Film

Rise Review: Masa Kecil Antetokounmpo Bersaudara Sebelum Sukses di NBA

Biografi pebasket yang lebih fokus pada drama keluarga dan perjuangan imigran. 

“Rise” merupakan film biografi Antetokounmpo bersaudara, Giannis dan Thanasis yang kini merupakan atlet di NBA. Tipikal film drama inspiratif yang tayang di Disney+, film biopik ini lebih didominasi dengan naskah drama keluarga. Beberapa dari kita mungkin masih dibayangi oleh keseruan drama olahraga basket, “Hustle” yang sempat trending di Netflix.

Jika memiliki ekspektasi untuk menonton film olahraga tersebut, “Rise” mungkin akan terasa membosankan. Karena film ini memang tentang masa kecil atlet basket, namun bukan film tentang dunia basket yang penuh dengan aksi dan sinematografi dinamis.

Kisah Antetokounmpo bersaudara lebih menggaris bawahi perjuangan keluarga mereka sebagai imigran yang ingin mendapatkan kesempatan hidup lebih baik. Kesempatan Giannis untuk mendapatkan posisi dalam draft NBA menjadi batu loncatan besar untuk keluarga mereka.

Perjuangan Keluarga Antetokounmpo sebagai Imigran dari Nigeria di Yunani

“Rise” dibuka dengan perjalanan Charles dan Veronica sebagai imigran ilegal, orangtua Giannis dan adik-adiknya. Mereka meninggalkan Nigeria dengan harapan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya kelak di Yunani. Giannis, Thanasis, berserta adik-adiknya lahir di Yunani dan tumbuh besar tanpa residential permit Yunani selama bertahun-tahun.

Hampir selama setengah durasi film, kita akan lebih mengikuti perjuangan Charles untuk mendapatkan ijin tinggal sebagai imigran yang legal. Namun ada banyak kompleksitas dari pemerintah lokal yang sangat menyudutkan posisi mereka.

Plot yang kronologis lebih menonjolkan perjalanan keluarga Antetokounmpo untuk menaikan status mereka di negeri orang. Mulai dari mengusahakan kelengkapan dokumen, mencari pekerjaan yang lebih layak, hingga bergabung dengan camp basket karena gratis. Giannis dan Thanasis juga membantu orang tua berdagang asongan saat masih kecil.

Pada akhirnya, pesan yang lebih ingin disampaikan melalui “Rise” adalah pentingnya kesempatan dan dukungan legal untuk remaja-remaja imigran yang berbakat. Karena bakat tanpa kesempatan sama saja nol.

Minim Aksi Basket yang Dinamis dan Perkembangan Karakter sebagai Pebasket

Meskipun kisah drama keluarga Antetokounmpo sangat menyentuh dalam “Rise”, film ini sangat minim elemen basketnya. Giannis dan Thanasis diperlakukan sebagai karakter dengan bakat instan. Seakan secara ajaib memiliki bakat yang mampu menarik perhatian NBA. Bagi yang familiar dengan persaingan ketat dalam drafting atlet muda di NBA, pasti memahami betapa sulit dan kecilnya peluang untung atlet muda. Apalagi Giannis tidak belum memiliki jam terbang tinggi sebagai prodigy.

Penulis naskah tak seharusnya hanya mengandalkan kenyataan bahwa Giannis dan saudara-saudaranya kini telah sukses sebagai atlet NBA. Perkembangan karakter Giannis sebagai prodogy juga harus dimasukan dalam film. Tak hanya mengandalkan latar belakang keluarganya yang penuh perjuangan karena hal tersebut terlalu klise.

Pada akhinya, “Rise” memiliki pesan yang kuat tentang perjuangan keluarga imigran untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bagaimana banyak atlet NBA menjadi pintu untuk kesempatan dan kesejahteraan keluarga yang berjuang seperti Antetokounmpo. Dengan segementasi yang leih umum sebagai film drama, “Rise” mungkin tidak akan memuaskan ekspektasi penggemar olahraga basket secara khusus.

Bernadetta Yucki

Writer, hardcore movie enthusiast who believes in pop culture.

Share
Published by
Bernadetta Yucki