Connect with us
School Tales: The Series
Cr. Jukrin Kongdon/Netflix

TV

School Tales: The Series Review

Wahana horor berlatar di kehidupan sekolah materi horor generik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“School Tales: The Series” merupakan Netflix Original terbaru asal Thailand yang diadaptasi dari komik horor Webtoon populer. Terdiri dari 8 episode, serial bernuansa teen scream ini merupakan sajian anthology dengan beragam cerita horor berbeda.

Setiap sekolah selalu memiliki misteri dan rahasia gelap yang terpendam. Mulai dari kutukan yang terbentuk karena dendam, hantu yang bersemayam di sudut-sudut sekolah, hingga legenda urban yang masih tidak jelas kebenarannya. Apa kalian punya keberanian untuk mengungkap kisah-kisah tersebut?

Belakang ada cukup banyak film maupun serial horor Thailand layak tonton yang masuk di Netflix. ‘School Tales’ cukup mengingatkan kita kembali pada serial horor berlatar di sekolah Thailand, “Girl from Nowhere”. Selain sama-sama berlatar di sekolah, persentase konten kekerasan dan gore yang sajikan juga tak kalah brutal.

Drama anthology horor ini juga menggunakan formula sebab-akibat, konsekuen dan karma pada setiap cerita di setiap episodenya. Berikut ulasan lengkap “School Tales: The Series”.

School Tales: The Series

Wahana Horor Berlatar Kehidupan Sekolah dengan Isu Perundungan dan Kedengkian

‘School Tales’ memang menyajikan 8 episode dengan cerita-cerita berbeda, namun plotnya sebetulnya sama semua. Kalau tidak konflik yang terbentuk karena skandal perundungan, ya tentang remaja yang ingin melakukan balas dendam karena iri atau konflik remaja pada umumnya. Mulai tentang saingan siapa yang paling cantik, konflik berebut teman sekelas yang ditaksir, hingga balas dendam karena merasa dirundung.

Selalu ada kutukan atau ‘hantu’ yang menjadi media aksi. Selalu diawali dengan protagonis yang terpojok, kemudian menemukan medium untuk mempermudah langkahnya, namun pada akhirnya juga ada konsekuensi atau karma yang harus dihadapi.

Karakter-karakter yang menjadi bagian dalam cerita juga terlihat generik dan tidak spesial. Semuanya sama-sama remaja yang masih didorong hasrat pribadi, ceroboh, dan impulsif. Binge ‘School Tales’ akan terasa seperti masuk ke wahana horor berlatar di sekolah. Dimana setiap kelas akan menghadirkan kisah, kutukan, dan hantu yang berbeda-beda. Arahan visual dan musiknya juga sangat generik, bukan sesuatu yang baru lagi untuk diantisipasi.

School Tales: The Series

Legenda Urban Remaja dengan Produksi Horor yang Sudah Basi

Memiliki naskah ala teen scream dengan legenda urban yang populer di era 2000-an, ‘School Tales’ dalam segi cerita bisa dikategorikan sebagai materi horor yang sudah basi. Apalagi remaja zaman sekarang sepertinya sudah tidak terlalu percaya dengan hal-hal mistis yang terlalu konservatif.

Meski naskah horor memang sangat kental dengan elemen fiksi dan fantasi, cerita horor yang berhasil adalah cerita yang mampu membuat penontonnya percaya. Atau paling tidak masih mempertimbangkan kebenaran dari kengerian yang baru saja mereka tonton. Standar horor yang mampu menyakikan penonton dewasa ini semakin tinggi, namun ‘School Tales’ sama sekali tidak memiliki effort untuk mendaur ulang materi adaptasi yang sudah ada agar lebih relevan di era modern.

Desain penampakan hantu dan visua gore yang disajikan juga sudah terlihat ketinggalan jaman. Meski patut diakui ada beberapa adegan gore yang bikin ngilu penonton yang sensitif dengan materi visual yang brutal.

Cukup Seru Buat Penggemar Wahana Jumpscare dan Horor Sadis

Bagi penggemar webtoon seperti “Gloomy Sunday”, atau podcast-podcast horor pendek yang cheesy, mungkin tetap bisa menikmati “School Tales: The Series” sebagai kudapan horor yang ringan. Setiap episode hanya berdurasi kurang lebih 50 menit. Terkadang nonton anthology horor dengan cerita karma-karma merupakan niche yang memiliki penggemar setia.

Bagi penonton yang benar-benar mudah ketakutan karena jumpscare dan menikmati sensasi tersebut, serial ini bisa menjadi wahana horor yang cukup seru. Ada banyak adegan gore yang cukup sadis juga dalam setiap episode. Jadi jangan ditonton saat sedang makan bagi penonton yang perutnya lemah.

Secara keseluruhan, “School Tales: The Series” bukan serial anthology horror terbaik yang baru rilis. Kalau tidak suka dengan horor yang hanya mengandalkan jumpscare dan plot legenda urban generik, bisa di-skip saja. Namun, buat penggemar horor niche ini, mungkin bisa jadi tonton horor seru sambil teriak-teriak sendiri atau bersama teman-teman.

House of the Dragon (Episode 6) House of the Dragon (Episode 6)

House of the Dragon (Episode 6) Review: The Princess and the Queen

TV

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

House of the Dragon (Episode 5) Review House of the Dragon (Episode 5) Review

House of the Dragon (Episode 5) Review: We Light the Way

TV

Do Revenge Do Revenge

Do Revenge Review: Balas Dendam Remaja Ala Mean Girls Versi GenZ

Film

Connect