Connect with us
The Bridge Asia

TV

The Bridge Season 1 Review

Salah satu drama kriminal produksi Asia Tenggara dengan paket komplit.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

The Bridge Season 2 rencananya akan rilis pada 15 Juni 2020. Season 2 ini menampilkan aktor dan aktris asal Indonesia yaitu Ario Bayu, Amanda Manopo, Lukman Sardi, dan Whulandary Herman. Sementara karakter utama dari Malaysia dan Singapura masih diperankan orang yang sama yaitu Bront Palarae dan Rebecca Lim.

Season 1 telah tayang tahun 2018 dan mendapatkan respon positif dari penggemar. Serial ini merupakan adaptasi dari serial asal Scadinavia yang ditulis dan disutradarai oleh Hans Rosenfeldt.

The Bridge Season 1 Review

The Bridge Season 1 Review

Megat Jamil (Bront Palarae) adalah staff ICD asal Malaysia. ICD merupakan lembaga yang menangani kasus kriminal antarnegara Asia Tenggara. Sementara Serena Tao (Rebecca Lim) adalah staff asal Singapura. Mereka harus bekerja sama karena adanya penemuan mayat di jembatan yang menghubungan kedua negara tersebut. Pada bagian jembatan milik Singapura, tergeletak mayat Monica Lee, seorang jaksa dalam kasus pencucian uang. Sementara bagian tubuh pada jembatan Malaysia milik seorang TKW asal Indonesia yang telah hilang enam bulan lalu.

Kedua bagian tubuh tersebut diletakkan berdempetan seakan merupakan tubuh dari satu orang saja. Padahal selain milik dua orang yang berbeda, waktu kematiannya juga berbeda. Monica Lee meninggal dunia 8-10 jam yang lalu. Sementara jenazah TKW tersebut telah dibekukan selama enam bulan. Ia juga memiliki bekas luka terbakar akibat minyak di kakinya. TKW tersebut dituduh mencuri uang majikan dan kabur. Namun kepergiannya tidak dipedulikan oleh institusi hukum setempat.

Sementara itu Daniel Chong, jurnalis media Asia Now, mendapatkan telpon misterius. Telpon itu menjanjikan sebuah informasi yang bernilai berita tinggi. Namun ternyata si penelpon hanya menjebak Daniel. Ia dituduh bertanggung jawab dalam membuang mayat di perbatasan Singapura-Malaysia. Mobilnya terekam kamera CCTV. Barang bukti lain juga tersimpan di mobilnya. Ia terjebak dengan bom yang akan segera meledak.

Pada episode pertama saja kita akan diberi informasi yang melimpah tentang bagaimana kompleksnya plot cerita sampai 10 episode ke depan. Pembunuhan, pencucian uang, hukum yang timpang, penyelundupan tenaga kerja, hingga masalah rumah tangga dijadikan satu. Ini menjadikan The Bridge begitu menarik. Bila dibandingkan dengan Pretty Little Liars, serial ini terasa lebih berat sekaligus berbeda. Kita sudah biasa melihat drama remaja yang serupa produksi dalam negeri tapi The Bridge adalah serial crimes. Sesuatu yang jarang disentuh sineas kita.

The Bridge Asia

Akan banyak penonton yang mengapresiasi The Bridge Season 2 karena kita masih kekurangan drama serupa produksi Asia Tenggara. Kita butuh sesuatu yang seperti ini. The Bridge membuktikan bahwa kita pun mampu membuat serial bergenre crimes seperti di Korea atau Amerika. Kelebihannya, serial ini menampilkan lokalitas yang kuat. Seperti dialek, setting, dan sentuhan budaya yang tidak kita temukan di drama Korea ataupun serial buatan Netflix.

Selain riset yang cukup mumpuni mengenai dunia kriminal, The Bridge juga mampu memberikan setting yang meyakinkan pada penonton. Kita akan melihat setting rumah yang relatable. Bila kadang kita melihat sinetron Indonesia dengan setting yang kaku dan tidak terasa benar-benar seperti rumah maka kita akan melihatnya di The Bridge. Rumah yang berantakan, barang yang bertumpuk di laci, remote tv, hingga anak yang mengejarkan PR di meja makan bukan di meja belajar.

Penampilan para aktor dan aktrisnya patut diacungi jempol. Begitu pula bagian makeup dan wardrobe. Benar-benar terlihat natural. Misalnya istri Megat yang terlihat kelelahan menangani tiga anak yang terus bertengkar. Ia menggunakan pakaian seadanya tanpa makeup di dalam rumah. Serena juga mengkritik mobil Megat yang katanya bau. Megat mengatakan beginilah mobil seorang lelaki yang memiliki anak masih kecil. Berantakan dan bau tak sedap.

The Bridge juga berani menyoroti bagaimana buruh migran seringkali dikesampingkan di mata hukum. Ketika ada TKW hilang, otoritas hukum setempat tidak cukup berusaha untuk mencarinya. File perkaranya juga tipis. Ditambah lagi banyak orang Indonesia yang diselundupkan secara ilegal, membuat mereka semakin rentan mendapatkan ketidakadilan. Di mata hukum, mereka tidak ada artinya hidup ataupun mati. Otoritas hukum juga tidak bersusah payah mencurigai majikan mereka karena punya prasangka bahwa buruh migran pasti melakukan kesalahan.

Ini adalah serial yang cukup kompleks maka kita harus menontonnya pelan-pelan agar tidak merasa tertinggal informasi dari tiap scene-nya. Tidak perlu khawatir soal dialek atau bahasa yang digunakan karena Viu sendiri menyediakan subtitle.

The Bridge dapat menjadi pemantik sineas di Indonesia maupun Asia Tenggara untuk lebih banyak menyuguhkan serial yang setipe. Tentunya juga mengangkat isu-isu yang jarang dipedulikan oleh masyarakat tapi sebenarnya ada.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect