Connect with us
The Good Place
Photo: Colleen Hayes/NBC

TV

The Good Place Review: Komedi Situasi di Alam Baka Kaya Filosofi Kehidupan

Komedi situasi dengan plot yang tidak repetitif, menghibur, dan memuat pelajaran moral.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Good Place” merupakan sitcom Netflix Original yang sempat populer pada 2016. Serial ciptaan Michael Schur ini sudah tutup season pada 2020 lalu, dengan total empat season yang masih bisa di-streaming di Netflix. Sitcom ini dibintangi oleh Kristen Bell, William Jackson Harper, Jameela Jamil, D’Arcy Carden, Manny Jacinto, dan Ted Danson.

Kisah dibuka dengan Eleanor Shellstrop yang masuk ‘Good Place’ setelah ia meninggal. Tempat di alam baka yang lebih sering kita sebut sebagai ‘surga’. Ia disambut oleh Michael yang menyebut dirinya sebagai ‘arsitek’, pencipta dari Good Place. Setelah dipertemukan dengan belahan jiwanya, Chidi Anagonye, Eleanor mengungkapkan bahwa ia mungkin berakhir di tempat yang salah mengingat perilakunya selama hidup.

“The Good Place” menuai ulasan positif dari berbagai media dan sempat masuk menerima 14 nominasi pada Primetime Emmy Awards, termasuk Outstanding Comedy Series untuk Season 3 dan finale. Buat kita yang tertarik dengan sitcom, sekaligus filosofi yang cukup berat seputar kehidupan, hukum moral, dan latar dystopia, tak pernah terlambat untuk mulai binge “The Good Place”.

The Good Place

Belajar Tentang Filosofi Kehidupan dan Moral di Kehidupan Selanjutnya

Ketika manusia telah menyelesaikan hidupnya, mereka bisa masuk ‘Good Place’ bagi yang baik selama hidupnya, atau ‘Bad Place’ untuk mereka yang menyiakan hidup dengan perilaku yang buruk. Memilih untuk tidak menyebut ‘surga’ dan ‘neraka’ dalam serial ini merupakan pilihan yang cerdas.

Serial ini tidak ingin memperdebatkan apa yang salah atau benar, maupun dosa atau amal manusia. Namun hanya konsep dasar tentang antara yang baik dan buruk. Serta tidak ingin menjadi representasi dari agama apapun, oleh karena itu pekerja di alam baka seperti Michael dijuluki ‘Arsitek’. Sementara Janet yang dalam dunia kita mungkin lebih familiar sebagai ‘malaikat’ tak lebih dari sekadar android dengan kecerdasaan buatan sebagai asisten arsitek.

“The Good Place” memiliki intisari pesan tentang kehidupan secara umum. Mencari kebenaran dalam kehidupan, mempertanyakan standard moral yang sesungguhnya, serta berbagai problematika maupun support system yang bisa mempengaruhi taraf moral seorang manusia selama hidup.

Sitcom ini memiliki muatan filosofi dan porsi humor yang seimbang. Serial ini tahu kapan yang tepat untuk mengeksekusi lelucon yang membuat penonton tertawa. Serta kapan menyajikan adegan yang serius untuk memberikan dampak emosional pada penontonnya. “The Good Place” merupakan serial komedi yang mampu membuat penontonnya tertawa dan terharu atau menangis pada situasi yang tepat.

Deretan Karakter dengan Penokohan dan Perkembangan Menarik

Seperti sitcom pada umumnya, “The Good Place” juga memiliki sekelompok karakter utama dengan chemistry yang kuat. Selain Eleanor dan Chidi, ada juga Jason dan Tahani, keempatnya menjadi karakter manusia yang tinggal di Good Place setelah meninggal. Eleanor adalah wanita muda yang egois, Chidi adalah dosen filosofi moral yang overthinking, Tahani adalah sosok sempurna luar dan dalam, kemudian Jason ibarat wildcard dalam lineup ini. Seperti sitcom terbaik dan sukses pada umumnya, “The Good Place” memberikan presentasi karakter-karakter yang loveable. Bahkan dengan segala kekurangan mereka.

Setiap karakter juga memiliki kisah pribadi yang kuat untuk memberikan dampak penonton, untuk memahami mereka sebagai manusia. Bahwa ada kebaikan dalam keburukan, dan keburukan dalam kebaikan. Begitu pula nilai tersebut pada karakter Michael, salah satu karakter baik dalam serial ini. Pada akhirnya, serial ini hendak menunjukan setiap manusia tidak selalu putih dan tidak selalu hitam.

Setiap karakter memiliki porsinya masing-masing untuk berkembang menjadi karakter yang lebih baik. Serta bagaimana mereka mencapai poin tersebut. Bahwa Eleanor tidak selalu egois, begitu pula Tahani tidak selalu sempurna, Chidi tidak selalu cerdas, dan Jason tidak selalu bodoh. Interaksi setiap karakter juga mengandung banyak dialog yang quotable. Membukti kualitas naskah yang diisi dengan berbagai dialog yang bermakna, berkualitas, serta menghibur.

Serial Komedi Situasi yang Tidak Repetitif, Plot yang Terus Berkembang

Sitcom pada umumnya menampilkan latar dimana semua karakter hanya berkutat dalam situasi dan lokasi yang sama. Seperti “The Office” dimana karakter menghabiskan waktunya di kantor, atau “Community” dimana fokus dengan interaksi setiap karakter di lingkungan kampus. “The Good Place” merupakan sitcom yang unggul karena memiliki perkembangan plot yang seru dan dinamis.

Setelah hadir dengan plot twist terbesar pada akhir season pertama, Michael Schur bisa saja mengulang pola yang sama pada tiga season berikutnya, dan kita akan tetap lanjut menonton. Namun selalu ada plot baru yang dihadirkan oleh Michael Schur setiap kembali dengan season terbaru. Inilah yang membuat “The Good Place” semakin bagus hingga menjelang season finale.

Petualangan Eleanor bersama teman-temannya mengalami perpindahan dimensi, latar, hingga objektif. Namun intisarinya tetap konsisten dan tidak pernah melenceng dari jalur utama. Hingga pada akhirnya sampai pada episode dengan ending yang benar-benar ‘the final’. Seperti halnya kehidupan, akan selalu ada penemuan dan pemahaman baru yang kita dapatkan tentang moral dan arti dari kehidupan dalam “The Good Place”.

Orion and the Dark Orion and the Dark

Orion and the Dark Review: Eksplorasi Keindahan dalam Kegelapan

Film

A Shop for Killers A Shop for Killers

A Shop for Killers Review: Aksi Lee Dong-wook dan Kim Hye-jun dalam K-Drama Laga

TV

The Abandoned The Abandoned

The Abandoned Review: Pembunuhan Berantai Imigran Gelap Tragis

Film

Chernobyl HBO Chernobyl HBO

7 Rekomendasi Miniseri Bermuatan Sejarah

TV

Connect