Connect with us

Film

Unicorn Wars Review: Perang Teddy Bear Melawan Unicorn yang Imut Sekaligus Brutal

Animasi bertema anti perang dalam kemasan penuh warna, unicorn, dan teddy bear imut yang tidak seimut kelihatannya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Teddy bear dan Unicorn merupakan dua objek yang kerap menjadi simbol dari keimutan. Baik dalam rupa boneka, kesenian visual, hingga animasi anak-anak. Namun tidak untuk teddy bear dan unicorn dalam film animasi Alberto Vazquez, “Unicorn Wars” yang rilis pada 2022.

Animasi Spanyol ini merupakan animasi dengan konten dewasa. Secara visual cukup mengingatkan kita pada serial animasi gore, “Happy Tree Friends”, namun animasi satu ini memiliki latar semesta dan plot yang lebih megah. “Unicorn Wars” diproduksi oleh perusahaan animasi GKIDS Films, yang juga memproduksi animasi terbaru Hayao Miyazaki, “The Boy and The Heron”.

Terinspirasi dari “Bambi”, “Apocalypse Now”, dan Kitab Suci, “Unicorn Wars” menceritakan koloni militer teddy bear yang sedang mempersiapkan diri untuk menyerang bangsa unicorn di Magic Forest. Dahulu kala, beruang, unicorn, beserta hewan liar lainnya tinggal di Magic Forest. Namun, setelah beruang menemukan buku berisi ilmu pengetahuan, mereka menjalani hidup dengan lebih beradab dibandingkan hewan-hewan lainnya.

Unicorn yang iri dengan kemajuan kaum beruang pun memulai perang dan mengusir beruang dari Magic Forest. Setidaknya itu yang tertulis di kitab suci kaum teddy bear, menjadi motivasi dari perang yang mereka mulai kembali untuk merebut Magic Forest.

Unicorn Wars

Pesan Anti Perang dalam Kemasan Dongeng Animasi Bernuansa Psychedelic Horror

“Unicorn Wars” dalam segi plot mengingatkan kita pada film anti perang seperti “Full Metal Jacket”, “Apocalypse Now”, dan “Jarhead”. Namun dikemas dalam animasi bertema imut yang cukup mengalihkan perhatian. Genre seperti ini sebetulnya sudah tidak baru lagi (memadukan keimutan dengan kebrutalan) dan sangat niche.

Plot lebih fokus pada kakak beradik teddy bear bernama Bluey dan Tubby, keduanya masuk akademi tentara. Bluey adalah beruang biru berkepribadian keras dan penuh dengki karena trauma di masa kecil. Sementara Tubby adalah saudara Bluey yang lebih memeluk keimutannya dan nilai-nilai kebaikan. Menjadi salah satu alasan Tubby kerap dilihat sebagai tentara teddy bear yang lemah.

Bluey, Tubby, bersama pasukan junior lainnya, dikirim untuk menjalankan misi pertama mereka. Dimana kemudian diisi dengan sekuen tragedi, kesialan, dan cidera yang traumatis.

Seperti film perang pada umumnya, “Unicorn Wars” hendak mengeksploitasi konten perang yang disturbing, dan semakin terasa disturbing dengan kemasan animasi imut karena terasa ‘janggal’. Visual warna-warni dalam animasi ini bukan melambangkan kecerian, namun horror psychedelic yang membuat mual penontonnya (dalam artian baik dalam konteks animasi dengan konten dewasa).

Unicorn Wars

Ketika ‘Keimutan’ Bukan Tentang Visual Namun Substansi

Meskipun teddy bear dalam “Unicorn Wars” didesain cukup imut secara visual, seiring berjalannya cerita, karakter-karakter imut ini akan mengalami transformasi persepsi bagi penonton. Mungkin terlihat imut dalam poster, namun akan terlihat mengerikan pada babak terakhir film. Terutama karena presentasi karakter Bluey. Ia mungkin terlihat seperti beruang biru yang imut, namun semakin kita mengenalnya, semakin ia tidak tidak terlihat imut. Mulai dari wataknya, apa saja yang ia lakukan di masa lalu, hingga keputusan yang ia ambil di masa depan.

Begitu pula dengan sosok unicorn dalam film ini dipresentasikan sebagai binatang yang menyeramkan. tanduknya yang indah bukan fitur yang anggun, melainkan senjata tajam yang mampu merobek perut lawannya. Ditampilkan sebagai sekelompok unicorn yang angkuh dan lebih besar dari teddy bear yang kerdil, memberikan efek mengintimidasi.

Kekontrasan naskah dan visual animasi dalam “Unicorn Wars” lebih dari sekadar aplikasi yang unik, namun memiliki makna yang cukup mendalam. Bahwa definisi dari ‘keimutan’ ternyata tak hanya soal penampilan, namun juga tentang substansi.

Film animasi ini membuktikan bahwa subyek yang menjadi simbol keimutan seperti teddy bear dan unicorn saja bisa menjadi sosok mengerikan yang mulai perang berdarah. Eksekusi ini semakin memperkuat pesan anti perang dalam level pengertian yang lebih mendalam. Ada ironi yang membuat kita semakin merasa tidak nyaman selama menonton animasi ini.

Susunan Plot Acak dan Latar Belakang Unicorn yang Kurang Dieksplorasi

Salah satu kelemahan dalam “Unicorn Wars” adalah susunan plotnya. Ada narasi ala dongeng yang lebih cocok menjadi prolog, namun diselipkan dalam pertengahan plot begitu saja. Adapula beberapa adegan flashback yang diaplikasikan dalam plot dengan kurang tepat. Dimana terkadang menurunkan tensi yang telah dibangun dalam adegan krusial. Sebagai film animasi bertajuk “Unicorn Wars”, film ini lebih cocok disebut sebagai ‘teddy bear wars’, karena sudut pandangnya lebih didominasi oleh kaum teddy bear daripada unicorn.

Namun bisa dipahami, ‘unicorn wars’ terdengar lebih komersial dan catchy. Tak hanya karena naskah lebih bias ke teddy bear, latar belakang dari bangsa unicorn dalam naskah tidak disajikan dengann adil. Karena latar belakang tentang unicorn mengusir beruang dari Magic Forest berdasarkan kitab suci teddy bear. Kita tidak tahu jelas kebenaran dari sudut pandang unicorn. Dengan begitu, muncul teori dan asumsi bisa saja ada kesalahpahaman yang terjadi. Karena kebanyakan perang dimulai karena kasus demikian.

Secara keseluruhan, “Unicorn Wars” tetap menjadi film animasi dewasa yang menarik untuk ditonton. Berhasil dinobatkan sebagai Best Animated Film di 37th Goya Awards, “Unicorn Wars” kini sudah bisa di-streaming di KlikFilm.

Late Night with the Devil Late Night with the Devil

Late Night with the Devil Review: Mimpi Buruk Talk Show Tengah Malam

Film

In a Violent Nature Review In a Violent Nature Review

In a Violent Nature Review: Slasher Horror dari Sudut Pandangan Pembunuh

Film

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Connect