulai dari anime fenomenal, “Attack on Titan”, “Jujutsu Kaisen”, “Chainsaw Man”, dan masih banyak lagi anime populer lainnya. Seperti yang telah disebutkan, “Maboroshi” akan mengingatkan kita pada film anime ala Makoto Shinkai. Hal tersebut juga berlaku pada presentasi visualnya. Namun sebagai anime fantasi, sebetulnya tidak terlalu banyak showcase adegan fantasi yang berlebihan, untuk alasan yang tepat.

Pertunjukan visual fantasi sesungguhnya baru akan disuguhkan pada babak puncak “Maboroshi”. Adegan krusial pada babak terakhir juga sudah dieksekusi dengan pas dengan ketegangannya. Meski dijamin akan muncul berbagai pertanyaan akan hal-hal detail dalam plot film ini. Terutama tentang peran dan esensi dari ketiga karakter utama; Masamune, Mutsumi, dan Itsumi. Pada akhirnya, jika menyukai anime artistik dengan tema fenomena supranatural tidak biasa, “Maboroshi” bisa jadi tontonan yang menantang pemahaman kita akan eksistensi manusia.

The Holdovers The Holdovers

The Holdovers Review: Tidak Semua Liburan Adalah Liburan Terindah

Film

Dream Scenario Dream Scenario

Dream Scenario Review: Popularitas Berujung Mimpi Buruk

Film

Emma Stone Emma Stone

10 Film Emma Stone Terbaik dan Terikonik

Cultura Lists

Oppenheimer & Maestro Oppenheimer & Maestro

Oppenheimer & Maestro: Film Biopik yang Miliki Banyak Kesamaan

Entertainment

Connect