Connect with us
Carol & the End of the World Review
Netflix

TV

Carol & the End of the World Review: Menemukan Kenyamanan di Tengah Kebosanan

Ketika kenyamanan ditemukan di tengah rutinitas pekerja kantoran yang membosankan dan monoton.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Carol & the End of the World” merupakan serial animasi dewasa Netflix Original terbaru. Setelah “Leave the World Behind”, animasi ini menjadi satu lagi sajian bertema apocalypse yang akan menggelitik krisis eksistensi kita menjelang tahun baru.

Diciptakan oleh Dan Guterman, ia sebelumnya terlibat dalam produksi sitkom “Community” dan animasi “Reck and Morty”. Guterman juga sempat menjadi penulis artikel satir di situs The Onion. Buat yang menyukai serial dewasa unik di Netflix seperti “The Midnight Gospel”, ini bisa jadi tontonan baru yang dicari-cari.

Ketika meteor akan memusnahkan kehidupan di Bumi dalam waktu beberapa bulan, semua orang berlomba-lomba memenuhi bucket list mereka dan merayakan kehidupan secara maksimal dengan kegiatan-kegiatan gila. Namun Carol tidak tahu apa yang ia inginkan dan merasa terisolasi di tengah orang-orang yang berjiwa bebas. Hingga akhirnya ia menemukan The Distraction, perusahaan akuntasi yang masih beroperasi dan memberikan ketenangan untuk Carol dalam rutinitas monoton yang sudah lama dilupakan menjelang akhir zaman.

Carol & the End of the World Review

Surat Cinta untuk Kehidupan yang Monoton dan Membosankan

Melihat judul dan trailer-nya, kita memiliki ekspektasi tertentu akan “Carol & the End of the World”. Carol tidak tahu apa yang ia inginkan dalam hidupnya, bahkan menjelang akhir dunia, ketika semua orang melakukan berbagai hal, memastikan mereka tidak melewatkan apapun. Ada asumsi bahwa ini akan menjadi kisah tentang wanita dengan kehidupan yang monoton, bersiap menyambut kehidupan yang sesungguhnya dengan melakukan berbagai aktivitas yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Yang membuat serial apocalypse ini spesial dari skenanya adalah karena pesan yang disampaikan justru jauh dari ekspektasi tersebut. Tidak semua orang mengharapkan perubahan drastis atau menggila di akhir jaman. Salah satunya Carol yang rindu ketika kehidupan di Bumi diisi dengan rutinitas yang monoton, membosankan, namun memberikan kenyamanan dengan kestabilannya.

Ketika kakaknya keliling dunia dan orang tuanya menjalani hubungan throuple serta berlibur di kapal pesiar mewah, Carol bahagia bekerja sebagai admin di The Distraction. Menjadi perbincangan yang menggelikan ketika rekan kerja Carol mengatakan menstaples dokumen adalah kegiatan favoritnya, sementara Carol menyukai post-it. Mungkin, ketika dunia kelak kacau dan aktivitas gila menjadi tren dimana-dimana, kita juga akan merindukan kehidupan sesederhana bekerja di kantor dari pagi hingga sore. Seperti kegiatan tersebut adalah aktivitas yang theurapic.

Gaya Narasi yang Berbeda pada Setiap Episode

Meskipun ini adalah kisah tentang apresiasi pada rutinitas yang monoton, “Carol & the End of the World” memiliki gaya narasi cerita yang berbeda setiap episode-nya. Episode pertama dan kedua mengajak kita memahami latar utama dari serial ini; mengenal Carol dan The Distraction. Pada episode ‘Sisters’, kita akan mengikuti Carol bersama saudaranya, Elena, mendaki bersama di akhir pekan. Dimana kita melihat semuanya dari sudut pandang kamera video Elena yang mengabadikan momennya bersama saudara satu-satunya tersebut.

‘David’ menjadi episode yang menarik ketika Carol berusaha meningat semua nama rekan kantornya dan membantu salah satu dari mereka beristirahat dengan tenang. ‘The Beetle Broach’ menjadi episode semi-anthology tentang setimen dari setiap barang yang tampak biasa saja. Hingga akhirnya ‘The Investigation’ sebagai episode penutup yang emosional dari sudut pandang HR The Distraction.

Selain perkembangan karakter Carol, interaksinya dengan Donna dan Luis, rekan kerja terdekatnya, sangat menarik untuk disimak. Ketiganya adalah kepribadian yang berbeda satu sama lain, namun menemukan kenyaman pada hal yang serupa. Animasi ini juga diisi dialog-dialog komedi dewasa barat yang khas.

Carol yang Tidak “Sebiasa” Ekspektasi Kita

Sekilas, Carol terlihat seperti karakter yang membosankan. Bahkan nada bicaranya saja sangat datar dan jarang menunjukan perubahan emosi dalam situasi apapun. Namun seiring kita mengikuti rutinitas Carol di akhir jaman, kita mungkin akan semakin memahami perjuangan sang protagonis. Terutama bagi kita yang mengalami kesulitan menemukan hal yang kita inginkan, tidak berani mengambil resiko, dan berharap tidak mengalami terlalu banyak hal dalam kehidupan karena rasa takut akan membuat kesalahan.

Namun, sekalipun Carol mengharapkan rutinitas yang stabil dan tenang, ia juga menunjukan kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia. Tak hanya bekerja sebagai “mesin”. Gaya hidup yang kita saksikan dari Carol melalui serial ini mengingatkan kita bahwa pekerja kantoran yang selama ini kita anggap membosankan juga bisa menjadi pekerjaan yang memberikan kenyaman bagi pelakunya. Beberapa dari mereka juga memiliki passion dan dedikasi seperti halnya seniman atau penjelajah di luar sana.

Seperti Carol yang awalnya merasa tidak menemukan “tempat”-nya, akhirnya menemukan hal yang ia inginkan sebagai pegawai The Distraction. Dimana ia menjadi “primadona” karena keramahannya yang sebetulnya biasa saja dan memiliki teman lebih dari yang ia miliki di masa remajanya. Perkembangan karakter yang cukup sederhana, namun kerap kita sepelekan dalam kehidupan yang biasa saja ini.

A Murder at the End of the World A Murder at the End of the World

A Murder at the End of the World (Finale) Review

TV

Avatar: The Last Airbender Avatar: The Last Airbender

10 Serial Animasi Anak-anak Populer yang Juga Menghibur Penonton Dewasa

Cultura Lists

Orion and the Dark Orion and the Dark

Orion and the Dark Review: Eksplorasi Keindahan dalam Kegelapan

Film

A Shop for Killers A Shop for Killers

A Shop for Killers Review: Aksi Lee Dong-wook dan Kim Hye-jun dalam K-Drama Laga

TV

Connect