Connect with us
rasisme di amerika george floyd
Photo by Julian Wan on Unsplash

Culture

Seberapa Buruk Rasisme di Amerika?

Amerika memiliki sejarah panjang mengenai rasisme. Tak hanya pada kulit hitam saja.

Viralnya video kekejaman aparat kepolisian Amerika terhadap George Floyd memancing kemarahan publik. Namun ini bukan kasus pertama. Di Amerika maupun berbagai belahan dunia lainnya, kita dapat mengenal yang disebut sebagai rasisma terstruktur. Ini artinya rasisme itu sendiri telah menjadi sistem yang kompleks. Sistem tersebut dilindungi, dipelihara, dan dikembangkan sehingga menetap ratusan tahun lamanya. Sebagai bukti, mari kita merujuk pada sejarah pembakaran gereja kulit hitam di Amerika.

Sejak 1956 hingga 2019 setidaknya ada 100 gereja kulit hitam yang dibakar. Bahkan pada tahun 1834, sempat ada larangan bagi kulit hitam untuk beribadah. Apakah ada perubahan di masa kini? Serikat Kebebasan Sipil New York mencatat pada tahun 2019 ada 59% kulit hitam yang diberhentikan polisi di jalan.

Bandingkan dengan hanya 9% kulit putih yang mendapat perlakuan sama. Orang kulit hitam lebih mungkin disangka melakukan kriminalitas dibandingkan kulit putih. Bagaimana dengan kasus pembunuhan ataupun kekerasan terhadap kulit hitam oleh oknum polisi?

Aiyana Mo’nay Stanley-Jones (2010)

Aiyana berusia tujuh tahun ketika polisi datang untuk menangkap ayah dan pacar bibinya yaitu Charles Jones dan Chauncey Owens. Keduanya dituduh melakukakan pembunuhan pada seorang remaja bernama Je’Rean Blake. Polisi melemparkan granat melalui jendela ke dalam rumah di dekat posisi Aiyana tidur.

Nenek Aiyana yang panik berusaha menyelamatkan cucunya. Namun polisi menganggap perbuatan nenek Aiyana sebagai perlawanan. Polisi pun menembakkan senjata yang tanpa sengaja membunuh Aiyana di tempat. Polisi tersebut bebas.

Meagan Hockaday (2015)

Meagan adalah seorang ibu dengan tiga anak. Tunangannya melaporkannya ke polisi karena kekerasan rumah tangga. Meagan berusaha menusuk tunangannya dengan pisau. Saat polisi datang, Meagan tetap berusaha menghujamkan pisau pada sang kekasih. Polisi lalu menembakkan pistol empat kali dalam waktu 20 detik sehingga Meagan meninggal. Kepolisian membuat pembelaan dengan menyatakan kalau tidak ada polisi yang mau berada di posisi seperti itu.

Ahmaud Arbery (2020)

Ahmaud adalah seorang muslim kulit hitam berusia 25 tahun yang senang jogging. Suatu hari, ia jogging di siang hari dan dikejar oleh Gregory Michael dan Travic McMichael. Gregory menganggap wajah Ahmaud mirip dengan maling. Ia sendiri adalah mantan polisi. Ia dan putranya mengejar Ahmaud menggunakan mobil lalu menembakkan senjata. Kebetulan ada saksi mata yang merekam perbuatan tersebut. Kasus ini dibiarkan selama berbulan-bulan sampai akhirnya rekaman saksi menjadi viral sehingga kedua pelaku ditangkap.

Breonna Taylor (2020)

Polisi sedang mencari dua orang yang diduga menjual narkoba yang lokasinya jauh dari rumah Breonna. Tapi polisi justru mendobrak pintunya dan menembaknya sebanyak delapan kali. Breonna sendiri bekerja sebagai teknisi ruang gawat darurat.

Polisi berdalih salah satu pelaku menggunakan rumah Breonna untuk menerima paket narkoba. Selain itu polisi juga mengaku pacar Breonna menembakkan senjata lebih dulu tapi tuduhannya tidak terbukti secara hukum. 7 orang demonstran yang mengkritik kinerja polisi atas kematian Breonna justru ditembak.

Marvia Gray (2020)

Marvia adalah perempuan berusia 68 tahun yang pergi bersama anak lelakinya untuk membeli TV. Namun TV tersebut terlalu besar dan tidak muat untuk dibawa pulang dengan mobil. Marvia memutuskan mengembalikan TV tersebut. Walau ia memiliki bukti berupa nota transaksi, ia malah dituduh mencuri. Ia dan anaknya dibanting ke tanah oleh 4 polisi kulit putih. Keduanya mengalami luka-luka sampai harus dijahit. Kasus itu menjadi viral karena ada saksi mata yang merekam kejadian.

Daftar-daftar korban di atas masih jauh lebih sedikit dibanding jumlah sebenarnya. Masih ada daftar panjang mengenai nama-nama korban yang meninggal dunia. Terlebih banyak dari korban meninggal dalam kondisi yang tidak seharusnya. Misalnya berada di dalam rumahnya sendiri, berada di dalam mobilnya sendiri, dan lain-lain. Masyarakat yang muak pun memutuskan melakukan protes. Ribuan orang turun ke jalan walau Amerika masih menjadi episentrum pandemi.

rasisme di amerika george floyd

Photo by Joseph Ngabo on Unsplash

Kritikan di dalam negeri sendiri muncul karena para demonstran tidak melakukan aksi secara damai. Media di Indonesia banyak yang memberitakan penjarahan yang dilakukan para demonstran. Sayangnya baik media dalam maupun luar negeri hampir tidak memberitakan bagaimana perilaku polisi dalam menghadapi para demonstran. Para demonstran kerap merekam situasi saat protes terjadi dan mengunggahnya ke media sosial. Terlihat bahwa polisi sendiri melakukan kekerasan.

Kekerasan itu beragam. Mulai dari membanting demonstran, menabrak dengan mobil, menabrak dengan kuda, menyeret, hingga memukul. Tembakan dengan senjata api maupun gas air mata juga diarahkan pada para demonstran. Mengingat hal yang serupa juga terjadi pada aksi protes atas kematian Breonna Taylor, kita dapat menyadari bahwa ini telah menjadi pola. Kekerasan terhadap kelompok kulit hitam terjadi baik dengan alasan dugaan perbuatan kriminal maupun di ruang terbuka. Sebenarnya kekerasan ini tak hanya dilakukan polisi saja.

Memang benar penjarahan akan merugikan negara dari sisi ekonomi. Apalagi tentunya toko-toko yang dijarah pasti ada yang dimiliki oleh kelompok kulit berwarna. Namun kita harus memahami lebih banyak demonstran yang melakukan aksi damai dibanding penjarahan. Selain itu penindasan pada kulit hitam telah terjadi beratus tahun dan mereka belum mendapatkan keadilan. Tanggal 1 Juni 2020 adalah tepat 99 tahun sejak kejadian pembantaian massal terhadap kulit hitam di Tulsa. Kejadian itu dikenal sebagai pembakaran Black Wall Street.

Dimulai pada era 1920-an di sebuah distrik di mana ada sebuah komunitas yang diisi sekitar 300-an pemilik berbagai bidang usaha dari kelompok kulit hitam. Mereka punya beragam profesi mulai dari dokter, pemilik bioskop, apoteker, bahkan pilot yang mengendarai pesawatnya sendiri. Kesuksesan kelompok minoritas ini memicu rasa iri hati dari kelompok kulit putih di kota itu. Mereka menganggap kelompok kulit hitam tidak seharusnya hidup mapan.

Kemudian muncul semuah gosip bahwa seorang kulit hitam memerkosa seorang teknisi lift kulit putih. Sebenarnya si kulit hitam ini hanya terpeleset sehingga tidak sengaja menarik tangan si kulit putih. Namun si kulit putih berteriak. Meski teknisi tersebut tidak lapor polisi, pihak berwenang malah mengadili si kulit hitam. Ketegangan pun muncul di antara komunitas kulit hitam dengan kulit putih. Mereka sempat saling berhadapan. Namun esok harinya kelompok kulit putih malah membakar wilayah kelompok kulit hitam.

rasisme di amerika George Floyd

Orang-orang kulit putih menonton gedung yang terbakar. | Photo: Tulsa Historical Society and Museum

Hanya dalam 24 jam sebanyak 1200 rumah hancur terbakar. Diduga korban meninggal mencapai 300 orang. Hal itu terjadi di tahun 1921. Sayangnya, tak ada koran yang memuat berita tersebut. Pelajaran-pelajaran sejarah di sekolah juga tidak mengangkat topik itu. Kini kejadian itu telah diakui dan tidak lagi ditutupi. Namun hukum belum ditegakkan. Orang-orang yang bertanggung jawab terhadap kasus tersebut bebas tanpa tuntutan.

Berbagai video yang beredar menunjukkan banyak stigma yang diberikan oleh kulit putih baik kepada kulit hitam maupun kelompok masyarakat kulit berwarna lainnya. Mulai dari tuduhan melakukan tindakan kriminal, mengusir mereka pulang ke negaranya, hingga memaksa mereka menggunakan Bahasa Inggris. Seringkali argumen yang diangkat adalah mereka harus sadar bahwa mereka berada di Amerika. Ditekankan bahwa mereka adalah pendatang. Padahal seperti yang kita ketahui, Benua Amerika dulunya tidak diisi oleh kulit putih.

Kulit hitam juga mengalami ketidakadilan di bidang kesehatan. Berdasarkan laporan, kulit hitam meninggal tiga kali lipat lebih banyak dibanding kulit putih. Sayangnya bukan berarti hal ini hanya terjadi di Amerika saja. Menurut data di Inggris, tiap 1 euro gaji yang dimiliki seorang dokter perempuan kulit hitam, maka rekannya yang berkulit putih mendapatkan 1.19 euro. Rekan laki-laki kulit putih mendapatkan 1.38 euro.

Risiko kematian pada ibu melahirkan berkulit hitam di Inggris lebih tinggi 5 kali lipat dibanding bila ibu itu berkulit putih. Bahkan 95% dokter yang meninggal pada bulan pertama Inggris terjangkit virus corona adalah kulit hitam dan kulit coklat. Laporan mengenai kasus bully dan pelecehan terhadap tenaga kesehatan kulit hitam juga tinggi. Ditambah lagi, para petinggi sektor medis ini 92%-nya adalah kulit putih sehingga kesetaraan sulit untuk diraih.

Sebenarnya rasisme bukan masalah antara kulit putih dan kulit hitam saja. Rasisme terjadi di seluruh dunia. Tugas kita adalah memutus rantainya. Walau mungkin dunia tanpa rasisme terasa terlalu utopis namun tak ada yang salah dari berusaha. Tak ada manusia yang boleh dibiarkan mati hanya karena warna kulitnya. Semua harus sama di mata hukum dan mendapatkan keadilan.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect