Connect with us
A Murder at the End of the World
FX

TV

A Murder at the End of the World Review: Episode 1-3

Drama kriminal thriller terbaru hadirkan Emma Corrin sebagai Sherlock Holmes-nya Gen Z.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“A Murder at the End of the World” merupakan serial misteri kriminal terbaru di Disney+ Hotstar. Serial yang ciptakan oleh Brit Marling dan Zal Batmanglij ini telah sampai pada episode ketiganya, episode terbaru rilis setiap hari Rabu.

Dibintangi oleh Emma Corrin sebagai Darby Hart, ia adalah penulis novel true crime dan jago hacking. Darby disebut-sebut sebagai Sherlock Holmes-nya Gen Z, ia kerap memecahkan kasus pembunuhan namun bukan sebagai profesi utamanya. Namun ia cukup berbakat untuk disebut sebagai detektif amatir.

Setelah merilis buku yang ia persembahkan untuk idolanya seorang hacker, Lee Andersen, ia menerima undangan retreat eksklusif dari Andy Ronson, suami Lee Andersen sekaligus kongklomerat perusahaan teknologi terbesar.

Bersama delapan tamu lainnya, Andy Ronson memiliki agenda penting untuk diwujudkan. Namun acara mulai terusik ketika salah satu tamunya meninggal, diduga oleh Darby bahwa ini adalah pembunuhan. Serial ini juga dibintangi oleh Brit Marling, Harris Dickinson, dan Olive Owen.

A Murder at the End of the World

Darby Hart, Detektif Amatir Berbakat dan Jago Hacking

Emma Corrin sebelumnya populer melalui perannya sebagai Putri Diana muda di “The Crown” Season 4. Ia juga bermain sebagai perempuan anggun dalam film period drama “Lady Chatterley’s Lover”. Melihat Corrin berperan sebagai Darby Hart yang lebih androgini menjadi pengalaman baru buat kita yang mengikuti aktris ini. Ini juga lebih dekat dengan persona aktrisnya di media.

Meski disebut sebagai Sherlock Holmes-nya Gen Z, jangan berusaha membandingkan Darby dengan karakter deketktif ikonik tersebut. Darby Hart memiliki pesonanya sendiri, baik melalui presentasi penampilannya, latar belakang dan penokohannya juga menarik. Sejauh ini sudah memenuhi ekspektasi sebagai detektif amatir yang memiliki rasa penasaran tinggi dan kemampuan observasi yang cemerlang.

A Murder at the End of the World

Plot Klasik Whodunit dengan Presentasi Suspenful Thriller Dewasa

“A Murder at the End of the World” memiliki premis yang serupa dengan skenario misteri whodunit pada umumnya. Protagonis detektif profesional maupun amatir, sekelompok karakter berkumpul di lokasi terpencil, dan pembunuh yang perlu diungkap sebelum korban yang lain berjatuhan. Kurang lebih serial ini memiliki premis yang mengingatkan kita pada film “Glass Onion: A Knives Out Mystery” dan miniseries “And Then There Were None”, namun tone-nya lebih gelap dengan elemen futuristik yang elegan.

Fokus pada sudut pandang Darby sebagai protagonis, kita akan melihat plot masa lalu Darby dalam petualangan pertamanya dalam menelusuri kasus pembunuhan berantai. Jadi tidak hanya satu kasus, ada dua kasus yang akan kita ikuti; awal dari kasus baru dan akhir dari kasus di masa lalu Darby. Presentasi ini disajikan dengan editing yang rapi dan eksekusi narasi yang tepat. Tidak asal maju mundur plot, ada prinsip dan cara menggali misteri yang saling bersangkutan. Setiap kasus pembunuhan boleh berbeda, namun setiap detektif kerap memiliki metode yang sama dalam menghadapi setiap kasus.

Sebagai perempuan remaja di masa lalunya, Darby juga tidak lepas dari pengalaman romansa. Interaksinya dengan Bill Farrah dalam plot flashback sejauh ini tak kalah menarik untuk menarik untuk diikuti serta memberikan sentimen pada karakternya. Sebagai sesama orang yang antusias dengan teka-teki, hacking, dan kasus pembunuhan, definisi kegiatan romantis di antara keduanya berbeda dari pasangan romantis pada umumnya.

Eksplorasi Topik Kecerdasan Buatan dan Eksperimen Teknologi Lainnya

“A Murder at the End of the World” dengan lihai menyelipkan tema teknologi terutama kecerdasaan buatan untuk membuat serialnya lebih unik dan berbeda dengan whodunit yang sudah ada sebelumnya. Hotel yang menjadi latar lokasi dari skenario ini hadir lebih dari sekadar hotel terpencil yang sempurna sebagai lokasi pembunuhan. Hotel dilengkapi dengan fasilitas keamanan dan service mengandalkan teknologi mutakhir. Namun presentasinya dirancang seotentik mungkin dan tidak didramatisir. Kita masih bisa membayangkan bahwa hotel seperti ini bisa hadir di dunia nyata.

Jika Sherlock punya Watson, Darby punya Ray, kecerdasaan alternatif ciptaan Andy Ronson yang bisa diajak berkomunikasi di setiap sudut hotel. Selalu menarik melihat interaksi Darby dengan Ray yang sudah seperti side kick-nya dalam memecahkan misteri yang tersembunyi di hotel tersebut.

Sejauh ini, aplikasi teknologi dan kecerdasaan buatan dalam serial ini lebih dari sekadar gimmick. Kita akan dibuat penasaran dan tak sabar melihat apalagi teknologi yang akan ditampilkan dalam episode-episode berikutnya untuk mendukung penelusuran Darby Hart.

Buat penggemar tontonan whodunit, misteri kriminal dengan detektif, “A Murder at the End of the World” bisa jadi tontonan terbaru yang dinantikan episode terbarunya di Disney+ Hotstar. Emma Corrin memikat sebagai karakter detektif orisinal terbaru, Darby Hart, tone skenario pembunuhannya yang suspenful dan elegan juga layak untuk diikuti.

A Murder at the End of the World A Murder at the End of the World

A Murder at the End of the World (Finale) Review

TV

Avatar: The Last Airbender Avatar: The Last Airbender

10 Serial Animasi Anak-anak Populer yang Juga Menghibur Penonton Dewasa

Cultura Lists

A Shop for Killers A Shop for Killers

A Shop for Killers Review: Aksi Lee Dong-wook dan Kim Hye-jun dalam K-Drama Laga

TV

Turning Red Turning Red

Soul, Turning Red, Luca: Mana yang Patut Ditonton di Layar Lebar?

Entertainment

Connect