Connect with us
Photo by Karolina Grabowska from Pexels

Current Issue

Bagaimana Pandemi Memengaruhi Pola Konsumsi Secara Global

Apakah orang jadi lebih banyak makan camilan? Atau makan makanan bergizi?

Lotteria, gerai makanan cepat saji asal Korea, memutuskan untuk menutup semua gerainya mulai dari akhir bulan lalu di Indonesia. Restoran yang telah masuk ke Indonesia sejak 9 tahun lalu ini nampaknya tak mampu bersaing dengan restoran serupa yang telah menjamur.

Caribou Coffee, jaringan kedai kopi asal Amerika, telah lebih dulu memutuskan tutup sejak Maret. Keduanya memang tidak menyatakan gulung tikar akibat pandemi. Namun mimpi buruk itu kini menghantui industri makanan tanah air. Banyak hotel dan restoran khawatir akan kemungkinan tutup permanen.

Di belahan dunia lain seperti Yaman, penderitaan telah berlangsung bertahun-tahun jauh sebelum pandemi. Sebanyak 80% atau sekitar 24 juta penduduknya mengandalkan bantuan untuk bertahan hidup. Jutaan di antaranya kelaparan. Pandemi membuat kondisi mereka lebih buruk lagi.

Dengan sistem kesehatan yang telah kolaps bertahun-tahun, mereka mungkin tidak akan mampu bertahan. PBB mengeluhkan kubu pemerintah maupun pemberontak tidak transparan terhadap kondisi daerah masing-masing dalam menghadapi pandemi.

Baca Juga: Masa Depan Industri Travel Setelah Pandemi

Tiap negara menghadapi pandemi dengan cara yang berbeda-beda. Tak sekadar keguncangan ekonomi saja, pandemi juga mampu memunculkan pandangan baru. Contohnya, Serikat Petani Nasional di Inggris berhasil mendorong publik untuk menandatangani petisi. Tujuannya adalah mencapai kondisi net zero alias menyeimbangkan produksi emisi karbon antara yang diproduksi dengan yang mencapai atmosfer.

Hal itu bisa dilakukan dengan tidak mengimpor bahan makanan dan sebaliknya memberikan dukungan penuh pada petani lokal. Pandemi memunculkan kesadaran pada publik Inggris betapa sulitnya bila harus bergantung pada pasokan dari negara lain. Swasembada perlu dicapai. Petisi ini menunjukkan hasilnya dengan peningkatan belanja produk makanan lokal hingga 35% selama pandemi. Orang juga lebih jarang membuang makanan karena membeli seperlunya alias tidak menimbun.

Uni Emirat Arab juga melaporkan hal yang serupa yaitu menurunnya sampah makanan. Kondisi berbeda justru ditampilkan Amerika di mana sampah makanan meningkat. Makanan merupakan sampah paling banyak ditemukan di TPA di Amerika. Menurut ahli, ini karena masyarakat tidak teredukasi dengan baik.

Publik merasa sah-sah saja membuang makanan maupun minuman yang tidak habis dikonsumsi karena merasa akan mendapatkannya kembali dengan mudah. Mereka tak pernah menghadapi kelangkaan di supermarket ataupun pasar.

industri makanan

Photo by Peter Bond on Unsplash

Pada bulan April saja, petani terpaksa membuang bergalon-galon susu dan mengubur hingga 1 juta pounds atau lebih dari 450 ribu kilogram bawang bombay. Sebenarnya para petani sudah berusaha menyumbangkan hasil pertanian mereka pada badan-badan amal. Namun mereka hanya mampu mengjangkau yang terdekat.

Sulit untuk membayar biaya transportasi demi mengirimkan seluruh bahan makanan tersebut ke luar daerah apalagi ke negara lain. Ditambah lagi tutupnya restoran di tengah pandemi membuat penyerapan bahan makanan semakin rendah.

Namun kesadaran untuk lebih mendukung produk makanan lokal nampaknya tidak merata di seluruh dunia. Brazil kelimpungan karena menghadapi lonjakan permintaan gula secara global.

Pandemi membuat banyak negara “panik” karena khawatir kehabisan stok gula. Mereka lalu membelinya secara besar-besaran dari Brazil yang membuat antrian kapal di pelabuhan menjadi terlalu panjang. Bahkan antrian kapal itu diduga baru akan berkurang atau habis hingga satu bulan kemudian. Sebenarnya India dan Thailand juga produsen gula tapi hasil panen yang buruk membuat dunia beralih pada Brazil.

China memiliki alasan berbeda dibandingkan Inggris soal tidak impor bahan makanan. Setelah sempat tidak mencatat kasus baru, muncul klaster dari sebuah pasar. Otoritas setempat menyatakan virus ditemukan pada talenan yang digunakan untuk memotong ikan salmon. Ikan tersebut diimpor dari Eropa.

Walau sampai saat ini belum ada bukti atau pernyataan komunitas medis bahwa virus Covid-19 dapat ditularkan dari makanan, kepanikan telanjur merebak di China. Untuk sementara impor ikan salmon dihentikan.

Menurut Organisasi Pangan Dunia, pandemi jelas-jelas memengaruhi pola konsumsi kita. Jalan keluarnya tidak sesederhana membeli produk lokal agar tidak bergantung pada produk impor. Ekonomi yang terguncang membuat banyak orang sulit memenuhi kebutuhan primernya sendiri. Contohnya sudah bisa kita lihat pada krisis ekonomi tahun 2008 lalu. Hal itu membuat orang tidak memiliki pola makan yang variatif.

industri makanan pasca pandemi

Photo by Duangphorn Wiriya on Unsplash

Makan yang itu-itu saja jelas memengaruhi tubuh kita. Ada sumber gizi yang tak terpenuhi atau malah berlebih. Kita terpaksa mencari bahan makanan yang paling murah. Dalam jangka panjang, pola makan dapat memengaruhi kondisi kesehatan kita.

Tak hanya itu saja, pendapatan yang menurun dapat mendorong adanya overfishing alias penangkapan ikan berlebih. Hal ini dapat merusak keseimbangan ekosistem. Ditambah lagi ketakutan publik yang didasari mitos membuat kita berhenti mengonsumsi sumber protein hewani. Gizi menjadi tak seimbang.

Ketika muncul kampanye hidup sehat dari berbagai otoritas pemerintah, masyarakat juga terdorong lebih banyak mengonsumsi buah dan sayur yang biasanya mereka kesampingkan. Tentu saja ini akan memicu kenaikan harga karena permintaan yang tiba-tiba meningkat pesat. Padahal distribusi, sekalipun skala nasional, dapat terhambat akibat pandemi. Tidak semua pihak akan cukup beruntung memenuhi kebutuhan buah dan sayur hariannya.

China merupakan rumah bagi separuh dari seluruh populasi babi di dunia. Keberadaan babi di China tak hanya menopang kebutuhan makan penduduk lokal tapi juga di berbagai belahan dunia lain.

Namun sebelum pandemi pun peternakan babi di China telah mengalami masalah besar. Virus flu babi telah menyerang sejak tahun 2019 dan melenyapkan seperampat populasi babi dunia. Ini juga membuat kenaikan harga daging babi di China hingga 22%. Baik konsumen lokal maupun global merasakan dampaknya.

Bagaimana Pandemi Memengaruhi Pola Konsumsi Secara Global

Photo by Kameron Kincade on Unsplash

Diduga virus tersebut juga telah masuk ke Indonesia karena kematian mendadak 878 babi di Palembang. Ini akan membuat pasar daging babi makin terguncang. Mungkin bagi Indonesia yang mayoritasnya umat muslim tidak merasakan dampak besar dari terguncangnya pasar daging babi. Namun bila konsumen daging babi kekurangan pasokan, mereka tentu harus mencari sumber protein pengganti. Ini akan membuat permintaan daging dari hewan lainnya meningkat sehingga harga ikut naik.

Bila merujuk pada negara yang cepat tanggap mengenai dampak pandemi terhadap industri makanan, kita bisa melihat pada Thailand. Central Food Retail, jaringan supermarket di Thailand, telah membicarakan dampak dari pandemi sejak 27 Januari 2020.

Mereka telah menyiapkan stok sejak jauh hari dengan memertimbangkan periode puncak ketika orang membeli bahan makanan besar-besaran. Ini terjadi di masa awal pandemi karena orang merasa panik dengan kemungkinan lockdown dan lain-lain. Namun setelah itu pembelian dapat turun hingga 50% karena kondisi ekonomi yang tidak pasti sehingga orang-orang menekan jumlah yang dikonsumsi.

Ada pandangan bahwa orang-orang di Asia jauh lebih siap menghadapi pandemi karena budaya yang berbeda dengan orang Eropa misalnya. Banyak negara di Asia telah terbiasa dalam menggunakan masker walaupun tidak sedang mengalami pandemi. Atau, kalau di negara-negara Islam, mereka menggunakan cadar bagi perempuan. Hal ini membuat mereka tidak merasa kesulitan ketika diharuskan menggunakan masker. Bila di Indonesia kita pun dapat melihat bahwa orang terbiasa menggunakan masker terutama ketika menggunakan angkutan umum maupun motor pribadi.

Selain itu, kita telah beberapa kali mengalami wabah, epidemi, maupun pandemi sehingga kita “tidak terlalu kaget” dengan pandemi Covid-19 ini. Pandemi sendiri juga memunculkan peningkatan konsumsi daging kalengan di Jepang.

Sebelum pandemi, daging kalengan kehilangan pamornya akibat alasan kesehatan—kolesterol, berat badan—serta kalah populer dibanding produk nabati. Namun pandemi menyadarkan publik Jepang bahwa daging kalengan dan makanan yang diawetkan lainnya dapat disimpan dalam waktu lama. Berbeda dengan sayur atau buah segar yang bisa busuk dalam hitungan hari sehingga harus dibeli secara berkala.

Bagaimana Pandemi Memengaruhi Pola Konsumsi Secara Global

Photo by Marcus Wallis on Unsplash

Tak hanya menyadarkan Inggris dan China soal tidak bergantung pada impor, pandemi juga mendorong banyak negara untuk mengurangi ekspor agar mengutamakan kebutuhan dalam negeri. Misalnya Ukraina yang mengurangi ekspor gandum mereka. Padahal Indonesia bergantung terhadap gandum tersebut. Begitu pula negara-negara lain seperti Thailand (telur), Kamboja (ikan), Vietnam (beras), dan Tajikistan (kacang polong).

Bicara soal camilan, ternyata ada perubahan juga yang terjadi akibat pandemi yang berlangsung lama. Bila sebelum pandemi orang makan camilan semaunya sebagai comfort food maka kini tidak lagi. Banyak orang semakin memikirkan dampak camilan bagi kesehatan mereka terutama soal kalori. Ini membuat mereka lebih memilih camilan yang sehat agar tidak berdampak negatif pada tubuh.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect