Connect with us
Taylor Swift: Lover Album Review
Taylor Swift

Music

Taylor Swift: Lover Album Review

Membaca lirik demi lirik di tiap track seakan mengintip langsung ke dalam diary Taylor Swift.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Berbicara tentang album dari Taylor Swift mau tak mau memang mendiskusikan tentang kehidupan pribadi sang artis. Bagaimana tidak ketika nyaris semua album dari sang pop diva merupakan diary dari perjalanan hidup, percintaan, serta karirnya. Tentu belum lupa dengan serangkaian internet meme tentang deretan mantan kekasih Tay dan lagu cinta (atau patah hati) yang diciptakan untuk atau terinspirasi dari mereka.

“Lover” pun tak jauh berbeda. Setelah era kegelapan “reputation”, dimana Taylor Swift membungkus dirinya dengan persona baru dari America’s sweetheart menjadi devilish snake; “Lover” membawa kita ke era warna pink, rainbow, kucing, ular yang berubah menjadi kupu-kupu, serta sisi lembut and very much in love dari seorang Taylor Swift. 18 track di album ini pun seakan sebuah ode tersendiri dari Taylor Swift untuk hal yang ia kenal betul dan cintai: sang kekasih, ibu, kampung halaman. Sisipan cerita tentang jati diri sampai persamaan gender seakan menjadi bumbu pemanis dari sisi marshmallow di “Lover.”

Taylor Swift Lover Album Review

Taylor Swift – Lover

Seperti juga mayoritas dari album Taylor Swift lain, “Lover” dimulai dengan 2 single yang sama sekali kurang memuaskan. “ME!” memang tepat secara konsep: menjadi gerbang pembuka dari era “reputation” ke “Lover.” Namun secara musikalitas? Musik The Kidz Bop bubblegum di single pembuka ini membuat banyak orang sanksi dengan kualitas album terbaru Tay nantinya.

Satu bulan sejak perilisan “ME!”, yang berkolaborasi dengan Brendan Urie dari Panic! at the Disco, Tay merilis single kedua “You Need to Calm Down.” Lagu ini pun menghadirkan sisi lain dari Taylor Swift. Terutama mengenai pandangannya secara politis. Sayangnya, tak ada yang spesial dari kedua single pertama ini.

Untungnya, 16 track lain di album “Lover” justru sangat jauh berbeda dari 2 single yang dirilis lebih dulu. “Lover” menjadi tittle track utama dari album ini dan membawa pendengarnya masuk ke era country Taylor Swift yang berpadu dengan “Red.” Sentuhan manis musik Waltz serta lirik romantis membuat track satu ini seakan pas didengar di pesta pernikahan.

“I Think He Knows” juga membawa sisi lawas dari musik Taylor Swift. Kali ini dari “reputation” walaupun terdengar juga pop rock yang mengingatkan pada Music Row dari Nashville. Track “I Forgot That You Existed” yang menjadi opener pun meminjam semangat menulis lirik dari “reputation.” Hanya saja kali ini dengan sisi sebaliknya; tak lagi dendam, Tay justru “I Forgot That You Existed.” Satu lagi track apik yang dijamin liriknya akan banyak menjadi caption di berbagai postingan Instagram beberapa waktu mendatang.

“Cruel Summer” dan “The Archer” menyentuh sisi lain selain cinta dan juga benci. Kali ini cinta dan benci pada diri sendiri. Lirik “I cut off my nose just to spite my face/And I hate my reflection for years and years,” dipadukan dengan esque synthesizer yang diramu sangat apik. Untuk track tema penemuan jati diri ini, “The Man” bisa dikatakan sebagai salah satu dengan lirik paling menarik. Bila sebelumnya kita familiar dengan “If I Were a Boy” dari Beyoncé, Taylor Swift menghadirkan pendekatan lain mengenai gender-equality di “The Man.” Salah satunya menyindir bagaimana menjadi seorang pria memiliki banyak kemudahan, “When everyone believes ya/What’s that like?.”

“Miss Americana & the Heartbreak Prince” juga menjadi track dimana Taylor berbicara tentang toxic masculinity, kali ini membungkusnya dengan musik pop dan nada yang manis.

Setelah sisi politik, romantis, dan penemuan jati diri, “Soon You’ll Get Better” merupakan track yang sangat emosional. Satu hal di album “Lover” ini, Taylor Swift rupanya sukses sampai di tahap penulisan lirik dan musiknya tak hanya membagikan pengalaman. Melainkan sebuah emosi dan keterkaitan spiritual tersendiri. “Soon You’ll Get Better,” merupakan contoh diantaranya.

Track ini menceritakan tentang sang ibu, yang berjuang dengan penyakit kanker. Dengan musik country yang menjadi awal karirnya, Taylor Swift seakan berdoa dengan botol obat-obatan orange untuk sang ibu. Lagu ini berkolaborasi dengan Dixie Chicks dan merupakan salah satu ballad terbaik di seluruh discography dari TS.

“London Boy” juga menceritakan kisah cinta dari Taylor Swift. Seperti judulnya, tema Inggris yang diangkat sayangnya hanya dikaitkan dengan lirik di lagu ini (“I saw the dimples first and then I heard the accent”).

Dari 18 track di album ini, setidaknya hanya ada 5 yang bisa dikategorikan “mengecewakan” atau “biasa” saja. Selanjutnya merupakan sebuah pengalaman emosional dengan pendekatan spiritual tersendiri. Membaca lirik demi lirik di tiap track seakan mengintip langsung ke dalam buku harian yang ditulis secara jujur oleh Taylor.

Sedikit perubahan secara musikalitas di “Lover” mungkin karena tak adanya Max Martin dan Shellback, yang sebelumnya menggarap album sang diva sejak “Red” era. Walau di bagian credit album masih ada Jack Antonoff yang memproduksi 11 dari 18 track di “Lover.” Taylor Swift sendiri tentunya memiliki porsi kredit terbesar sebagai co-producer, dan penulis untuk nyaris semua track di album ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect