Connect with us
Ketika Black Lives Matter Membongkar Jejak Rasisme Negara-negara Di Dunia
Photo by Life Matters from Pexels

Culture

Ketika Black Lives Matter Membongkar Jejak Rasisme Negara-negara di Dunia

Ada banyak sejarah yang ditutupi bahkan dihancurkan demi melanggengkan rasisme sistemik.

Akhir pekan lalu lebih dari 100 orang kulit putih di Inggris melakukan kerusuhan dan ditangkap oleh polisi. Mereka awalnya mengatakan akan melakukan penjagaan terhadap monumen-monumen bersejarah dari tangan demonstran Black Lives Matter. Namun nyatanya mereka sendiri membuat keributan dengan menyerang polisi, meneriakkan kata-kata rasis pada demonstran BLM, serta melakukan hormat ala Nazi.

Sebagian dari mereka juga dalam kondisi mabuk. Mereka meneriakkan yel-yel yang menyebut nama Inggris. Kita tidak melihat adanya kekerasan yang dilakukan polisi terhadap para perusuh ini. Bayangkan bila para demonstran berkulit hitam, bukan berkulit putih. Saat kondisi menjadi rusuh dan salah satu demonstran berkulit putih terluka, ia diangkut oleh demonstran berkulit hitam untuk mendapatkan pertolongan.

Ini ironis. Ketika para perusuh itu, yang dilabeli media Eropa sebagai kelompok sayap kanan, menolak gerakan BLM justru mereka sendiri yang membuat kekacauan. Selain itu pengakuan mereka turun ke jalan untuk menyelamatkan monumen nasional dari demonstran BLM juga tidak terbukti. Salah satu demonstran sayap kanan itu justru terekam kamera mengencingi monuman di sana. BLM sendiri memutuskan tidak jadi melakukan demonstrasi untuk menghindari perpecahan.

Banyak pandangan terutama dari kulit putih yang menganggap BLM adalah gerakan sesaat saja atau sekadar pandangan politik. Padahal BLM ada bukan untuk mengkritisi Trump. BLM tidak berusaha untuk mendorong orang-orang memilih Partai Demokrat atau Republik. Justru BLM meminta agar orang-orang memilih wakil rakyat yang akan benar-benar mewakili suara mereka. Para wakil rakyat ini haruslah mau memerjuangkan hidup ras minoritas di Amerika, tak peduli asal partainya.

Justru tuntutan dari BLM adalah mengurangi pendanaan polisi. Pemerintah dianggap membuang-buang anggaran dengan membiayai kepolisian lebih dari jumlah seharusnya. Hal ini membuat polisi menjadi mudah bersikap semena-mena.

black lives matter

Photo by Maria Oswalt on Unsplash

Dalam demonstrasi BLM terutama di Amerika, polisi kerap menggunakan kekerasan seperti peluru karet dan gas air mata. Tujuan dari tuntutan untuk mengurangi pendanaan polisi dilakukan agar polisi tidak lagi dengan mudah menghujani masyarakat sipil dengan peluru, granat, maupun gas air mata.

Lalu BLM juga berharap bahwa dana tersebut dialokasikan untuk hal yang lebih bermanfaat bagi kemaslahatan bersama. Misalnya pendidikan, kesehatan, dan layanan komunitas terutama untuk masyarakat kulit berwarna. Banyak tuduhan bahwa demonstrasi ini adalah gerakan sesaat. Padahal kulit hitam sudah berupaya memerjuangkan haknya selama ratusan tahun. Ini adalah puncak dari perjuangan mereka selama ini.

Tidak Mengakui Adanya Rasisme

Salah satu masalah dari semua ini adalah masih banyak orang yang mengakui bahwa mereka tidak rasis. Misalnya dengan menuduh BLM hanyalah gerakan politik. Seorang aktivis sayap kanan Inggris, Laura Towler, membuat tweet bahwa ia senang Yorkshire Tea tidak menunjukkan solidaritas terhadap BLM. Sebagai catatan, Yorkshire Tea adalah merek teh ternama di Inggris. Ketika demonstrasi BLM menyebar ke seluruh penjuru dunia, berbagai brand ramai-ramai menunjukkan dukungannya.

Sayangnya kesenangan Laura tidak bertahan lama. Yorkshire Tea membalas tweet tersebut bahwa mereka tentu saja mendukung BLM dan tidak butuh pembeli yang rasis. Ketika beberapa orang sayap kanan bicara bahwa mereka akan beralih ke brand PG Tea, brand ini menyebutkan dukungannya terhadap BLM.

PG Tea membuat hastag #solidaritea. Laura lalu membalas bahwa apa yang dilakukan brand-brand teh ini tidak membuat sayap kanan berubah pikiran. Bahkan menurut Laura bukan tidak mungkin sayap kanan akan tetap memiliki suara kuat sehingga orang seperti Trump bisa terpilih lagi.

Robin DiAngelo, seorang peneliti dan dosen di bidang multikultural, mengatakan bahwa ia telah melihat berbagai alasan yang diajukan kulit putih untuk menolak disebut sebagai seorang rasis. Ia telah melihat bagaimana kulit putih mengaku punya anggota keluarga atau teman berkulit hitam dan tidak melakukan perbudakan.

Padahal sikap rasis bisa terlihat dengan sangat samar. Misalnya, tidak merasa bahwa angka kematian pada kulit hitam yang jauh lebih banyak selama pandemi adalah masalah. Atau tidak merasa harus ada tuntutan kepada penegak hukum agar lebih menghargai nyawa minoritas.

Rasisme adalah sesederhana memalingkan wajah ketika ada berita mengenai pembunuhan terhadap kulit hitam oleh aparat dengan beranggapan “itu bukan urusan saya.” Menurut Robin inilah yang disebut white fragility.

Orang kulit putih dianggap rapuh justru karena tidak berani membicarakan rasisme itu sendiri. Tidak mau mengakui akar dari penindasan terhadap kulit hitam. Sekalipun mereka tidak melakukannya, tapi mereka kini hidup dalam sistem yang melanggengkan hal tersebut. Maka mereka secara langsung maupun tidak telah berpartisipasi dalam rasisme.

Contohnya ketika para kulit putih membuat perlawanan dengan mengatakan bahwa monumen bersejarah tidak boleh dihancurkan hanya karena tokoh pada monumen tersebut rasis. Alasannya, agar kita bisa belajar dari sejarah.

Mengapa kita harus memertahankan bukti sejarah yang merupakan penindasan terhadap ras lain? Kita bisa belajar sejarah dari buku-buku maupun artikel di internet tentunya yang ditulis berdasarkan kenyataan, bukan mengagungkan kehebatan ras tertentu saja. Bila kita bisa memindahkan monumen Dokter James Marion Sims karena eksploitasi yang ia lakukan pada para budak perempuan kulit hitam, mengapa tidak dengan monumen lain?

Rasisme Bukan Hanya Milik Amerika Saja

Ketika protes BLM meluas di seluruh negara bagian di Amerika, banyak orang Eropa terutama aktivis sayap kanan mengatakan bahwa Eropa tidak punya masalah yang sama. Mereka menolak kenyataan bahwa mereka merupakan bagian dari rasisme itu sendiri. Misalnya dengan mengatakan Christoper Columbus adalah penemu Benua Amerika atau James Cook sebagai penemu Benua Australia. Kedua benua tersebut tidak kosong melompong. Ada penduduk pribumi yang telah puluhan ribu tahun mendiami benua tersebut.

Monumen Edward Colston

Monumen Edward Colston | Photo: Jon Kent

Demonstrasi sayap kanan yang membuat kerusuhan pada akhir pekan lalu, yang disebut ingin menjaga monumen bersejarah lainnya, sebenarnya dipicu oleh kasus Edward Colston. Ia adalah filantropi yang menyumbangkan kekayaannya untuk pembangunan Inggris. Namun kekayaannya didapatkan dari menjual budak kulit hitam.

Sejak 1672 hingga 1689, ia dipercaya telah menjual 80,000 budak yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak. Bila sayap kanan tidak terima dengan jatuhnya monumen Colston, ini sama saja dengan menolak kenyataan bahwa nenek moyang mereka adalah seorang rasis.

Namun sebenarnya usaha untuk menutupi sejarah rasisme ini bukan hal yang baru dilakukan. The Guardian melaporkan dalam artikel di tahun 2012 bahwa Inggris menghancurkan ratusan bukti kejahatan yang mereka lakukan selama kolonialisme. Semua bukti tersebut selama 50 tahun terakhir disembunyikan di Kantor Luar Negeri dan tidak bisa dijangkau oleh sejarawan maupun masyarakat umum. Pemerintah Inggris melanggar kewajiban mereka secara hukum untuk memublikasikan bukti sejarah tersebut. Lalu, bagaimana akhirnya bukti sejarah tersebut diketahui eksis?

Ternyata setahun sebelumnya sekelompok warga Kenya yang ditahan dan disiksa selama Pemberontakan Mau-mau memenangkan gugatan terhadap Pemerintah Inggris. Ketika itu Pemerintah Inggris menjanjikan akan memublikasikan ribuan bukti sejarah dari 37 bekas koloni Inggris yang selama ini tersimpan secara rahasia.

Pemberontakan Mau-mau adalah usaha Kenya untuk lepas dari penjajahan Inggris. Kenya sendiri akhirnya merdeka tahun 1963. Usaha penghancuran bukti sejarah dilakukan agar Pemerintah Inggris aman dari tuntutan hukum.

Hal yang sedikit mirip juga terjadi di Australia. Banyak masyarakat Australia tidak mengetahui jejak rasisme di negaranya sendiri. Inilah yang mendorong Jens Korff untuk membuat website Creative Spirits. Ia adalah seorang Jerman yang lahir di Australia dan tinggal hingga berusia dua tahun. Ia lalu kembali ke Australia untuk berlibur setelah lulus kuliah. Ia menyadari terbatasnya informasi mengenai kaum Aborigin. Perjalanannya di Australia mendorongnya sedikit demi sedikit mengumpulkan informasi mengenai sejarah dan kebudayaan Aborigin untuk dapat diakses dunia.

Baca Juga: Rasisme Di Australia: Perbudakan Terhadap Aborigin

Pemerintah New South Wales, negara bagian Australia, mengakui bahwa pengetahuan mengenai kaum Aborigin memang terbatas. Apa yang tersedia di masyarakat justru lebih banyak berdasarkan mitos atau hal yang fantastis. Sudah sejak lama kaum Aborigin direpresentasikan dengan tidak adil. Akhirnya sejak 2011, konten yang dipublikasikan oleh Jens Korff disimpan oleh Perpustakaan Nasional Australia sebagai bagian dari warisan sejarah negara. Walaupun ini adalah hal yang baik, cukup ironis hal ini baru dilakukan di tahun 2011. Situs Creative Spirits telah ada sejak tahun 2001.

Bagaimana dengan Kanada, tetangga Amerika? Negara ini seringkali dilabeli sebagai salah satu negara paling ramah, multikultural, dan sangat terbuka terhadap imigran. Rex Murphy, seorang penulis yang aktif berkomentar soal sosial politik di negara tersebut menganggap rasisme hanya pandangan orang Liberal saja. Ia protes bila Kanada disebut memiliki landasan rasisme. Namun hal tersebut dipatahkan ketika 12 Juni 2020 sebuah video kepala adat Suku Indian viral. Ia dihajar oleh polisi Kanada.

Dalam video tersebut, di mana ada banyak saksi mata, polisi menerjang sang kepala adat yang telah berusia tua. Alasannya, plat nomor kendaraan sang kepala adat sudah mati. Kita tentu tidak mengalami hal serupa di Indonesia. Begitu pula warga Kanada lain di negaranya terutama bila berkulit putih. Sudah jelas bahwa ini adalah rasisme. Hanya saja hal semacam ini tidak dibicarakan secara terbuka. Kelompok sayap kanan Kanada terlalu bangga dengan pemikiran bahwa mereka adalah masyarakat yang penuh keramahan dan penerimaan terhadap orang asing.

Baca Juga: Seberapa Buruk Rasisme di Amerika?

Bila kita melihat sejarah Kanada berdiri, ditulis bahwa orang-orang Indian meninggal karena penyakit dari Eropa. Mereka disebut tidak memiliki imunitas terhadap penyakit tersebut. Ini bukan hal yang salah, hanya saja ini separuh betul. Harusnya ditulis pula sejarah bagaimana orang Indian terusir dari tanahnya sendiri. Lucunya lagi, ditulis pula dalam sejarah tersebut bahwa orang-orang pribumi mengubah cara hidupnya karena kedatangan orang Eropa. Kita tentu tahu sejarah yang sama terus berulang. Kanada dibangun sama seperti Amerika maupun Australia.

Ketika sayap kanan Kanada merasa mereka bersih dibanding Amerika, maka mereka melupakan fakta orang kulit hitam di Toronto 20 kali lipat lebih mungkin ditembak aparat dibanding kulit putih. Ada banyak kulit hitam yang mendapatkan ketidakadilan dan mati sia-sia di tangan aparat. Beberapa di antaranya adalah Abdirahman Abdi, Nicholas Gibbs, Olando Brown, dan Andrew Loku. Sebenarnya daftar namanya masih banyak. Bahkan berdasarkan catatan sejak tahun 1628 hingga 1800 ada 3000 budak kulit hitam dari Amerika yang dipindahkan ke Kanada.

Sekolah Anak Suku Pribumi di Kanada

Sekolah Anak Suku Pribumi di Kanada | Source: Hamilton The Spectator

Dari tahun 1886 hingga 1996, ada 150 ribu anak dari suku pribumi yang diambil dari keluarganya untuk dimasukkan ke dalam sekolah. Tujuannya adalah program cuci otak agar mereka melupakan cara hidup sukunya dan mengikuti cara hidup orang kulit putih.

Kanada juga punya sejarah gelap dalam memerlakukan orang China dan Jepang. Mereka mendapatkan diskriminasi bahkan diasingkan walau lahir di Kanada hanya karena memiliki nenek moyang dari benua lain.

BLM membuat kita menyadari bahwa ada banyak hal dalam sejarah yang harus kita bongkar.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect