Connect with us
Becket Review
Netflix

Film

Beckett Review: Aksi Pengejaran dengan Bumbu Konspirasi Politik

Ketika seorang turis berada di lokasi dan waktu yang salah.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Beckett” merupakan film terbaru Netflix karya sutradara Ferdinando Cito Filomarino, dibintangi oleh John David Washington. Beckett dan kekasihnya sedang berlibur ke Yunani, layaknya dua turis biasa yang sedang dimabuk cinta. Hingga mereka tergelincir dalam situasi dan waktu yang salah.

Lepas dari konspirasi dan kekacauan politik di sekitarnya, Beckett hanya ingin kembali ke Amerika dengan selamat. Namun, dirinya sudah terjatuh terlalu dalam untuk tidak peduli.

John David Washington telah menorehkan banyak prestasi dalam berbagai judul film berkualitas beberapa tahun belakangan. Apakah “Beckett” menambah koleksi film terbaik dari anak Denzel Washington ini?

beckett netflix

Film Aksi Pengejaran yang Melelahkan

‘Seorang turis yang berada di lokasi dan waktu yang salah’, kalimat paling singkat dan jelas untuk mendeskripsikan sinopsis “Beckett”. Sekali lagi, John berperan sebagai “The Protagonist”, karena pada akhirnya konsep dari karakter Beckett adalah pria biasa yang sebetulnya irelevan dengan kisah utama. Beckett hadir sebagai pahlawan dadakan tanpa motivasi yang berkesan. Ia hanya orang baik yang memiliki kesempatan untuk peduli.

Film dibuka dengan adegan-adegan romantis yang cukup membosankan. Kita mungkin akan kelewatan memperhatikan beberapa overshadowing yang memengaruhi kelanjutan kisah Beckett dan kekasihnya. Butuh sekitar 10 menit hingga kita masuk awal dari petualangan Beckett.

Kemudian sekitar 1 jam sampai kita memahami apa yang sedang terjadi. Kita akan sama bingungnya dengan Beckett sebagai turis yang dikejar-kejar tanpa tahu alasannya. Dari satu penduduk lokal, bertemu dengan penduduk lokal lainnya, menelusuri lokasi-lokasi di Yunani yang tak jelas. Membuat kita keburu lelah dan bosan sebelum masuk dalam kisah utama yang terlalu jauh.

Sebetulnya formula tersebut memiliki maksud untuk membangun ketegangan sebagai turis yang luntang-lantung dalam ancaman yang tidak jelas di negara orang. Namun, ada banyak elemen dalam film ini yang tidak mendukung target tersebut.

Beckett

Kehadiran John David Washington yang Tidak Menyelamatkan Film

“Beckett” merupakan satu lagi contoh bahwa memilih aktor populer dalam film bukan modal utama. Beberapa contoh sebelumnya adalah Anthony Mackie dalam “Outside the Wire” hingga Mads Mikkelsen dalam “Polar”.

Kredibilitas John David Washington sebagai aktor papan atas Hollywood sudah tidak diragukan lagi. Setidaknya ada tiga film yang menunjukan potensi maksimalnya; “BlacKkKlansman” (2018), “Tenet” (2020), dan yang paling baru awal tahun ini, “Malcolm & Marie” (2021).

Sutradara seakan hendak “meminjam” kesuksesan “Tenet” untuk film ini. Meski memiliki cerita yang jauh berbeda, setidaknya sama-sama bergenre action dengan sentuhan drama.

Faktanya, aktor sekalipun membutuhkan arahan dalam mengeksekusi sebuah peran. Tak hanya tersesat di jalanan Yunani, John juga terlihat kebingungan dalam mengeksekusi akting yang tepat. Ada babak krusial yang membuat kita bingung ketika Beckett tidak memberikan ekspresi sesuai dengan ekspektasi.

Kemudian berpadu dengan penulisan dialog yang kurang cerdas. Tidak sepenuhnya menampilkan akting yang tak terarah, setidaknya ada satu dua adegan yang akhirnya menarik perhatian karena John menunjukan akting yang emosional.

Tidak Ada Momentum, Musik Latar Tidak Konsisten

Satu lagi poin minus dari “Beckett” adalah musik latar atau skoring yang tidak konsisten. Pada adegan pengejaran pertama, kita akan mendengar skoring bernuansa Hitchcockian, dengan gesekan violin yang memekik dan dinamis.

Di sela-sela film, disematkan pula skoring orkestra yang mainstream namun tidak berkarakter. Hingga pada babak terakhir, tiba-tiba kita mendengar skoring dengan gebukan jazz drum ala “Whiplash”. Tak hanya musik latar yang tidak berkarakter, sinematografi film ini juga biasa saja.

Dari satu babak ke babak lainnya, “Beckett” tidak memiliki momentum yang menandai sebuah adegan krusial. Selain sinematografi dan musik yang biasa saja, kualitas naskah dan editing film ini tidak dirancang untuk memikat. Beberapa adegan aksi mudah ditebak, kemudian terlalu banyak kisah yang diceritakan berulang kali dengan penyampaian kurang artistik sebagai sebuah seni film.

Pada akhirnya, “Beckett” sebetulnya memiliki pesan yang cukup bermakna; terkadang kita berada di situasi dan waktu yang salah untuk menyelamatkan orang lain. Meski harganya tidak murah dan tidak sepadan. Sayangnya, pesan tersebut tidak dijabarkan menjadi materi film yang memikat dari awal hingga akhir.

A Boy Called Christmas Review A Boy Called Christmas Review

A Boy Called Christmas Review: Tentang Harapan dalam Kemalangan di Hari Natal

Film

The Forgotten Battle The Forgotten Battle

The Forgotten Battle Review: Film Perang Dunia II dengan Tiga Sudut Pandang

Film

Hellbound Review Hellbound Review

Hellbound Review: Terbentuknya Distopia dari Teror Neraka di Bumi

TV

The Whole Truth Review The Whole Truth Review

The Whole Truth Review: Kebenaran di Balik Lubang Dinding

Film

Advertisement
Connect