Connect with us
Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso

Film

Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso Review

Angkat lagi kasus pembunuhan kopi sianida kontroversial tanpa informasi baru.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

7 tahun telah berlalu, kasus pembunuhan kopi sianida Jessica Wongso masih kembali dibicarakan dengan rilisnya dokumenter kriminal, “Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso” di Netflix.

Pada 2016, masyarakat Indonesia sempat dibuat ramai dengan kematian tragis dari Wayan Mirna Salihin di Olivier Grand Indonesia dengan terdakwa Jessica Wongso. Pasti masih ingat ramainya kasus ini media, beberapa dari kita mungkin mengikuti dengan serius proses persidangannya, selalu jadi bahan pembicaraan setiap kali kumpul bersama teman-teman.

Meskipun kasus ini sempat booming dan memakan proses persidangan yang panjang, hingga saat ini masih simpang siur tentang kebenaran dari kasusnya. Karena Jessica Wongso, bahkan setelah dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun, mengaku tidak bersalah atas tuduhan yang dituntutkan. Pandangan masyarakat yang menyaksikan persidangan juga sempat dan masih terbelah menjadi dua; yakin bahwa Jessica bersalah dan masih merasa kurang diyakinkan karena bukti yang multitafsir. Belum lagi kasus ini telah digulir seperti bola salju di ranah publik dengan opini dan fakta yang melebur jadi satu. Belum lagi pengaruh bias.

Tidak ada objektif lain yang kita harapkan dari “Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso” selain kebenaran dan jawaban dari dokumenter kriminal oleh Herwin Novianto.

Pada titik ini, dokumenter kriminal Netflix menjadi semacam konten instan yang selalu ada setiap bulan. Ada yang tenggelam dalam lautan katalog, ada yang viral dan menimbulkan perbincangan hingga kontroversi. Sebetulnya ekspektasi cukup rendah karena hampir mustahil mendapatakan jawaban dari dokumenter sekelas Netflix, melihat lagi pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini.

Hadirkan Wawancara Narasumber Baru, Namun Kronologi Kasus Masih Sama

Seperti dokumenter kriminal pada umumnya, ‘Ice Cold’ dilengkapi oleh berbagai dokumentasi footage berita, wawancara, talkshow yang sudah tayang di stasiun nasional pada saat kasus ini masih hangat di media. Buat yang setia mengikuti berbagai tayangan seputar kasus Jessica Wongso pada masanya, mungkin sudah tidak asing lagi dengan footage-footage ini.

Footage yang dihadirkan pun memiliki kualitas yang sangat rendah. Editor dokumenter tampak tak ambil pusing untuk merestorasi kualitas video dan gambar untuk disertakan dalam film ini.

Kalau soal akurasi kronologi dan kelengkapan informasi level permukaan, dokumenter ini sangat lengkap. Mulai dari awal berita muncul di media, perkembangan dari persidangan, latar belakang Jessica Wongso dan Mirna sebagai korban juga diulik sajikan dengan lengkap. Dimana sudah juga sudah bukan hal yang baru lagi. Media pada masanya juga tidak kurang-krang mengeksploitasi identitas dari pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini. ‘Ice Cold’ juga menyajikan informasi dengan runtutan yang cukup rapi dari awal sampai akhir, namun tetap saja; tidak ada yang baru.

‘Ice Cold’ namun menghadirkan wawancara update dari ayah Mirna Edi Darmawan Salihin, pengacara Jessica Wongso Otto Hasibuan, Direktur ICJR Erasmus Napitupulu, toxicologist Budi Budiawan, dan beberapa narasumber lain yang bersinggungan langsung dengan kasus ini. Ada juga narasumber dari pakar-pakar yang dihadirkan untuk membahas kasus ini dari berbagai perspektif. Namun perbincangan demikian pada masanya juga sudah dibahas dimana-mana oleh narasumber di bidang yang sama.

Dokumenter Kriminal dengan Narasi Netral

“Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso” termasuk dokumenter kriminal yang ‘main aman’ dalam menyajikan kasus paling kontroversial pada masanya. Sebagai kasus yang masih simpang siur kebenarannya, ‘Ice Cold’ juga tak mau ambil resiko berpihak pada pihak tertentu dalam kasus ini. Merupakan pilihan yang adil dalam menghadirkan narasumber yang mewakili dua pihak. Dokumenter ini juga mengalami kendala dalam melakukan wawancara dengan Jessica Wongso, sosok yang paling penting dalam kasus ini (bahkan namanya tercantum dalam judul).

Pada babak pertama, informasi yang disampaikan hendak membenarkan bahwa Jessica Wongso memang bersalah. Namun menuju akhir dokumenter, dipaparkan berbagai informasi yang membuat kita mempertanyakan kembali kebenaran dan perspektif lain dari kasus ini. Baik dalam segi persidangan hingga pengaruh opini dan psikologi publik.

Pada akhirnya, dokumenter yang harusnya memberikan jawaban malah balik “bertanya” balik kepenontonnya. Setelah 7 tahun melupakan rumitnya kasus ini, masyarakat Indoensia kembali diajak berdiskusi dengan materi yang sama dan tidak pernah ada jawaban pastinya.

Lagi-lagi Dokumenter Kriminal Netflix Hanya Cari Sensasi

Film dokumenter kriminal telah mengalami pergeseran intisari dan objektif belakangan ini. Ketika semua orang berpikir apapun bisa dijadikan film dokumentasi, terutama kasus pembunuhan. Dari judulnya saja tidak menarik ekspektasi, bahkan yang lebih penting, tidak memberikan pencerahan fakta untuk Jessica Wongso; baik ia adalah pihak yang bersalah atau tidak dalam kasus ini.

Dokumenter sudah semestinya memiliki visi yang jelas, memiliki pesan yang tajam dan bersifat mencerahkan. Ini lebih dari sekadar rekap ulang informasi yang sudah tidak baru lagi dan berpikir hanya dengan dikemas dengan format baru lantas menjadi sajian yang solid. Dokumenter ini tidak memberikan keadilan pada dua pihak yang terlibat, tidak pula memberikan pencerahan pada penonton; lantas objektif dokumenter ‘Ice Cold’ perlu dipertanyakan.

Kesannya jadi ini hanya menjadi dokumenter Netflix yang hadir untuk sensai. Karena lepas dari kualitas maupun eksekusi yang baik atau buruk, sesuatu yang viral dan ramai diperbincangkan pastinya mengundang audience untuk menonton. Mungkin dokumenter ini bisa menarik untuk yang tidak mengikuti kasus Jessica Wongso pada masanya. Namun buat penggemar kasus kriminal dan dokumenter kriminal, kecil kemungkinan penonton tidak familiar dengan kasus ini.

“Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso” hadir sebagai dokumenter yang sesuai ekspektasi; hanya dokumenter biasa yang memenuhi katalog Netflix hanya untuk viral sesaat di media sosial.

No More Bets No More Bets

No More Bets: Kisah Korban Penipuan dan Judi Online

Film

The Day Before the Wedding The Day Before the Wedding

The Day Before the Wedding: Balada Persahabatan Cosplayer Pengantin

Film

Arthur the King Arthur the King

Arthur the King: Cukup Menyentuh Walau Klise

Film

Lost in Translation & Her: Kesepian dan Perpisahan dari Dua Perspektif

Film

Connect