Connect with us
Crater
Disney

Film

Crater Review: Trip Lima Sekawan Menuju Kawah Bulan

Film petualangan sci-fi Disney+ Original lebih potensial sebagai serial dari pada film.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Crater” merupakan petualangan sci-fi Disney+ Original terbaru yang disutradarai oleh Kyle Patrick Alvarez. Dibintangi oleh lima aktor muda, Isaiah Russell-Bailey, McKenna Grace, Billy Barratt, Orson Hong, Thomas Boyce, dan Scott Mescudi.

Dipromosikan sebagai film dari produser yang sama dengan serial misteri terpopuler di Netflix, “Stranger Things”, Shawn Levy, namun “Crater” sebetulnya memiliki niche yang cukup berbeda dengan serial tersebut.

Setelah ayahnya meninggal karena insiden di petambangan di koloni bulan, Caleb menjadi yatim piatu dan dijadwalkan untuk pindah ke Omega dalam waktu beberapa hari. Tak bisa menghentikan takdirnya, Caleb bersama teman-temannya pun merencanakan road trip pertama mereka menuju kawah misterius untuk memenuhi wasiat ayahnya. “Crater” merupakan film drama coming of age, sci-fi, petualangan, dan road trip dengan tema luar angkasa yang family friendly.

Crater

Trip Terakhir Lima Sekawan di Permukaan Bulan

Berlatar pada 2257, manusia membuat koloni di bulan yang akhirnya mengalami kegagalan. Orang-orang Bumi yang terlanjur pindah ke bulan akhirnya terjebak dalam kontrak bekerja selama 20 tahun sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan untuk pindah ke planet baru, Omega. Jika mereka meninggal sebelum kontrak kerja selama 20 tahun terpenuhi, maka kerabat atau keturunannya yang telah berusia 18 tahun harus menggantikan posisinya.

Caleb telah menjadi yatim piatu di koloni sebelum menginjak 18 tahun, sesuai wasiat ayahnya, ia ingin putranya di kirim ke Omega. Omega adalah planet baru yang dijadikan tujuan koloni berikutnya. Namun Caleb sebetulnya berharap bisa tetap tinggal di bulan bersama teman-temannya saja. Karena tidak bisa lagi bermain bersama di tahun-tahun mendatang, Caleb bersama Dylan, Marcus, Borney, dan teman baru mereka dari Bumi, Addison, merencanakan roadtrip untuk pertama dan terakhir kalinya menuju kawah misterius sesuai peta peninggalan ayah Caleb.

“Crater” memiliki plot petualangan lima sekawan yang to the point. Mulai dari latar belakangan, tujuan, perencanaan, hingga agenda petualangannya, semua memiliki poin-poin yang jelas. Mungkin terlalu muda dan ringan untuk cukup menghadirkan ketegangan yang sesungguhnya.

Secara keseluruhan agenda petualangannya diisi dengan agenda-agenda yang cukup main aman, mulai dari bermain dengan tangki oksigen, hujan meteor, dan momen-momen lainnya dalam plot road trip. Namun semua agenda terlihat main aman dan beberapa terasa dragging.

Butuh waktu untuk kita merasakan ikatan emosional dengan setiap karakternya, tidak akan langsung click dengan chemistry mereka. Pada titik tertentu, ada momen-momen yang akhirnya terasa emosional dan puitis dalam segi narasi.

Crater

Sinematografi dan Produksi Sci-Fi Remaja yang Cukup Berkesan

Sebetulnya “Crater” tidak jauh berbeda dengan tipikal film-film bertema road trip yang pernah ada sebelumnya. Contohnya seperti “Stand By Me” atau “Journey to the Center of the Earth”. Bedanya film terbaru ini hendak memberikan pengalaman road trip di permukaan bulan. Petualangan di mulai dari dome, dimana manusia tinggal ketika sedang tidak bekerja di tambang. Kemudian perjalanan di luar dome menuju kawah sebagai lokasi misterius.

Secara keseluruhan, tema visual “Crater” sudah cukup menghadirkan pengalaman penjelajahan luar angkasa yang megah. Arahan kostum dan interior memiliki konsep yang sesuai dengan ekspektasi kita semua yang familiar dengan skena sci-fi.

Meski tidak bisa dikategorikan sempurna, karena detail-detail seperti hukum fiksi ilmiahnya juga tidak terlalu dijelaskan. Jadi pengalaman yang disajikan masih terasa seperti visual buatan, bukan pengalaman immersive yang terasa meyakinkan seperti film-film luar angkasa yang sudah pernah kita tonton sebelumnya.

Lebih Berpotensi Sebagai Serial, Banyak Plot Hole dan Misteri Tak Terjawab

“Crater” sejak awal terlihat lebih memiliki banyak potensi sebagai serial, minimal dikembangkan sebagai miniseries. Ada banyak aspek menarik yang sayangnya hanya dideskripsikan melalui dialog. Mulai dari proyek koloni bulan itu sendiri, proyek Omega, kecurangan kontrak kerja dan perbudakan modern, hingga misteri dari meninggalnya ayah Caleb.

Setiap karakter juga memiliki kisah masing-masing yang sayang sekali hanya disajikan secara prematur. Lagi-lagi hanya dalam dialog diantara kelima karakter selama road trip. Dimana eksekusi percakapannya juga masih kurang berkesan, hanya membuat penonton cukup tahu saja. “Crater” dari awal membuat kita penasaran dengan banyak misteri, membuat kita mengantisipasi reveal atau plot twist pada titik tertentu dalam plot. Jika itu yang kita harapkan, film ini tak lebih dari sekadar film tentang road trip lima sekawan di bulan. Tak akan ada ledakan plot yang berlebihan untuk membuat kita merasa mendapatkan jawaban apapun.

Secara keseluruhan, “Crater” merupakan film road trip di permukaan bulan yang bisa lebih baik lagi. Punya banyak potensi, namun hanya menampilkan cerita level permukaan tanpa eksplorasi lebih mendalam. Namun, masih cukup menghibur sebagai tontonan bersama keluarga di akhir pekan.

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Monkey Man Review Monkey Man Review

Monkey Man Review: Bukan John Wick Versi India

Film

The First Omen The First Omen

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Film

Connect