Connect with us
Max Pictures

Film

Why Do You Love Me Review: Bawa Tema Tabu dengan Hangat

Tampilkan premis yang dianggap tabu dengan representasi penuh kehangatan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

 

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki nafsu terkait hal-hal berbau seksual. Akan tetapi, hal ini seakan terhalang oleh kemampuan fisik seseorang, utamanya bagi kaum disabilitas yang kerap mendambakan pengalaman seksual di tengah keterbatasannya. Dua elemen ini yang diusung pada ‘Why Do You Love Me’ yang sedang tayang di bioskop.

‘Why Do You Love Me’ merupakan film drama komedi dari Max Pictures yang diarahkan oleh Herwin Novianto. Dibintangi oleh Adipati Dolken, Jefri Nichol, Onadio Leonardo, dan TJ Ruth sebagai pemeran utamanya.

Film yang menjadi remake dari ‘Hasta la Vista’ arahan Geoffrey Enthoven ini berkisah mengenai tiga orang dengan keterbatasan fisik, yakni Baskara, Danton, dan Miko. Terlepas dari keterbatasan yang dimiliki ketiganya, mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Surabaya demi mendapatkan pengalaman seksual yang telah lama didambakan.

Pada narasinya, ‘Why Do You Love Me’ tampil dengan alur maju seiring dengan tema keseluruhannya berupa road trip movie. Melalui representasinya, penonton akan lebih banyak disajikan dialog sebagai penggerak cerita utamanya. Meski didominasi dengan percakapan dalam durasi 84 menitnya, film ini mengusung kisah yang cenderung ringan, membuatnya mudah sekali untuk dipahami.

Tema besar yang tampaknya ingin diusung oleh Herwin Novianto dan Alim Sudio pada remake ‘Hasta la Vista’ ini adalah kemauan seksual dan disabilitas. Kedua elemen ini kemudian ditubrukkan dengan drama road trip yang membuatnya menjadi journey dalam menikmati hidup lebih mendalam terlepas dari keterbatasan yang dimiliki seseorang. Hal ini yang membuat perjalanan Baskara, Danton, Miko, dan Endang di sini menjadi terasa hangat dan menyentuh.

Sebagai pusat cerita, kehadiran Baskara, Danton, dan Miko adalah ruh dalam ‘Why Do You Love Me’ ini. Dengan keunikan dari masing-masing karakternya, ketiganya cukup berhasil dalam membuat nuansa film keseluruhan menjadi lebih hidup.

Adipati Dolken tentu menjadi pemeran paling bersinar melalui Baskara yang kerap terlihat sulking karena segala keterbatasan dan idealismenya. Danton yang diperankan oleh Jefri Nichol tampil cukup baik, walau tampak perannya sebagai pengidap tumor ini bukanlah peran terbaiknya. Lain halnya dengan Adipati Dolken dan Jefri Nichol yang terlihat masih berakting, Onadio Leonardo yang menjadi Miko hanya diposisikan sebagai comic relief dengan minim kepedulian dalam karakterisasinya.

Terlepas dari naik turun narasi beserta akting pemerannya, ‘Why Do You Love Me’ suguhkan teknis yang tampak menggugah. Sinematografi yang didominasi wide shot beserta set design berlatarkan rentetan landmark deretan kota besar di Indonesia membuat nuansa road trip dalam film drama komedi ini menjadi lebih hidup.

‘Why Do You Love Me’ adalah film drama komedi berkonsep road trip yang berusaha mendobrak tabu dengan dua elemen utama berupa seksual dan disabilitasnya. Meski tampil naik turun dalam representasinya, versi remake dari ‘Hasta la Vista’ ini tetap asik untuk dinikmati selagi masih tersedia di layar lebar.

Late Night with the Devil Late Night with the Devil

Late Night with the Devil Review: Mimpi Buruk Talk Show Tengah Malam

Film

In a Violent Nature Review In a Violent Nature Review

In a Violent Nature Review: Slasher Horror dari Sudut Pandangan Pembunuh

Film

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Connect