Connect with us

Film

Under the Open Sky Review

Kesempatan kedua bagi seorang mantan Yakuza untuk memulai hidup yang benar. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Under the Open Sky” merupakan film Jepang terbaru karya Miwa Nishikawa. Film ini diputar perdana di Toronto International Film Festival pada 2020 lalu. Film drama dari sutradara wanita terbaik di Jepang ini ada dalam lineup Japanese Film Festival Online 2022 (JFF+). Dibintangi oleh Koji Yakusho, cerita berpusat pada Mikami, seorang mantan yakuza yang telah menjalani hukuman pidana selama 13 tahun. 

Setelah akhirnya keluar dari penjara, Mikami memiliki semangat untuk memulai hidup baru yang lebih baik di masyarakat. Ia juga ingin bertemu dengan ibunya kembali dengan menawarkan kisahnya pada seorang penulis, Tsunoda (Taiga Nakano). Sambil menunggu kabar tentang ibunya, Mikami berusaha menemukan tempatnya di masyarakat yang ternyata tidak mudah karena masa lalunya sebagai anggota Yakuza.

Drama Humanis Tentang Perjuangan Mikami untuk Menemukan Tempatnya di Masyarakat

Dalam kisah ini, Mikami hendak dijadikan representasi dari banyak orang di luar sana yang merupakan mantan narapidana dalam usaha kembali diterima di tengah masyarakat. Secara bertahap, kita akan mengenal sosok Mikami dan merasa simpati dengan keadaannya.

Memahami protagonis dalam kisah ini bukan tentang apa Ia orang baik atau orang jahat, karena setiap manusia pada dasarnya memiliki dua sisi tersebut. Hal tersebut akan ditunjukan melalui penokohan Mikami dan karakter-karakter pendukung lainnya. Bahwa di masyarakat yang normal pun, tak sedikit orang harus menahan diri dan menutup mata dari penindasan diri di sekitar kita. Agar hidup kita lurus tanpa terlibat masalah. 

Pada akhirnya, tugas Mikami lebih dari sekedar menjadi orang baik, namun bagaimana Ia harus berjuang mengontrol diri untuk melebur di tengah masyarakat. Koji Yakusho memberikan penampilan terbaiknya sebagai protagonis yang secara perlahan akan mencuri simpati kita. Kita akan melihat aktor ini mengeksekusi karakter ‘biasa’ namun terasa nyata.

Dengan dilema batin dan pasang surut emosi yang Ia alami dalam mengendalikan diri. Bahwa menjadi ‘orang normal’ atau ‘orang biasa’ terkadang bukan hal yang mudah juga bagi orang seperti Mikami.

Kisah Kronologis yang Menyadarkan Kita akan Siklus ‘Lingkaran Kriminal’

Tak hanya penokohan yang kuat pada protagonis, dunia dan latar belakang kisah yang mengitari Mikami juga mendukung naskah bermakna “Under the Open Sky”. Sebagai film dengan durasi 2 jam 6 menit, film ini juga tidak terlalu masuk golongan film drama slow pace. Setiap adegan dan plot cerita dalam naskah film ini dibutuhkan untuk merangkai kisah Mikami dengan tujuan menimbulkan pemahaman penting bagi penonton.

Naskah ditulis dengan sangat rapi untuk kita memahami Mikami hingga latar belakang mengapa Ia masuk dalam lingkaran kriminal. Kemudian yang terpenting, bagaimana ‘dunia’ memiliki sistem yang sulit untuk orang sepertinya mendapatkan kesempatan kedua, hanya untuk membuat mereka kembali pada kehidupan lama mereka sebagai seorang kriminal. 

Kita sebagai penonton (tanpa catatan kriminal seperti Mikami) akan menempatkan diri sebagai ‘masyarakat’ dalam skenario ini. Dengan memahami kisah Mikami, kita akan diberikan pandangan baru tentang isu ini. Kita akan berpikir kembali sebelum menghakimi mantan narapidana yang sebetulnya hanya ingin memulai kehidupan baru dan diterima kembali oleh masyarakat. Jika mereka kembali ke jalan yang salah, bisa jadi masyarakat sendiri yang bertanggung jawab akan hal tersebut. Pada akhirnya, setiap orang hanya ingin memiliki tempatnya di masyarakat agar bisa menjalani hidup yang normal.

Orientasi Naskah pada Realita Terkelam dalam Kehidupan

Secara keseluruhan, “Under the Open Sky” memilih untuk melakukan pendekatan naskah yang tak jauh dari realita. Pasang surut konflik yang terjadi dalam kisah Mikami juga tidak bisa tergolong dramatis. Terkadang, tak sedikit manusia memiliki kisah yang tragis dan ironis, tak ada yang dramatis tentang itu.

Babak demi babak, kita akan mengikuti perjuangan Mikami dalam mencari tempatnya di masyarakat. Konflik yang dimasukan dalam plot juga tidak terlalu monumental untuk membuat kita gigit jari. Bisa tergolong film yang cukup nyaman untuk ditonton di kala santai. 

Film-film seperti ini memiliki kekuatan yang besar ketika berhasil membuat penontonnya simpati pada protagonis, dan “Under the Open Sky” memiliki kekuatan besar dalam elemen tersebut. Hingga pada akhirnya, Miwa Nishikawa memilih untuk memberikan skenario bittersweet untuk film ini.

Jika kita mau mencari makna sesungguhnya, ini bukan tentang awal atau akhir dari bagaimana kehidupan Mikami berlangsung, namun apa yang terjadi dalam prosesnya. Baik keputusan yang diambil Mikami maupun orang disekitarnya yang bertanggung jawab untuk memberikan kesempatan kedua padanya. 

“Under the Open Sky” merupakan film terbaik dalam lineup JFF+  yang sedang berlangsung secara daring.

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Happiest Season Happiest Season

Rekomendasi Film Chick Flick 2020an

Cultura Lists

Kilas Balik Trilogi Baru Star Wars: Kehancuran Sebuah Franchise

Entertainment

My Missing Valentine My Missing Valentine

My Missing Valentine: Menyusuri Ingatan Satu Hari yang Hilang

Film

Connect