Connect with us
lagu lama indonesia
Mocca | Photo via dictio.id

Cultura Lists

Tracks of The Week: 10 Lagu Lama Indonesia

Saatnya menyegarkan memori kita akan lagu-lagu terbaik yang pernah menjadi obsesi.

Rasa-rasanya sangat disayangkan bila kita tidak melakukan sesuatu yang kreatif guna mengisi periode karantina diri akibat pandemik COVID-19 ini. Berbagai macam usul telah dilontarkan–entah oleh teman, keluarga, atau seribu satu artikel lifestyle di luar sana.

Mungkin kita bisa mengisi waktu dengan cara membaca buku yang masih dalam kemasan plastik selama bertahun-tahun lamanya, belajar satu atau dua resep masakan yang selama ini hanya sekedar menjadi resolusi tahun baru, atau menenggelamkan diri dalam dunia Netflix selama 24 jam plus plus.

Bagaimana kalau kita menapak tilas sedikit lagu-lagu masa lalu yang sempat menjadi favorit kita tapi–entah apa yang menjadi alasannya–malah terbengkalai di pojok kotak memori kita? Rasa-rasanya merupakan sesuatu yang menyenangkan ketika kita kebetulan mendengarkan salah satu lagu era remaja dan kita langsung berpikir, “Kok gue bisa lupa sama lagu ini?”

Berikut adalah 10 lagu lama Indonesia yang mungkin pernah menjadi favorit, tapi kemudian malah terlupakan, namun kemudian patut kembali menghiasi playlist masa kini.

10. Ten2Five feat. Aditya – “I Do” (2004)

Mungkin ketika kita mendengar nama band Ten2Five, yang pertama kali terlintas di benak adalah hit raksasa mereka “I Will Fly” (alias lagu wajib buat tugas kelompok mata pelajaran seni musik). Akan tetapi, para pemuda dan pemudi era Milenium tahu betul bahwa lagu Ten2Five yang berjudul “I Do” yang justru menjadi soundtrack di meja belajar sekaligus motivator untuk pernyataan cinta pertama.

9. Mocca – “Me and My Boyfriend” (2002)

Ketika Daniel Mananta dan Sarah Sechan masih menjadi VJ MTV, tentunya penonton setia MTV Indonesia masih ingat betapa iconic-nya video klip “Me and My Boyfriend” karya band indie asal Bandung bernama Mocca. Produksi lagu “Me and My Boyfriend” yang bagaikan jingle iklan bercampur musik jukebox berhasil merusak konsentrasi tingkat tinggi dan bertanggung jawab atas seluruh rapor merah para siswa-siswi SMP dan SMA se-Indonesia.

8. Anda – “Menghitung Hari 2” (2006)

Masih ingat film Heart? Yang dibintangi oleh Nirina Zubir, Irwansyah, dan Acha Septriasa zaman mereka masih “unyu”? Yang sempat menjadi film Indo paling ‘cengeng’ sebelum Habibie & Ainun muncul? Kala itu memang Heart tidak populer bagi para kaum Adam yang lebih suka sesuatu yang lebih maskulin ala tetralogi Final Destination. Akan tetapi, salah satu soundtrack-nya yang berjudul “Menghitung Hari 2” juga berhasil menjadi soundtrack kehidupan pejantan muda di era 2000-an. Cowok dilarang meneteskan air mata apa pun alasannya–kecuali saat mendengarkan “Menghitung Hari 2” sendirian sambil latihan gitar di kamar.

7. Audy – “Menangis Semalam” (2001)

Bila “Menghitung Hari 2” adalah lagu ‘cengeng’ kaum Adam di era 2000-an, maka “Menangis Semalam” adalah lagu ‘cengeng’ kaum Hawa di era yang sama. Ketika teman sebangku zaman kelas 2 SMA kita mendadak “an-sos” sendirian sambil menikmati lagu “Menangis Semalam”, kita langsung tahu bahwa melodrama terdahsyat sedang terjadi dalam hidupnya. Kalau bukan “Menangis Semalam”, biasanya adalah “Dibalas Dengan Dusta” atau “Janji Di Atas Ingkar”. Kenapa baru sekarang kita menyadari kalau balada Audy itu tragis semua?

6. SUPERMAN IS DEAD feat. Brianna Simorangkir – “Sunset Di Tanah Anarki” (2013)

SUPERMAN IS DEAD tidak hanya menginspirasi para bocah belia untuk membentuk band rock di garasi rumah sehabis pulang sekolah, tetapi juga memperkenalkan edukasi politik kepada para remaja Orde Reformasi. Apalagi, kala itu kasus pembunuhan aktivis Munir Said Thalib masih menjadi buah bibir bahkan di antara para pelajar dan mahasiswa. “Sunset Di Tanah Anarki” bisa menjadi napak tilas bagi para mantan rocker garasi dan para mantan ketua himpunan mahasiswa yang ingin memulihkan kembali api di dalam jiwa.

5. Chrisye & Ahmad Dhani – “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada” (2004)

Jujur saja: kalau bukan karena Chrisye dan Ahmad Dhani yang membawakan lagu ini, pasti “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada” tidak akan pernah memiliki nyawa di stasiun radio FM. Sangat kontroversial karena liriknya yang menyinggung konsep religi dan ateisme, ironisnya “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada” lebih populer di pojok ruang kelas kala istirahat makan siang daripada stasiun televisi swasta. Kita takut untuk mendengarnya, tapi kita tidak bisa menahan rasa penasaran. Siapa bilang kontroversi tidak bisa menggoda?

4. Ello, Barry (Saint Loco), Ipank & Lala Karmela – “Buka Semangat Baru” (2011)

Salah satu lagu paling ‘ngegemesin’ yang pernah diciptakan–lebih karena “Buka Semangat Baru” menjamuri segala macam media telekomunikasi hingga melampaui batas kewajaran. Dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa sepenuhnya mengapresiasi “Buka Semangat Baru” sebagai karya musik yang solid dan bukannya sekedar jingle iklan Coca-Cola. Bagi yang membutuhkan semangat sebelum jogging atau sebelum berangkat kantor atau sebelum nyoblos pemilu, silakan menapak tilas lagu yang satu ini.

3. La Luna – “Selepas Kau Pergi” (2003)

Bagi yang ‘melek’ dengan pop culture, tahun 2003 di Indonesia didefinisikan oleh dua hal: film Eiffel I’m in Love dan band swing-pop La Luna. Sempat dikira sebagai penerus Potret, single La Luna yang “Selepas Kau Pergi” menjadi lagu galau bahkan sebelum konsep “lagu galau” menjadi genre mainstream seperti sekarang. Berbeda dengan balada Audy dan kawan-kawan yang kebanyakan melodramatis, “Selepas Kau Pergi” menghadirkan melankolia yang sesuai dengan suasana hari seorang remaja: kompleks dan kelewat labil. Jadi, kapan La Luna akan kembali berkarya?

2. Tangga – “Cinta Begini” (2007)

Pada akhir dekade 2000-an, “Cinta Begini” menjadi lagu kebangsaan bagi siapa pun itu yang hanya bisa menjadi ‘nomor dua’ dan bukannya ‘nomor satu’ seseorang. Akan tetapi, music lovers yang kala itu masih belum sevokal (dan seekspresif sekarang) masih gengsi untuk menyatakan “Cinta Begini” sebagai soundtrack hidup mereka. Tiga belas tahun sudah berlalu dan rasa-rasanya, sudah saatnya untuk menepikan harga diri dan kembali berkenalan dengan “Cinta Begini”. Nostalgia yang tercipta akan menyakitkan, akan tetapi ada kalanya rasa sakit yang justru menjadikan kenangan begitu indah. Bukankah demikian?

1. D’Cinnamons – “Selamanya Cinta” (2007)

Balada yang romantis namun easy-listening? CHECK. Vokal Diana Widoera yang soulful namun accessible? CHECK. Produk final yang berkualitas namun emosional? CHECK. Tapi kenapa “Selamanya Cinta” justru menjadi salah satu karya musik Indonesia paling indah sekaligus paling terlupakan di era modern ini?

Kala itu memang musik berkonsep “unplugged acoustic” sangat tidak populer dan belum dipandang serius (ironisnya, cobalah kita lihat lanskap musik masa kini yang didominasi oleh konsep “unplugged acoustic”). Para artis pendatang baru Gen Z pastinya rela menderita mati-matian demi beroleh vokal seindah Diana dan lagu seindah “Selamanya Cinta”. Tidak ada yang bisa mengalahkan nostalgia selain D’Cinnamons–dan semoga saja D’Cinnamons tidak sekedar menjadi band nostalgia.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect