Connect with us
Wilco
Photo via NPR

Music

Wilco: Summerteeth (Deluxe Edition) Album Review

Album classic alternatif rock kaya gizi yang masih bersinar dua dekade setelah dirilis.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Dirilis pertama kali di tahun 1999, ‘Summerteeth’ menjadi satu album yang mendefinisikan alternatif rock di zamannya. Perilisan kembali album ini pada awal bulan November kemarin seakan mengulang sejarah yang sama. Wilco membuktikan diri bahkan setelah nyaris dua dekade, alternatif rock masih menjadi darah dan daging.

Sejak meluncur pertama kali, ‘Summerteeth’ merupakan album “kaya gizi.” Track demi track saling melengkapi satu sama lain. Menceritakan kisah hidup sang rocker, yang diwakilkan dengan begitu cemerlang oleh sang frontman Jeff Tweedy. Percintaan, hubungan pernikahan, sampai literatur dari abad ke-20 menjadi warna terang dalam ‘Summerteeth.’ Lirik yang “bold, but depressing” bahkan masih bisa didalami dua dekade setelah lagu-lagu ini ditulis.

Re-issues ‘Summerteeth’ hadir lebih kaya dari pada versi awal. Versi rilisan kembali menyertakan demo, live recording, dan juga outtakes yang tidak ada di album sebelumnya. Bahkan untuk versi reissue terdapat live recording dari konser di The Boulder Theatre, Boulder, Colorado pada tahun 1999. Track-track manis seperti “Candyfloss”, “Hotel Arizona”, “She’s A Jar” dan banyak lainnya terdengar jauh lebih hidup saat dibawakan dalam versi ini.

wilco summerteeth

Wilco – Summerteeth

Sisi melankolis juga menyertai untuk versi recording dari penampilan Wilco di Tower Records. 10 lagu yang dibawakan kala itu bulan Maret 1999, tepat satu hari sebelum perilisan resmi ‘Summerteeth’ menyertai dalam versi vinyl reissue. Tidak berlebihan bila menyebut versi reissue melengkapi gizi ‘Summerteeth’, menggenapkan album legendaris ini di kancah musik rock alternative.

Nama Wilco sebagai band alternatif rock tahun 90-an memang tidak datang begitu saja. Album ‘Summerteeth’ menjadi saksi nyata bagaimana Wilco sanggup mengawinkan sisi emosional, melankolis, rapuh, keras, dan pandangan ideologi dengan musik rock. Tidak perlu gebukan keras drum atau bentakan kasar dari bass untuk Wilco menyampaikan pesan mereka. Pesan tersirat yang bila kembali dicermati pada era saat ini akan terdengar sangat kontroversial.

Seperti juga album di garis batas musik rock lain, lirik memiliki peranan penting dalam ‘Summerteeth.’ Instrumen dengan perpaduan synth, gitar, drum, bass, sampai perkusi di latar belakang seolah menjadi iringan untuk Tweedy menyampaikan lirik sumbang dalam nada yang cantik. Kisah hidup sang rockstar yang tidak terlalu jauh dari keputusasaan dan berakhir dalam pelukan obat terlarang, sampai rasa cinta yang berbalut dengan kekerasan. Lirik-lirik dalam track ‘Summerteeth’ memang sangat kontroversial bila mengingat Tweedy menyinggung bahwa sang istri, Sue Miller menjadi inspirasi di baliknya.

Tidak banyak warna-warna genre yang disertakan Wilco dalam album ini. Alternatif rock dengan gabungan rock ballad, alt country, bahkan power pop menjadi landasan pasti untuk sederet track. Mendiang Jay Bennett menyumbangkan elemen rhythm, gitar, dan keyboard yang cukup menjadikan ‘Summerteeth’ terdengar kaya. Album ini bahkan bisa dikatakan puncak chemistry musikalitas antara Bennet dan Tweedy. Meski kala itu keduanya dikabarkan justru mengalami persinggungan di dalam band.

Wilco Band

Photo by Adrienne Thomas

“She’s a Jar” tidak bisa disangkal menjadi track paling menarik. Tweedy dan Bennet menuliskan, dan membawakan lagu yang benar-benar sempurna menyampaikan rasa rindu, kesepian, dan perasaan berjarak dengan orang tersayang. Atmosfer yang dihasilkan dari masterpiece ini benar-benar gelap, dengan vokal Tweedy yang menyerukan kesakitan karena rindu begitu mendalam. Deskripsi “fragile family tree” tersampaikan dengan sangat sempurna dalam 4 menit track.

Bagian lirik “watch me floating inches above the people under me” membetot hati para pendengar. Disusul dengan “she begs me not to hit her” yang mau tak mau mempertanyakan seberapa jauh Tweedy merasa terasing dari keluarganya sendiri.

Belum selesai rasa terpana setelah 4 menit dikayuh emosi dalam “She’s a Jar”, “A Shot in the Arm” menyusul dengan cepat. Berbeda dengan track sebelumnya, “A Shot in the Arm” memiliki tempo lebih upbeat. Suara Tweedy seolah mengajak pendengarnya turut bernyanyi mengenai heroin dan bagaimana menyuntikan “something in my veins, bloodier than blood”. Sulit sepertinya menemukan lagu mengenai obat terlarang dibawakan secantik ini.

Track berikutnya kembali pada esensi ‘Summerteeth’ yang merupakan album penuh lagu cinta. Tweedy jelas-jelas mendeklarasikan perasaan cintanya melalui lirik “it’s for you I swoon” di “I’m Always in Love.” Untuk track ini, Wilco menyisihkan elemen musik rock yang diagungkan dalam lagu-lagu sebelumnya dan mengizinkan irama pop yang manis layaknya permen gula mendominasi. Pengaruh musik punk ala The Undertones terdengar dari track berikutnya, “We’re Just Friends.” Sentuhan apik setelah track sarat emosi beberapa menit sebelumnya.

Wilco memang tidak banyak menyisipkan genre selain rock di album ini. Meski beberapa track seperti “Nothing’severgonnastandinmyway (again)” terdengar cukup eksplorasi dengan lantunan ala alt pop, yang di tahun 90-an menjadi genre hits dari radio ke radio. Chorus dari track ini juga mengingatkan pada Tommy James & the Shondells. “How to Fight Loneliness” menjadi track tidak terlupakan berikutnya dari ‘Summerteeth.’ Bennet, yang menjadi tulang punggung kedua di album ini bersama Tweedy menunjukan permainan instrumen yang sangat menarik.

Berbicara mengenai track menarik, “Via Chicago” tidak boleh ketinggalan dibahas. Lirik untuk track ini sarat akan kekerasan, bahkan pembunuhan. Mengingat inspirasinya dari buku Henry Miller. Tweedy dan Bennet mengemas kecantikan lirik dalam track ini dengan instrumen rock ballad yang ciamik.

Dua dekade sejak direkam pertama kali, suara Tweedy saat menyanyikan lirik “Crumbling ladder tears don’t fall/ They shine down your shoulders” masih cukup membuat merinding. Ditambah lengkingan dengan vokal yang nyaris pecah di bagian “searching for a home”. Sulit rasanya tidak menjadikan “Via Chicago” sebagai salah satu track terbaik dari Wilco. Mungkin bersaing dengan “ELT” yang juga menjadi daya tarik tak tertandingi di ‘Summerteeth.’

Versi reissue album ini menyajikan live recording yang membawa perasaan baru. Setidaknya dibandingkan dengan mendengarkan versi studio sebelumnya. Gegap gempita tepuk tangan sebelum Tweedy menyanyikan “Passenger Side” menghadirkan rasa rindu, harapan untuk bisa kembali ke tahun 1999 dan berada di tengah-tengah konser Wilco.

Tweedy juga terdengar memberikan beberapa referensi untuk obat-obatan terlarang di versi live recording dari konser, dengan mengubah lirik lagu dari sebenarnya. “Our prayers will never be answered again” di “Can’t Stand It” digubah menjadi “I swear, I’ll never eat acid again” oleh sang vokalis.

Pada akhirnya, dua dekade berlalu dan ‘Summerteeth’ masih menunjukan sinarnya. Versi studio ataupun live recording sampai demo yang disisipkan dalam reissue justru semakin menegaskan kekayaan dari album terbaik Wilco. Tidak cukup kata ‘well done’ untuk menggambarkan masterpiece satu ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect