Connect with us
The Last Voyage of the Demeter
Cr. Universal Pictures

Film

The Last Voyage of the Demeter: Wahana Kapal Horor dengan Teror Dracula

Adaptasi terbaru ‘Dracula’ adalah skenario horor survival di atas kapal yang menegangkan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Last Voyage of the Demeter” merupakan film horor terbaru dari sutradara Andre Ovredal. Dibintangi oleh Corey Hawkins, Aisling Franciosi, Liam Cunningham, David Dastmalchian, dan Javier Botet. Di tengah-tengah tren film horor berlatar modern di Hollywood, “The Last Voyage of the Demeter” menghadirkan materi klasik.

Film ini merupakan bagian dari adaptasi “Dracula” oleh Bram Stoker, khususnya chapter ‘The Captain’s Log’. Diterjemahkan sebagai catatan kapten kapal Demeter, bersangkutan dengan awal mula kemunculan sosok Dracula.

Demeter adalah kapal angkutan yang dipimpin oleh Kapten Eliot. Clemens adalah dokter yang mengalami diskriminasi karena warna kulitnya, akhirnya menumpang di kapal Demeter. Musibah misterius mulai terjadi ketika seorang gadis bernama Anna ditemukan di kapal sebagai ‘penumpang gelap’.

The Last Voyage of the Demeter

Survival Horror di Atas Kapal dari Teror Dracula

Premis “The Last Voyage of the Demeter” sangat sederhana; teror Dracula pada segenap awak kapal Demeter. Setelah adegan prolog dan babak pertama yang berlatar di daratan, sebagaian besar film ini banyak yang belatar di atas kapal, di tengah lautan lepas. Menjadi latar survival horror bernuansa folklore dengan tema klasiknya. Ini sebetulnya menjadi tema horor yang distinct di antara rilian-rilisan terbaru seperti “Talk to Me”, “Megan”, “Smile” dengan latar modern.

Menonton film ini di bioskop membuat kita serasa menaiki wahana kapal horor. Subyek dan objek dalam skenario horor ini juga jelas. Awak-awak kapal yang terjebak di tengah laut sebagai mangsa, serta Dracula sebagai teror di malam hari.

Meski prolognya telah mengindikasikan nasib akhir dari kapal Demeter, sempat timbul penasaran bagaimana kronologi tragedinya. Sayangnya, sebagai film horor dengan plot linear, backstory dari Dracula kurang dieksplorasi melalui dialognya. Melihat ini seharusnya menjadi skenario semi-origin dari Dracula.

The Last Voyage of the Demeter

Menegangkan untuk Beberapa Saat Hingga Adegan Terasa Repetitif

Memasuki babak kedua, teror sosok Dracula yang dipresentasikan secara bertahap sempat menghadirkan ketegangan. Mulai dari insiden-insiden yang tidak terindentifikasi, hingga akhirnya kehadiran sang monster penghisap darah mulai disadari oleh setiap karakter. Pada babak ini pula, eksekusi jumpscare dengan build up suspense masih berhasil melakukan triknya untuk mengagetkan penonton. Hingga akhirnya kita mulai terbiasa dengan pola yang repetitif.

Setelah melihat rutinitas mereka yang sama setiap hari dalam menghadapi teror Dracula, kita juga tidak terlalu melihat perubahan dari rencana mereka untuk bertahan hidup dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Setidaknya tidak terlihat dalam narasi naskah yang rapi.

Penulis naskah terlihat seperti kelabakan untuk merangkai cerita survival yang benar-benar menegangkan. Akhirnya mulai menggunakan trik karakter-karakter yang membuat keputusan bodoh agar plot pembantaiannya terus berjalan.

Akting Memikat Namun Desain Produksi Kurang Berkesan

Salah satu keunggulan dari “The Last Voyage of the Demeter” adalah kualitas akting pemainnya. Corey Hawkins sebagai protagonis dan Aisling Franciosi tampil unggul. Bahkan aktor cilik Woody Norman sebagai Toby dengan penampilan naif yang memberikan variasi dalam emosi awak kapal Demeter.

Liam Cunningham seharusnya bisa menjadi protagonis, mengingat ia adalah Kapten Eliot dan kisah ini adalah adaptasi dari catatannya. Entah mengapa Clemens yang malah jadi protagnisnya, jadi terlihat ada agenda ras yang terasa dimasukan dalam skenarionya. Namun tidak terlalu mengganggu, hanya membuat narasi film ini tidak konsisten dalam aspek kontinuitas.

Sebetulnya set kapal Demeter di tengah laut, dengan beberapa adegan badai sudah memiliki presentasi yang berkualitas. Tata rias prostetik untuk luka pada korban dan adegan-adegan grafik penuh kekerasan yang mengerikan juga menjadi penambah elemen thriller dalam beberapa adegan.

Kualitas CGI juga sudah memenuhi standar perfilman masa kini. Sayangnya, untuk sinematografi dan musik latar, film ini tidak memberikan sesuatu yang berkesan. Dalam adegan-adegan teror di malam hari juga terlihat terlalu gelap.

Pada akhirnya, “The Last Voyage of Demeter” masih layak tonton sebagai wahana horor berlatar di kapal dengan teror Dracula. Meski dalam kualitas naskah masih kurang mantap untuk menjadi salah satu film horor terbaik tahun ini.

Lost in Translation & Her: Kesepian dan Perpisahan dari Dua Perspektif

Film

Siksa Kubur & Badarawuhi di Desa Penari: Rayakan Lebaran dengan Film Horor Lokal

Entertainment

Monkey Man Monkey Man

Film & Serial Terbaru April 2024

Cultura Lists

Perfect Days Perfect Days

Perfect Days: Slow Living & Komorebi

Entertainment

Connect