Connect with us
Ma Badong Toraja
Ma' Badong | Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura

Culture

Upacara Penyempurnaan Kematian Dalam Rambu Solo’

Tanda terakhir menghantarkan mendiang kepada Sang Pencipta.

Indonesia dikenal kaya akan kebudayaan serta adat istiadat beragam dari masing-masing daerahnya. Toraja merupakan salah satu identitas yang selalu menjadi maskot pariwisata dan terkenal mendunia dengan adat kematian mahalnya yang sering disebut Rambu Solo’.

Masyarakat Toraja setia menjalankan ritual uniknya yang menjadi identitas mereka, adat tersebut masih melekat dan masih terus diturunkan di era kehidupan modern. Sebelum mengenal Rambu Solo’, hal yang perlu diketahui adalah segi kehidupan masyarakat Toraja yang menganggap kehidupannya sangat berhubungan antara Sang Pencipta.

Hubungan tersebut diperkuat dengan adanya dua kategori utama yang dianut yaitu Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’. Istilah Rambu adalah sebuah asap, sinar, dan cahaya sedangkan Tuka istilahnya adalah naik dan Solo adalah turun. Kedua bentuk kategori adat ini adalah ritual kurban yang berpasangan dan keduanya harus dilewati oleh seorang manusia.

Mengenai Ritual Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’

Rambu Tuka’ sendiri merupakan upacara kegembiraan sekaligus syukuran atas keselamatan dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Upacara ini harus dilaksanakan pada saat sinar matahari naik di sebelah timur Tongkonan (Rumah adat masyarakat Toraja).

Toraja Tongkonan

Keluarga yang ditinggalkan (Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura)

Jika Rambu Tuka’ berhubungan dengan kegembiraan maka Rambu Solo’ merupakan upacara kesedihan. Upacara ritual ini menyangkut kematian dan pemakaman manusia. Rambu Solo’ pun baru boleh dilaksanakan setelah lewat tengah hari, sinar matahari mulai terbenam yang menunjukkan kedukaan atas kematian/pemakaman manusia. Proses dari upacara ritual ini dilakukan di sebelah barat Tongkonan. Ritual ini juga mewajibkan keluarga yang telah ditinggalkan untuk membuat upacara kepada mendiang yang telah pergi sebagai bentuk penghormatan terakhirnya.

Secara khusus suku asli Sulawesi Selatan ini menganggap Rambu Solo’ sebagai ritual yang dilakukan secara turun temurun oleh keturunannya. Mengenai Rambu Solo’ sendiri adalah bagian upacara yang mengandung dimensi religi dan juga sosial. Dengan maksud, bahwa upacara ini tidak dapat dipisahkan oleh nilai kepercayaan masyarakatnya.

Upacara Kematian Termahal

Upacara kematian ini tidak diragukan lagi untuk masalah biaya, keluarga rela untuk mengeluarkan biaya yang tinggi karena ritual ini menjadi sebuah pokok penting kepercayaan yang terus ada. Berbiaya tinggi karena semakin kaya dan berkuasanya seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal.

Namun demikian, upacara ini biasanya tidak dilangsungkan secara langsung setelah kematian mendiang. Biasanya upacara ini ditunda dan baru dilaksanakan berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian. Adanya penundaan ini bertujuan bagi keluarga yang ditinggal untuk mengumpulkan uang yang cukup membiayai pemakaman dan pengumpulan hewan yang akan dikurbankan nantinya seperti tedong (kerbau) dan juga babi.

Prosesi Rambu Solo’ yang Penuh Makna

Upacara ritual umumnya dilaksanakan sekitar 6-7 hari bahkan bisa lebih, proses di awal biasanya dimulai dari bagian Mebalun dimana jenazah dibungkus dan ditaruh ke dalam peti. Peti biasanya dihiasi oleh ornamen dari benang emas dan juga perak pada bagian luar yang disebut Ma’ Roto kemudian sehari sebelum menjalankan pesta, jenazah biasanya diturunkan ke lumbung dan di tinggalkan semalam agar seluruh keluarga yang telah datang berkumpul dan tinggal bersama selama semalam, prosesi ini disebut Ma’ parokko alang.

Foto Ma’ Pasonglo/Ma’ Palao

Ma’ Pasonglo/Ma’ palao (Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura)

Hari berikutnya dilanjutkan dengan Ma’ Pasonglo’ atau Ma’ Palao merupakan prosesi mengarak-arakan jenazah untuk dikelilingi ke kampung, setelah diarak jenazah disemayamkan dan ditempatkan ke bagian khusus yang disebut Lakkean.

jenazah di lakkean

Jenazah di Lakkean (Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura)

Sepanjang upacara ritual ini masyarakat Toraja terus mendoakan mendiang yang telah meninggal dalam nyanyian doa (badong). Ungkapan doa ini dinyanyikan bersahut-sahutan membentuk lingkaran dan bergandengan tangan. Nyanyian dengan doa tersebut bernada sakral mendalam dan mengartikan doa bagi mendiang yang meninggal agar berkenan menyucikan dan diterima kembali kepada Sang Pencipta.

Kematian Toraja

Ma’ Badong (Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura)

Hari selanjutnya adalah prosesi Ma’ batang atau menerima tamu. Ma’ batang menjadi bagian dimana keluarga menerima tamu yang datang berduka. Biasanya para tamu membawakan sumbangan berupa hewan kurban seperti tedong atau babi sebagai bentuk air mata kepada keluarga yang berduka.

ma batang toraja

Ma’ Batang(Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura)

Sumbangan tersebut dilakukan pencatatan kemudian dibawa ke To’ Mina untuk dibacakan Petua’ dalam bahasa Toraja tinggi. Sebagian besar rombongan melayat atau tamu yang datang biasanya menggunakan pakaian khusus berwarna gelap, ada juga mengenakan penutup kepala khas Toraja yang disebut Sarong.

Bentuk ini sebagai simbol penghormatan dan juga prinsip dasar hidup luhur. Ma’ batang juga terbuka bagi wisatawan yang hendak ikut untuk berwisata, namun disarankan untuk mengenakan pakaian hitam yang sopan untuk menghormati prosesi upacara ini.

Ma' Batang Toraja

Ma’ Batang pakai Sarong (Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura)

Bagian dari rangkaian prosesi pemakaman yang menjadi puncak acara adalah Mantunu atau penyembelihan tedong atau kerbau. Prosesi ini dipercaya dapat mempercepat arwah menuju kepada Sang Pencipta. Jumlah tedong juga dilambangkan sebagai tingkatan sosial dan kebangsawan dari mendiang.

Jumlah sembelih dapat mencapai puluhan hingga ratusan ekor terutama dengan statusnya yang tinggi. Penyembelihan tedong dilakukan dengan cara sekali tebas dan cepat oleh orang yang terpercaya dan mahir. Setelah itu tedong yang telah ditebas dibawa satu persatu ke tempat yang sudah diberi alas dedaunan dan dilakukan penyembelihan.

Potong Kerbau Toraja

Proses Mantunu (Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura)

Bagi masyarakat Toraja, mereka memegang kehidupan dalam lorong altruistik dan tidak egois. Simbol tersebut terdapat pada prosesi ini dimana harta benda yang hadir dalam bentuk hewan dibagi-bagikan untuk semua orang sesuai dengan porsinya tanpa terkecuali.

Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura

Menutup prosesi terakhir setelah seluruh rangkaian ritual terlaksana, tibalah hari Ma’ kaburu atau pemakaman jenazah. Mengakhiri upacara ini biasanya keluarga mendiang wajib untuk mengucap syukur kepada Sang Pencipta sekaligus menjadi tanda selesainya acara pemakaman Rambu Solo’. Peristirahatan terakhir biasanya disimpan di gua, tebing, gunung atau juga dibuatkan sebuah Patane atau rumah.

Tedong Bonga

Tedong Bonga (Photo: Felisitasya Manukbua/Cultura)

Menurut Stanislaus Sandarupa, masyarakat Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu hal yang datang dengan tiba-tiba, melainkan sebuah proses yang bertahap menuju akhirat. Mereka juga percaya bahwa jenazah dianggap sebagai kondisi jiwa yang sedang sakit atau lemah. Oleh karena itu, untuk menuju kedamaian abadi bernama Puya (dunia arwah, atau akhirat) pihak keluarga perlu mengantarkannya lewat ritual upacara Rambu Solo’. Tidak heran bagi mereka apabila jenazah tinggal dan disimpan dalam satu rumah bersama keluarga yang masih hidup di tempat khusus yaitu Tongkonan.

Ritual adat ini menjadi salah satu hal yang sangat bermakna, tidak hanya lama waktu persiapan merangkai acaranya namun seluruh proses hingga menempatkan mendiang ke peristirahatan terakhir, semuanya diatur sedemikian rupa atas makna mendalam yang selalu melekat bagi turun temurun.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect