Connect with us
Kendrick Lamar
Cr. Renell Medrano

Music

Kendrick Lamar: Mr. Morale & The Big Steppers Review

Insekuritas, keluarga, dan peran ayah dalam lirik-lirik rap Lamar yang realistis.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Kendrick Lamar adalah salah satu nama besar rapper dari West Coast yang terkenal dengan lagu ‘HUMBLE.’, ‘DNA.’, ‘Money Trees’, ‘Alright’, dan masih banyak lagi.

Tahun 2022, rapper yang lekat dengan daerah Compton ini merilis album kelimanya dengan judul ‘Mr. Morale & the Big Steppers’. Album ini direkam sejak awal 2019 hingga Mei 2021 dan rilis pada 13 Mei 2022. Album yang terdiri dari 19 lagu ini menjadi totalitas Lamar yang selalu tampil kritis dengan lirik-liriknya.

Album ini terbagi dalam empat bagian. Bagian pertama ‘Big Steppers’ terdiri dari ‘United in Grief’, ‘N95’, ‘Worldwide Steppers’, ‘Die Hard’, dan ‘Father Time’. Bagian kedua ‘Big Steppers’ terdiri dari ‘Rich – Interlude’, ‘Rich Spirit’, ‘We Cry Together’, ‘Purple Hearts’. Bagian ketiga ‘Mr. Morale’ terdiri dari ‘Count Me Out’, ‘Crown’, ‘Silent Hill’, ‘Savior-Interlude’, dan ‘Savior’. Bagian keempat ‘Mr. Morale’ terdiri dari ‘Auntie Diaries’, ‘Mr. Morale’, ‘Mother I Sober’, dan ‘Mirror’. Selain itu, ‘The Heart Part 5’ juga masuk sebagai bonus track untuk album ini.

‘United in Grief’ mengawali album ini dengan rap yang semakin intesif dan tempo instrumen yang kewalahan mengikutinya. Lamar menampilkan bahwa kesuksesan tidak menghindarkannya dari kekalutan pikiran. Akan tetapi, lirik “the money wipin’ the tears away” setidaknya menjelaskan bahwa kesuksesan menjadi bayaran yang setimpal atas jerih payah di masa lalunya.

‘N95’ kembali mengungkit gaya hidup mewah dalam lirik-lirik Lamar. Perbedaannya, lagu ini berusaha menanggalkan setiap aspek kemewahan itu untuk mengetahui jati diri seseorang. Bridging dalam lagu ini dengan mudah menarik perhatian. Lamar juga mengkritik fenomena cancel culture dan sikap terlalu sensitif ketika tidak memedulikan situasi lain yang lebih kritis di sekitarnya.

 

‘Worldwide Stepper’ diawali dengan ketukan kaki layaknya tap dancing, kemudian lirik diuraikan dengan iringan yang stabil, tetapi Lamar menguraikan rapnya seolah terlalu banyak yang harus dikatakan. Di tengah-tengah lagu, iringannya menjadi hip hop yang lebih santai sebelum kembali dengan iringan yang berpacu.

‘Die Hard’ adalah lagu pertama dalam format featuring di album ini. Lamar mengajak Blxst untuk mengisi chorus dan Amanda Reifer untuk mengisi post-chorus. Dengan tempo yang lebih mudah diikuti dari lagu sebelumnya, Lirik “I hope I’m not too late to set my demons straight” seolah menjadi menjadi bentuk pengakuan, keterbukaan, dan harapan untuk menata hubungan di masa depan.

Dalam ‘Father Time’, Lamar mengajak Sampha untuk mengisi bagian chorus dengan suaranya yang khas. Lagu ini mengutarakan sisi Lamar dengan daddy issues, tetapi juga mengajarkan hidup yang keras di balik sikap sosok ayah yang dingin. “Men should never show feelings, being sensitive never helped” terlihat begitu lugas dengan sisi laki-laki yang sering diabaikan di masa kini. Lamar juga sempat menyindir isu Kanye dengan Drake dalam lagu ini.

‘Rich’ – Interlude’ menjadi peralihan yang dibawakan oleh Kodak Black, meskipun tidak disebutkan sebagai featuring. Sesuai dengan judulnya, interlude ini menjadi peralihan sebelum menghadapi Lamar di lagu berikutnya dengan iringan piano yang semakin intensif dan cepat.

‘Rich Spirit’ menggunakan pola yang mudah untuk dinikmati, terutama chorus-nya yang atraktif dan mudah diikuti. Lirik “Stop playin’ with me ‘fore I turn you to a song” terasa sudah mampu menyajikan kesuksesan Lamar dengan arogan. Ia juga menyebut tokoh-tokoh penting dari berbagai agama sebagai alasan religius untuk menepi dan .

 

‘We Cry Together’ lebih terdengar sebagai pertengkaran sepasang kekasih dengan penuh ejekan dan makian. Taylor Paige menjadi sosok partner yang mampu mengimbangi Lamar dengan penjiwaan yang baik. Rapnya hampir terdengar seperti histeris. Dengan narasi yang happy ending, lirik-lirik yang saling menyerang dalam lagu ini justru menyajikan insekuritas dari masing-masing pihak dan krisis dalam menjalani komitmen.

Paige seolah menyuarakan perempuan dengan lirik “You the reason we overlooked, underpaid, underbooked, under shame”. Lamar juga tidak kalah mengkritik dengan lirik “Fake innocent, fake feminist, stop pretendin’ Y’all sentiments ain’t realer than what you defendin’”.

 

‘Purple Hearts’ dibawakan dengan tempo hip hop yang lambat dan seolah dibawakan seolah dalam kondisi melayang karena obat-obatan. Setelah Lamar mengisi verse pertama, Summer Walker mengisi verse kedua, dan Ghostface Killah menutup verse terakhir layaknya seruan dalam khotbah. Lagu ini secara beriringan membahas insekuritas tentang masalah selebritas, romansa, dan lagi-lagi berujung kepada religiositas.

‘Count Me Out’ menhadirkan kembali Lamar dengan tempo rap yang cepat dan pertanyaan-pertanyaan seputar eksistensialisme dalam liriknya. Seiring lagu berjalan, Lamar seolah menemukan kecintaan kepada dirinya sendiri hingga berulang kali merujuk lirik “This is me and I’m blessed”.

‘Crown’ sempat diiringi beberapa nada piano, tetapi pembawaannya secara berulang menjadi semakin intensif. Eksistensialisme kembali dalam lagu ini melalui lirik yang repetitif. Secara kontradiktif, Lamar berulang kali menyatakan “I can’t please everbody” di balik kepopuleran yang membebani layaknya sebuah mahkota di kepala.

‘Silent Hill’ disajikan dengan lirik yang lebih lepas seolah berusaha tetap relevan dengan tren rap akhir-akhir ini. Kodak Black terasa lebih sesuai dengan nuansa lagu ini ketika hanya menemani Lamar dalam format featuring.

Lamar rasanya memang enggan mengisi interlude seperti sebelumnya. Baby Keem justru mengambil alih ‘Savior – Interlude’, sebuah peralihan yang cukup megah dengan iringan layaknya orkestra. Menuju ke ‘Savior’, Lamar baru muncul dengan diikuti oleh Sam Dew dengan tempo khas hip hop. Rap yang dibawakan terasa lebih kental dengan ritme yang cukup intensif dan lirik chorus yang ikonik dalam lagu ini, misalnya lirik “B****, are you happy for me?” yang mudah diikuti. Lamar juga menyinggung isu pandemi, hoax, hingga politik dalam lagu ini.

‘Aunties Diaries’ menjadi lagu yang menyinggung isu LGBT dalam album ini. Dengan nada yang rendah, Lamar bersuara layaknya anak kecil yang masih polos dengan kisah hidup bibinya. Tidak hanya dengan lirik “My auntie is a man now and I took pride in it”, Lamar juga menguraikan sikap lingkungan di sekitarnya dalam menyikapi fenomena tersebut. Seiring lagu berjalan, nada Lamar menjadi semakin yakin dengan iringan orkestranya yang semakin meriah seolah lagu ini menemukan resolusinya.

‘Mr. Morale’ sudah terasa dengan nuansa yang intensif dan monolog yang intimidatif sejak bagian awal lagunya. Seolah terbangun dari mimpi buruk dengan napas yang terburu-buru, Lamar kembali berpacu dengan rapnya. “Who keep ‘em honest like us? Who in alignment like us? Who gotta heal ‘em all? Us” seolah menjelaskan makna dari Mr. Morale yang terus disebut dari lagu-lagu sebelumnya. Tanna Leone meramaikan lagu ini di verse terakhir sebelum monolog yang menutup lagu ini.

‘Mother I Sober’ menyajikan perjalanan Lamar dalam mengatasi rasa traumanya. Dengan iringan piano yang lembut dan nada Lamar yang kembali rendah seperti dalam ‘Auntie Diaries’. Lagu ini terdengar lebih jujur layaknya sebuah pengakuan dosa dan kekurangan sebagai manusia biasa. Beth Gibbons mengiringi di bagian verse dengan suara yang merdu. Lamar semakin menaikkan nadanya dengan lirik yang penuh dengan amarah dan harapan. Lagu ini menjadi semakin personal dengan suara istri dan anak dari Lamar sebagai penutup yang menyenangkan.

‘Mirror’ menjadi penutup lagu ini yang mencerminkan kembali perjalanan Lamar. Hubungan toksik menjadi latar dalam lagu ini. Liriknya berulang kali mengatakan “I choose me, I’m sorry” sebagai bentuk mencintai dirinya sendiri.

‘The Heart Part 5’ menjadi lagu bonus untuk versi digital dalam album ini dengan ritme gitar dan perkusi yang stabil. Meskipun demikian, lagu ini tidak kalah tebal dalam mengkritik budaya Afrika-Amerika dan lingkungan yang diskriminatif dan depresif. Lamar juga memberikan perhatian khusus dalam lagu ini dengan video klip yang menghadirkan wajah tokoh-tokoh terkenal dengan memanfaatkan teknologi deepfake.

Kendrick Lamar: Mr. Morale & The Big Steppers Review

 

Best Tracks

Cukup sulit untuk menentukan lagu-lagu pilihan dalam album yang tampil secara maksimal ini. Untuk urusan romansa, ‘We Cry Together’ menjadi lagu paling berhasil dalam menyajikan keintiman secara realistis. Lamar menyajikan kenyataan bahwa nuansa romantis juga tidak terlepas dari konflik dan rasa tidak percaya. Setiap pihak berusaha menyerang insekuritas dan amarah yang dipendam satu sama lain, tetapi pada akhirnya menunjukkan rasa saling membutuhkan dalam menjalani komitmen.

‘Father Time’ tidak hanya mudah dinikmati secara melodis, tetapi juga membawa daddy issues dalam krusialnya peran ayah dan moralitas di balik sikap dinginnya yang mengorbankan emosi demi mengutamakan keluarganya. ‘Mother I Sober’ dan ‘Aunties Diaries’ juga cukup personal dalam menyajikan kehidupan sosok Lamar.

‘N95’ berhasil sebagai salah satu lead single yang tidak mampu lepas dari ingatan. ‘The Heart Part5’ terlihat paling realistis dengan kondisi diskriminasi yang masih hangat dalam konteks sosial saat ini. Tidak jarang jika lagu ini  meraih beragam penghargaan secara khusus, termasuk Record of the Year, Best Rap Performance, hingga Song of the Year di 65th Grammy Awards mendatang.

‘Mr. Morale & the Bis Steppers’ meraih kesuksesan dari aspek penjualan maupun penghargaan. Di tahun 2022, album ini memenangkan Favorite Hip Hop Album di American Music Awards dan Album of the Year di BET Hip Hop Awards. Album ini juga meraih 8 nominasi di 65th Grammy Awards, termasuk Album of the Year dan Best Rap Album di tahun 2023 mendatang.

Whatever People Say I Am, That's What I’m Not Whatever People Say I Am, That's What I’m Not

Arctic Monkeys: Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not Album Review

Music

Phoebe Bridgers Phoebe Bridgers

Phoebe Bridgers: Punisher Album Review

Music

Metro Boomin Metro Boomin

Metro Boomin: HEROES & VILLAINS Album Review

Music

SZA SOS SZA SOS

SZA: SOS Album Review

Music

Connect