Connect with us
Film Asia yang Gagal Diadaptasi Hollywood
Old Boy (2013)

Cultura Lists

10 Film Asia yang Gagal Diadaptasi Hollywood

Serangkaian film Asia yang kualitasnya menurun signifikan setelah di-remake Hollywood.

Sejak tahun 60-an sinema Asia mempunyai kualitas baik dari segi produksi maupun cerita yang dihadirkan. Hal tersebut menarik sejumlah produser membuat ulang film-film Asia dalam format adaptasi Hollywood untuk meraih kesuksesan komersial yang lebih besar.

“The Magnificent Seven” (1960) meraih banyak perhatian dunia pada masanya, film ini merupakan adaptasi dari “Seven Samurai” (1954), film asal Jepang yang disutradarai oleh Akira Kurosawa. Sejak itu, banyak film remake yang dibuat dari film-film Asia.

Beberapa memang bisa meraih kesuksesan dan berhasil masuk ke pasar Amerika dengan sentuhan adaptasi lingkungan dan budaya. Namun, ada beberapa film adaptasi Asia yang benar-benar menurun secara kualitas saat dibuat ulang dalam versi Hollywood. Berikut ini adalah daftar acak dari 10 film Asia yang gagal diadaptasi Hollywood.

My Sassy Girl (2008)

Adaptasi “My Sassy Girl” (2008) – Korea

Film yang dibintangi oleh Elisha Cuthbert and Jesse Bradford ini merupakan adaptasi dari film Korea Selatan yang diproduksi pada tahun 2001. “Sassy Girl” versi Korea benar-benar menandakan kebangkitan film komedi romantis pada saat itu.

Pasangan Jun Ji-hyun and Cha Tae-hyun tidak bisa digantikan dengan mudah oleh kedua aktor Hollywood, Elisha Cuthbert and Jesse Bradford dalam segi chemistry. Film adaptasi yang disutradarai oleh Yann Samuel ini pada akhirnya hanya menempelkan lelucon-lelucon usang dan tidak memiliki kesan mendalam.

Ju-On: The Grudge (2004)

Adaptasi “Ju-On: The Grudge” (2002) – Jepang

Film horor asal Jepang yang disutradarai oleh Takashi Shimizu berjudul “Ju-On: The Grudge” (2002) ini diadaptasi dengan nuansa barat pada dua tahun setelah rilis perdananya di Jepang. Kedua film ini sama-sama diarahkan langsung oleh Takashi Shimizu sebagai sutradara sekaligus penulis naskahnya.

Namun, walaupun digarap oleh sutradara yang sama, dalam versi Hollywood Takashi Shimizu tidak bisa mempertahankan suasana horor dan momen-momen menakutkan seperti di film aslinya.

Death Note (2017)

Adaptasi “Death Note” (2017) – Jepang

Death Note merupakan cerita populer dari Jepang yang sudah diadaptasi dalam lintas wahana, dari mulai anime sampai live-action. Namun, “Death Note” yang disutradarai oleh Adam Wingard rasanya adalah karya yang paling gagal dari semua format adaptasi “Death Note”.

Nat Wolff tidak bisa dengan mudah melebur dengan karakter Light Yagami, dan walaupun sudah menggandeng nama besar Willem Dafoe untuk memerankan karakter Ryuk, namun formula yang dipakai film ini dalam situasi dan budaya masyarakat barat terasa kurang menarik.

Ghost in the Shell (2017)

Adaptasi “Ghost in the Shell” (1995) – Jepang

Pada tahun 2017, Rupert Sanders mencoba peruntungan membuat ulang karya Mamoru Oshii yang sukses di tahun 1995. Dengan memberi judul yang sama dengan film aslinya, “Ghost in the Shell” nyatanya tidak bisa mengulangi kesuksesan yang sama.

Walaupun sudah menggandeng nama besar seperti Scarlett Johansson untuk memerankan karakter Mayor Motoko Kusanagi, namun film ini terlalu gagal dalam penggarapan narasi cerita yang sepertinya kurang dipikirkan secara matang.

The Lake House (2006)

Adaptasi “Il Mare” (2000) – Korea

“Il Mare” (2000) merupakan film Korea yang tidak terlalu sukses secara komersial, namun film ini menjadi sebuah karya klasik yang memiliki basis penggemar solid. Dengan menghadirkan cerita romansa dengan plot paradoks waktu, pasangan Jun Ji-hyun dan Lee Jung-jae mampu menghadirkan pertunjukan yang fenomenal.

“The Lake House” memakai format plot yang sama, namun adaptasi ini sulit diikuti karena terlalu ambisius dengan pergeseran waktu dan plot yang campur aduk. Keanu Reeves dan Sandra Bullock adalah satu-satunya unsur yang menjadikan film adaptasi ini tidak terlalu membosankan.

The Uninvited (2009)

Adaptasi “A Tale of Two Sisters” (2003) – Korea

Keputusan The Guard Brothers untuk memangkas runtime dari film aslinya menjadikan “The Uninvited’ kehilangan atmosfer horor seperti film aslinya yang unggul dari segi pembentukan suasana dan jajaran aktor yang cemerlang.

Alih-alih memberikan kesan kengerian dari alur cerita seperti yang dipakai dalam format film terdahulunya, adaptasi Hollywood ini seperti hanya mengandalkan jumpscare untuk menakut-nakuti penontonnya saja.

Godzilla (1998)

Adaptasi “Godzilla” (1954) – Jepang

Roland Emmerich benar-benar mendapatkan banyak kritik tajam ketika film “Godzilla” versi Hollywood dirilis, film ini mengalami kegagalan baik dari segi pemilihan cast hingga titik plot yang terlalu dipaksakan.

Penampakan monster yang menggunakan teknologi CGI yang ketinggalan zaman juga menjadi faktor film ini dinilai tidak mampu mengupgrade teknik-teknik sinematografi film terdahulunya.

Pulse (2006)

Adaptasi “Pulse” (2001) – Jepang

Kelemahan paling menonjol dari adaptasi “Pulse” yang diproduksi oleh Hollywood adalah kurangnya informasi tentang hantu dan lemahnya plot cerita yang dihadirkan, film ini mungkin terselamatkan di sepuluh menit terakhir berkat deskripsi tentang kemajuan teknologi mengenai hantu.

Nuansa horor juga banyak terkikis karena kompleksitas teknik produksi yang tidak perlu, sehingga ketakutan umum yang ditimbulkan oleh peran hantu tidak mampu diimplementasikan dengan baik.

Shall We Dance? (2004)

Adaptasi “Shall We Dance?” (1996) – Korea

Film produksi Jepang yang disutradarai oleh Masayuki Suo ini benar-benar mengalami kegagalan saat dibawakan oleh Peter Chelsom ke pasar Amerika, hilangnya referensi budaya membuat film ini terasa asing dan memiliki potensi besar untuk dilupakan begitu saja.

Walaupun melibatkan nama-nama besar seperti Richard Gere, Susan Sarandon, dan Jennifer Lopez, nyatanya versi adaptasi ini tidak bisa mengembalikan pesona film aslinya.

Old Boy (2013)

Adaptasi “Old Boy” (2003) – Korea

Spike Lee pada dasarnya membawa “Oldboy” versi Hollywood sangat dekat dengan naskah aslinya, ia mempertahankan konsep umum tentang balas dendam yang mengarah pada pertobatan tokoh utamanya.

Namun, dalam versi terbarunya “Old Boy” tetap tidak bisa memperlihatkan upgrade yang lebih apik dari film aslinya. Park Chan-wook sangat diuntungkan dengan kehadiran Choi Min Shik yang memerankan Dae Su dengan sangat ikonik.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect