Connect with us
Beabadoobee Fake It Flowers
Photograph: Jordan Curtis Hughes

Music

Beabadoobee: Fake It Flowers Album Review

Musik alternatif 90-an yang dekat dengan kehidupan personal Beabadoobee.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Beabadoobee merupakan representasi dari Generasi Z, namun jiwa bermusiknya selalu tinggal di era 90-an. Penyanyi 20 tahun ini mengaku ingin tinggal di era tersebut, bisa kita lihat bagaimana caranya meracik musik hingga selera berbusananya. Era musik tersebut memiliki peran spesial dalam karakter Bea, sangat spesial hingga Ia memutuskan merilis album debutnya “Fake It Flowers” yang akan membawa kita kembali pada era rock alternatif 90-an.

“Fake It Flowers” telah rilis pada 16 Oktober 2020, di bawah naungan label musik Dirt Hit. Kembali menggaungkan semangat perempuan dengan segala emosinya melalui lagu rock dan gitar berdistorsi, bak Alanis Morissette dan Dolores O’Riordan. It’s powerful, yet delicate, Fake It Flowers merupakan media Bea untuk pulih dari masa kecilnya yang traumatis.

“(Masa kanak-kanak) adalah masa yang traumatis. Aku masih berusaha untuk mengatasinya, dengan bantuan terapi dan dengan bantuan orang-orang di sekitar. Ini akan memakan waktu cukup lama, tetapi menulis album ini telah banyak membantu. Setiap lagu begitu pribadi, aku sangat takut untuk menunjukkannya kepada dunia”, ungkap Bea. Dengan teriakan dan musik rock yang keras dan tampak kuat, tersimpan penyesalan, rasa bersalah, maupun haru dalam setiap lagu yang ditulis sang penyanyi untuk album ini.

Beabadoobee Fake It Flowers

Beabadoobee – Fake It Flowers

“Fake It Flowers” dibuka dengan track ‘Care’ yang juga merupakan single pertama, memperdengarkan melodi alternative rock lawas yang terasa familiar. Dilanjutkan dengan ‘Worth It’ yang menjadi lagu dengan kisah perselingkuhan remaja, berbeda dengan lagu-lagu bertema serupa yang lebih mature. Track kedua masih menghadirkan vibe dan pola aransemen yang cukup serupa dengan track sebelumnya.

Dilanjutkan dengan track ‘Dye It Red’, tentang hubungan sepihak yang Bea alami. Ketika dirinya merasa selalu berusaha menyenangkan kekasihnya, menyanyikan lagu ini menyadarkan Bea bahwa Ia adalah dirinya sendiri, dan bebas melakukan apapun, termasuk mewarnai rambutnya menjadi merah.

Tiga track pertama memiliki vibe dan emosi yang sama, semacam tiga track pembuka yang kohesif. Mulai dari gaya aransemen musiknya, bermain dengan aransemen rock alternative yang terasa feminin dan manis. Kemudian menonjolkan sisi rapuh dan lugu dalam sebuah hubungan yang diakhiri dengan penemuan jati diri dan sikap ‘masa bodoh’, semangat seorang perempuan yang mulai menemukan jati dirinya dan mampu melakukan apapun yang membuatnya merasa lebih baik.

‘Back to Mars’ merupakan track interlude, transisi menuju ruang yang lebih gelap dalam “Fake It Flowers”. Setelah bermain dengan efek gitar yang khas, track ini menghadirkan instrumen gitar akustik yang lebih otentik. Track slow rock ini merupakan sebagian kecil perasaan nostalgia dari Bea. Ia selalu ingin berkunjung ke rumah keluarga kekasihnya di Prancis. Karena melalui foto yang Ia lihat, tempat tersebut terasa homey dan Ia berekspektasi untuk menghabiskan waktu di sana dalam usaha menyembuhkan diri.

‘Charlie Brown’ menjadi track pembuka memasuki memori depresif dari Bea. Nuansa rock grunge mulai terasa, mengiringi lirik tentang self-harm. Tak berhenti sampai disitu, Bea memberanikan diri untuk masuk lebih dalam lagi dalam kesuraman dengan lagu ‘Emo Song’. Track tersebut merupakan versi lebih dalam dari ‘Care’, dengan isu yang sama yaitu krisis kepercayaan. Jika ‘Care’ mengekspresikannya dengan amarah dan whatever-vibe, ‘Emo Song’ menjadi curahan hati yang sesungguhnya, perasaan yang cenderung tidak ingin diungkapkan. Bea sendiri mengaku bahwa Ia belum siap untuk membawakan ‘Emo Song’ di panggung secara live.

‘Sorry’ sudah menjadi track yang familiar bagi kita semenjak dirilis sebagai salah satu single dari album ini. Merupakan single sekaligus track terbaik dalam album ini, sangat kental dengan nuansa rock grunge yang sesungguhnya. ‘Further Away’ mungkin bukan track dengan aransemen yang segelap track-track sebelumnya, namun masih menyanyikan syair tentang pengalaman Bea yang merasa selalu dibenci oleh orang di sekitarnya. Bagaimana banyak orang cenderung membenci kita hanya karena tidak terlalu mengenal kita secara keseluruhan, and we don’t need to think much about it.

‘Horen Sarrison’ merupakan track yang ditulis oleh Bea untuk kekasihnya, Soren Harrison. Lagu ini memiliki formula aransemen yang cukup serupa dengan ‘Sorry’ dan ‘Further Away’, memadukan komposisi full band rock dengan berbagai instrumen string, memberikan sentuhan orkestra yang menggugah. Namun track ini memiliki nuansa yang lebih hangat dan bright, karena Bea menyatakan cintanya pada sang kekasih dan kita bisa merasakan cinta tersebut melalui track ini.

‘How Was Your Day?’ menjadi track yang terdengar seperti track demo, dengan segala kekurangan dan keotentikannya yang menawan. Menunjukan keberanian Bea sebagai seorang musisi dengan memasukan lagu ini dalam tracklist-nya. Kemudian album ini ditutup dengan track ‘Yoshimi, Forest, Magdalene’, yang diakui Bea sebagai tiga nama yang disiapkan untuk anaknya di masa depan. Dinyanyikan sebagai hook yang terdengar seperti mantra, diiringi aransemen rock grunge dan alternatif yang cukup eksperimental.

“Fake It Flowers” merupakan album debut yang akan memperkenalkan kita pada sosok wanita unik bernama Beatrice Laus. Ia kuat, namun juga rapuh. Ia mengerikan saat marah, namun juga manis ketika sedang jatuh cinta. Ia ingin menjadi rockstar, namun juga punya impian untuk menikah dan punya tiga anak. Semua materi personal tersebut dikemas dengan genre rock 90-an yang memberikan perasaan nostalgia.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect