Connect with us
Caroline Polachek: Desire, I Want to Turn Into You
Cr. Aidan Zamiri

Music

Caroline Polachek: Desire, I Want to Turn Into You Album Review

Caroline Polachek merayakan musik melalui berbagai elemen musik sebagai representasi dualitas hasrat yang kacau sekaligus indah.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Caroline Polachek merilis album kedua di bawah nama pribadinya pada Hari Valentine 2023, “Desire, I Want to Turn Into You”. Sebelumnya penyanyi asal Amerika Serikat ini telah merilis debut solo pada 2019 lalu, “Pang”.

Masih serupa dengan album debutnya tersebut, album kedua ini kembali menunjukan potensi terbaik dari Polachek sebagai solois, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Namun sebagai rilisan album akumulatifnya dengan kiprah produser sekaligus vokalis dari band indie pop Chairlift, ini menjadi album keempat yang ia produksi. Jadi tak heran melihat kualitas album solo kedua ini Polachek sudah tampil semakin mantap dalam bermusik.

“Desire, I Want to Turn Into You” menjadi album yang merayakan musik pop dan hasrat. Caroline Polachek mulai mengerjakan album ini ketika sedang pandemi dan sedikit waktu luang di tengah tour-nya bersama Dua Lipa pada 2022 lalu. Album ini menjadi karya yang memiliki konsep maksimal karena Polachek memiliki hasrat untuk mengaplikasikan berbagai elemen yang bisa ia pikirkan.

Album ini menggunakan emosi sebagai mediumnya, karakter, dan bagaimana berbagai hal terus bergerak dan mengalami perubahan. Mengandung perasaan dan energi yang kuat, Polachek tak ingin dimengerti dengan cara yang gamblang. Namun dengan pendekatan artistiknya, hendak mengajak pendengarnya merasakan dan mengalami meski tanpa harus memahami secara harfiah tentang segalanya.

The Gist:

“Desire, I Want to Turn Into You” menjadi eksplorasi mendalam akan berbagai lapisan dari sifat ‘hasrat’. Memahami hasrat sebagai dorongan yang kuat, baik sebagai kekuatan yang transformatif dan menggebuh-gebuh. Polachek menggali kompleksitas cinta, menjadikannya sebagai potrait sebagai dorongan yang bisa jadi mengerikan, menakjubkan, dan kejam secara bersamaan. Album ini hendak menjadi saksi dari pengejaran tanpa henti ketika kita menginginkan sesuatu, mendorong kita untuk menelusuri luasnya kehidupan.

Caroline Polachek ingin menjadi artis dalam albumnya ini yang mempresentasikan hasrat sebagai sesuatu yang mampu menimbulkan kekacauan maupun keindahan. Dualitas tersebut juga menjadi konsep dari art cover album ini. Dimana Caroline Polachek merangkak di kumuhnya lantai subway, namun memiliki sorotan mata penuh ambisi menuju ‘nirwana’, tempat yang indah, disimbolkan dengan pasir yang terlihat sureal. Polachek hendak merangkul kenikmatan kehancuran dengan pasrah, demi menunjukan kekuatan cinta yang transformatif.

Jika “Pang” mengeksplorasi tema transisi dan pergerakan, album ini mengakar di tempat yang lebih nyata. Lagu-lagu dalam tracklist-nya menjadi potrait dari cinta yang mendalam, pengalaman yang mengkonsumsi diri, momen yang menantang dengan menutut kesabaran dari pelakunya dan cinta yang berkelanjutan. Ini mungkin bukan definisi cinta yang universal, namun jelas ada dan bersemayam di dalam diri beberapa manusia di luar sana.

‘Desire’ adalah ilustrasi dari pengalaman memikat yang mampu membuat kita akhirnya berkomitmen. Sementara ‘I Want to Turn Into You’ bisa diartikan sebagai cinta yang begitu besar, hingga dalam pengejarannya kita tak keberatan untuk kehilangan jati diri.

Sound Vibes:

Dalam press-nya, Polachek mengungkapkan bahwa dalam mengerjakan album ini, ia terisnpirasi oleh banyak musisi lintas genre. Mulai dari Massive Attack, SOPHIE, Donna Lewis, Madonna, The Beach Boys, Timbaland, dan masih banyak lagi. Dengan semangat inspirasi tersebut, cukup solid menyebutkan bahwa album ini memang suatu ‘perayaan’. Meski kita tidak akan mendengar referensi tersebut secara gamblang, musisi-musisi tersebut hanya gambaran kasar dari cita rasa suara dari album ini.

“Desire, I Want to Turn Into You” terangkai dari 12 track dengan genre trip-hop, psychedelic folk, breakbeats, instrumen gitar Spanyol, sentuhan musik 60an, hingga paduan suara. Perayaan musik dalam album Polachek ini semakin meriah dengan hadirnya Dido dan Grimes sebagai kolabolator untuk track ‘Fly to You’. Ini mengapa Polachek juga menyebutkan bahwa album ini memiliki konsep ‘maximalist’. Arahan musik ini serasi dengan pesan yang ingin Polachek sampaikan tentang dualitas hasrat yang kacau sekaligus indah.

Best Tracks:

“Welcome To My Island” menyambut pendengarnya dengan pesona vokal Caroline Polachek, teriak ethereal-nya yang siren yang memikat, tak mungkin kita mengabaikan album ini setelah mendengar nyanyian Polachek pada track pembuka ini. Ini juga menjadi lagu pertama yang ia tulis untuk album ini. Ada transisi kontras yang terdengar dengan pembuka yang terdengar folky, kemudian beralih ke sassy pop memasuki bait pertama. Dua nuansa tersebut terdengar harmonis beriringan mengaluni lirik tentang curhatan akan rasa frustasi yang primal.

“Bunny Is a Rider” menjadi track pop dengan komposisi yang catchy dan lembut. Ini adalah lagu musim panas ala Caroline Polachek yang angkat tema tentang ketidaktersediaan. Dalam track ini kita bisa mendengarkan bagaimana Polachek mengkomposisi musik seperti Timbaland. Sepanjang lagu, “Bunny Is a Rider” tidak memiliki perubahan beat, mengalun secara konsisten dengan melodinya yang candu. Dijamin langsung jadi salah satu yang terfavorit dari penggemar, karena ini juga menjadi track favorit Polachek.

“Fly to You” pastinya menjadi track yang mencolok karena kolaborasinya dengan Grimes dan Dido. Mengagumkan bagaimana Caroline Polachek, Grimes, dan Dido mampu merangkai satu track yang mengandung setiap elemen dari musik mereka, dimana kita tahu ketiga musisi ini memiliki latar genre yang cukup berbeda satu sama lain. Kita akan mendengar komposisi ethereal pop, electronic, breakbeats yang paling mencuri perhatian hingga petikan gitar akustik. Mixing vokal ketiga musisi ini juga dieksekusi dengan baik untuk menghasilkan harmoni yang sempurna.

Caroline Polachek telah menyelamatkan masa depan dan berlanjutan kualitas musik pop universal dengan “Desire, I Want to Turn Into You”. Sudah jelas bahwa ini menjadi kandidat kuat sebagai album terbaik dari 2023. Polachek menampilkan potensi dari musik pop yang sesungguhnya, ini genre yang lebih luas dari yang kita yakini. Cukup melegakan juga bahwa masih ada apreasiasi besar untuk spektrum pop seperti ini di skena utama tahun ini.

MTV Unplugged in New York - Nirvana MTV Unplugged in New York - Nirvana

10 Album Musik Ikonik 30 Tahun di 2024

Cultura Lists

Hozier - Unreal Unearth Hozier - Unreal Unearth

Cultura Best 2023: Album Musik Terbaik

Cultura Best

Paramore: This is Why Album Paramore: This is Why Album

Paramore: This is Why Album Review

Music

Red Velvet: Chill Kill Red Velvet: Chill Kill

Red Velvet: Chill Kill Album Review

Music

Connect