Connect with us
New Normal Indonesia

Current Issue

Bagaimana New Normal Harusnya Dipahami?

Narasi yang merujuk pada perubahan paling dasar yaitu perubahan cara hidup keseharian.

Akhir-akhir ini, narasi tentang “new normal” atau tatanan baru sebagai bagian dari respon menghadapi pandemi Corona tengah ramai dibincangkan. Mulai dari definisi, Ivan Lanin, seorang Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia, berkomentar di akun Twitter-nya tentang padanan kata yang tepat untuk New Normal adalah “kenormalan baru” dan bukan “normal baru”.

Alternatif lain untuk menarasikan New Normal menurutnya adalah kewajaran baru, juga kelaziman baru. Pilihan diksi ini tentu penting untuk melihat sejauh mana kata dapat diartikan, dipahami, dan diaplikasikan pada level berikutnya. Lantas, bagaimana sebenarnya pemerintah mendefinisikan New Normal di Indonesia?

Presiden Joko Widodo dalam argumennya yang dilansir di banyak media, new normal atau tatanan kehidupan baru adalah perubahan kehidupan yang terjadi dalam upaya mengatasi virus corona. Perubahan ini nampaknya menjadi bagian dari anjuran untuk masyarakat Indonesia agar dapat berdamai dengan virus corona.

social distancing

Physical distancing yang sudah diterapkan

Sejak Maret, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Hingga April menjelang Juni, pemerintah terus menggodok protokol kesehatan di berbagai sektor. Mulai dari pariwisata, pendidikan, transportasi, lingkungan kerja, dll.

Protokol kesehatan di lingkungan kerja misalnya, lingkungan kerja harus dipastikan bersih dan higenis, menyediakan lebih banyak fasilitas cuci tangan, menerapkan physical distancing, memastikan pola hidup sehat serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) diterapkan secara menyeluruh.

Sedangkan untuk sektor pariwisata, pemerintah menyampaikan bahwa potensi penularan (Basic Reproductive Number, R0) Covid-19 di satu daerah yang memiliki potensi wisata perlu dipastikan berada di bawah angka 1. Hal ini menjadi syarat untuk pembukaan daerah wisata. Itupun setelahnya perlu dilakukan protokol kesehatan yang ketat.

new normal travel pack

New normal travel pack

Saat melihat pemerintah Indonesia tengah gencar melakukan persiapan untuk memulai kenormalan baru, maka bagaimana syarat kenormalan baru oleh World Health Organization (WHO) penting pula untuk disimak. Dr. Hans Henri P. Kluge, WHO Regional Director for Europe, menyampaikan hal ini dalam siaran persnya.

Bahwa kenormalan baru dapat diterapkan jika penularan Covid-19 di satu wilayah telah terbukti dapat dikendalikan. Selain itu, kesehatan masyarakat dan kemampuan sistem kesehatannya telah dipandang mampu untuk melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, dan pelacakan kontak, serta memastikan karantina. Hal terakhir yang penting adalah masyarakat harus dilibatkan, didengar suaranya dalam masa transisi ke kenormalan baru ini.

Memahami Kenormalan Baru

Corona menggerogoti nyaris semua sektor penunjang keberlangsungan kehidupan, baik secara personal maupun secara lembaga (Negara). Olehnya, “kenormalan baru” yang seringkali disebut-sebut belakangan ini adalah perubahan yang nyaris terjadi dimulai saat keluar dari rumah, berkendara, bertransportasi umum, ke pasar, ke kantor, ke fasilitas-fasilitas publik, dan sebagainya.

Diksi “kenormalan baru” dapat dimaknai sebagai narasi yang merujuk pada perubahan paling dasar yaitu perubahan cara hidup keseharian. Setidaknya, yang awalnya abai terhadap kebersihan tangan menjadi lebih sering mencuci tangan, yang awalnya jarang menggunakan masker menjadi punya alasan untuk lebih sering memakainya, dll.

Namun tentu saja, hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sejak awal kasus positif corona pertama diumumkan di Indonesia, ada banyak sekali jarak antara narasi pemerintah dengan bagaimana perilaku masyarakat di tengah pandemi ini. Padahal, virus corona dapat berpindah tanpa mengenal kecuali.

Hal ini bersinggungan dengan salah satu kritik yang seringkali dialamatkan kepada pemerintah Indonesia yaitu komunikasi krisis yang buruk. Ada banyak penggunaan istilah yang tidak ramah untuk semua kalangan masyarakat. Mulai dari social distancing, physical distancing, hingga new normal.

Pilihan kata ini memang diserap dari diksi yang digunakan oleh masyarakat global. Namun penggunaan kata perlu memerhatikan konteks. Konteks melekat pada daerah, bahasa, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Jika ada jarak yang terlalu jauh, maka konsekuensinya adalah ketidakpahaman. Bagaimanapun, pemerintah yang memegang kendali pada ranah struktural sangat berperan penting dalam membentuk respon masyarakat.

work from home

Work from home

Diksi kenormalan baru hadir untuk menganggapi Covid-19 yang masih bisa diasumsikan dapat berakhir meski waktunya tidak dapat dipastikan. Namun apapun diksi yang digunakan oleh pemerintah untuk merespon situasi hari ini, masyarakat pada akhirnya harus “berdamai” dengan segala upaya untuk melindungi diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.

Kita bisa saja tidak dipahamkan mengapa harus new normal, apa urgensinya, dll. Namun sederhananya, kemanapun kita saat keluar rumah, setidaknya kita paham untuk senantiasa menjaga kebersihan, setidaknya tangan. Tidak lupa, masker, sabun cuci tangan atau hand sanitizer, membawa peralatan makan sendiri, membawa helm sendiri (jika memungkinkan pada saat naik ojek), dan tentu saja menjaga jarak fisik dengan orang di sekitar adalah hal-hal lain yang perlu diupayakan.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect