Connect with us
Romance Doll Review
Romance Doll

Film

Romance Doll Review: Kisah Pembuat ‘Love Doll’ dan Pernikahan yang Impulsif

Drama romantis Jepang yang tenang dengan sentuhan menarik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Romance Doll merupakan film drama romantis Jepang yang ditulis dan disutradarai oleh Yuki Tanada. Dikisahkan seorang pria bernama Tetsuo merupakan lulusan jurusan seni mematung.

Dalam kondisi membutuhkan pekerjaan dan uang, Tetsuo pun menerima tawaran untuk bekerja di sebuah workshop pembuat boneka seks atau ‘love doll’. Hingga suatu hari ini bertemu wanita bernama Sonoko. Secara impulsif Ia menyatakan cinta dan menjalin hubungan hingga menikah. Namun, apakah pernikahan mereka akan berlangsung dengan baik dengan rahasia yang disimpan oleh kedua belah pihak?

Dibintangi oleh Yu Aoi dan Issei Takahashi, Romance Doll memiliki premis yang menarik dan belum dieksplorasi sebelumnya. Beberapa dari kita mungkin telah menonton Air Doll (2009) dan Lars and the Real Girl (2007) yang lebih mengangkat isu kesepian dan kesehatan mental dari pemilik boneka seks. Romance Doll akan mengajak kita melihat bagaimana kehidupan seorang pembuat boneka seks yang mungkin berbeda dengan persepsi kita selama ini.

Profesi Tetsuo Sebagai Pembuat Boneka dan Pernikahannya yang Impulsif

Kita akan melihat kisah ini dari sudut pandangan Tetsuo; tentang dunia kerjanya yang baru dan hubungannya bersama Sonoko. Pada bagian awal film, kita akan lebih banyak melihat hari-hari pertama Tetsuo bekerja sebagai pembuatan boneka seks yang disebut dengan ‘love doll’. Mulai dari bagaimana mereka memilih material, menentukan cara pembuatan, dan membuat boneka terbaik yang mendekati dengan wujud manusia.

Membaca premis dari film ini, kita mungkin akan berpikir adanya banyak konten seronok dan vulgar, namun Romance Doll bisa dibilang sangat jauh dari konten tersebut. Beberapa adegan intim untuk mendukung kisah pun dihadirkan secara implisit.

Romance Doll Review

Romance Doll Review

Menariknya, kita bisa melihat pekerja dari workshop ini murni memikirkan selera konsumen dan motivasi pemasaran. Bahwa apapun produknya, semua orang yang bekerja dalam sebuah bisnis hanya memikirkan bagaimana mereka bisa mendapat profit dan mempertahankan bisnis di tengah-tengah persaingan.

Setelah Sonoko mulai masuk dalam kisah, kita akan mulai melihat kehidupan percintaan Tetsuo sembari menyimpan rahasia tentang pekerjaannya tersebut. Hingga akhirnya kita melihat bagaimana kehidupan pernikahan Tetsuo dan Sonoko yang impulsif sejak awal. Mereka berdua seperti sedang “bermain rumah-rumahan” hingga akhirnya kehilangan visi dalam pernikahan mereka.

Kualitas Akting Yu Aoi dan Issei Takahashi yang Unggul

Salah satu poin menonjol lainnya dalam Romance Doll adalah penampilan akting Yui Aoi dan Issei Takahashi. Kedua peran yang mereka mainkan merupakan statement dari kisah Romance Doll. Sangat wajar jika kita tidak merasakan chemistry mendalam di antara keduanya pada permulaan kisah.

Akan terasa ada tembok dan batasan kasat mata selama kita melihat keduanya berinteraksi sebagai suami istri. Namun disitulah kesuksesan penampilan akting yang dibawakan oleh kedua aktor muda ini.

Setelah keduanya mulai terbuka satu sama lain, kita akan melihat babak baru dari chemistry Tetsuo dan Sonoko yang bikin baper. Keduanya berhasil mewujudkan kisah dua insan yang manis dan hangat, lepas dari beberapa sentuhan kisah eksentrik yang terkandung di dalamnya.

Eksplorasi Pernikahan Tetsuo dan Sonoko yang Menginspirasi

Semakin berkembangnya alur cerita, kita akan lebih banyak melihat perkembangan hubungan Tetsuo dan Sonoko yang mengalami pasang surut. Sementara kisah tentang pekerjaan Tetsuo sebagai pembuat boneka seks merupakan plot pendukung yang melengkapi konflik hingga esensi dari hubungannya dengan sang istri.

Mungkin pada awalnya kita akan merasakan ada plot yang tidak masuk akal dalam hubungan dan chemistry dari pasangan ini, namun memang itulah konsepnya. Hubungan keduanya diawali dengan terburu-buru hanya karena ketertarikan fisik atau sekedar terbawah suasana.

Kita juga akan memasuki babak dimana keduanya mulai mengalami perkembangan dalam hubungan. Dengan pesan tentang pernikahan yang esensial; bahwa pernikahan membutuhkan rasa percaya dan keterbukaan satu sama lain. Setelah menikah, kita bukan sekedar dua orang yang tinggal dalam satu rumah dan memiliki kehidupan yang nyaman. Akan ada konflik dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi masing-masing yang harus didiskusikan bersama.

Transisi Pada Pertengahan Cerita yang Tanggung dan Tema yang Kontroversial

Salah satu kelemahan pada film ini adalah pertengahan plot yang tanggung. Dimulai dari Tetsuo mulai bekerja, kemudian bertemu dengan Sonoko, pada titik ini porsi hubungan Tetsuo dan Sonoko saat pacaran ditampilkan secara minim, bisa menimbulkan kebingungan dan persepsi penonton yang mengganjal. Seperti ada lompatan plot yang dilewatkan karena durasi.

Isu yang dihadirkan sebagai bekal mengakhiri film ini juga merupakan salah satu materi yang sudah sering dimasukan dalam film romantis Jepang. Terselamatkan dengan penulisan plot yang akan membuat kita berasumsi lain. Seakan-akan plot twist, namun sebetulnya bukan hal yang mengejutkan setelah kita ketahui.

Romance Doll juga memiliki tantangan sebagai film jika ingin menuai rating tinggi atau ulasan positif mutlak. Penonton zaman sekarang semakin kritis (meski tidak memiliki kredibilitas dalam mengulas film) dan mudah tersinggung.

Naskah yang ditulis memiliki plot dan pesan yang jelas, produksinya pun cukup memuaskan dengan sinematografi Jepang yang khas. Namun, kisah ini mengandung konten dimana karakter-karakternya berpihak pada keberadaan boneka seks yang dianggap aneh dan menyinggung martabat wanita secara umum.

Romance Doll merupakan film romantis yang layak dimasukan dalam watchlist kita. Jangan langsung menghakimi film ini karena premisnya, Romance Doll memberi kita kesempatan untuk melihat lingkungan profesi yang jarang-jarang diangkat dalam film, serta memiliki banyak pesan tentang menjaga keutuhan dalam pernikahan. Romance Doll sudah bisa kita tonton di Netflix.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect