TV

Resident Evil Review: Zombie Outbreak dan Drama Remaja Moody

Produksi maksimal tidak diimbangi penokohan dan cerita yang berkualitas. 

“Resident Evil” (2022) merupakan Netflix Original Series terbaru adaptasi dari franchise survival zoombie game terpopuler. RE (Resident Evil) selalu memiliki protagonis sebagai fokus utama pada setiap series-nya.

Kali ini kita akan mengikuti petualangan Jade Wesker, Ia anak dari Albert Wesker, ilmuwan yang bekerja untuk Umbrella Corporation. Ia mengajak Jade dan satu lagi putrinya, Billie Wesker untuk pindah ke New Racoon City.

Serial ini memiliki dua plot flashback yang menjadi format setiap episode. Kita akan diajak maju mundur ke tahun 2022, dimana Jade dan Bilie masih remaja, dan masa depan dimana Jade melakukan petualangan sendiri di tengah zombie outbreak yang (lagi-lagi) disebabkan oleh ambisi Umbrella Corporation mengembangkan T-Virus.

Bagi kita yang tidak mengikuti game RE maupun film-film adaptasi sebelumnya dari game ini, sepertinya akan nyambung saja jika mulai menonton serial terbaru ini. Karena banyak karakter baru, latar waktu baru, dan konflik baru. Namun, apakah “Resident Evil” Netflix kali ini mampu memberikan asupan serial survival action bertema zombie yang seru?

Resident Evil

Plot Maju Mundur dengan Transisi yang Kurang Tepat

Sepanjang episode serial RE Netflix ini, kita akan disuguhi format alur maju mundur yang sangat repetitif. Pada titik dimana kita akan merasa bosan dan tidak terlalu peduli apa signifikansinya serial ini harus memiliki presentasi demikian.

Tak hanya repetitif, transisi antara masa depan dengan masa lalu juga kurang mulus. Seperti alas maju mundur saja. Ada kalanya kita sedang seru-serunya menyimak investigasi Jade dan Billie, tiba-tiba dipotong menuju masa depan yang tidak ada kaitannya dengan topik utama dari adegan sebelumnya.

Kalau mau dibandingkan latar waktu mana yang lebih seru diikuti, justru masa remaja Jade dan Billie masih memiliki elemen cerita yang menarik. Buat yang memiliki ekspektasi tinggi akan serial aksi bertema zombie dengan sekuen survival yang seru, “Resident Evil” terbaru ini akan cukup mengecewakan ekspektasimu. Namun, kalau lebih menyukai investigasi teori konspirasi, serial memiliki materi yang cukup menarik.

Resident Evil Netflix

Produksi Serial Laga Maksimal yang Tidak Diimbangi dengan Cerita Berkualitas

Hal yang sangat disayangkan dari serial RE adalah produksi laga maksimal yang mubazir. Seperti yang disebutkan sebelumnya, elemen survival zombie dalam project ini tidak akan memenuhi ekspektasi jika kalian berpatokan pada game-nya, film adaptasi lama, atau serial bergenre zombie pada umumnya. Padahal kita bisa melihat budget yang besar melalui desain latar dan eksekusi CGI-nya.

Serial ini juga melibatkan figuran yang banyak, membuat semesta RE terlihat lebih immersive. Desain New Racoon City yang modern dengan nuansa dystopia-nya memiliki konsep yang maksimal. Begitu pula berbagai adegan masa depan yang memperlihatkan helikopter, basecamp di atas kapal, dan masih banyak lagi produksi latar yang maksimal.

Namun, semuanya terlihat sia-sia karena kualitas cerita dan dialognya yang jauh dari predikat pantas. Terlalu banyak gimmick yang diselipkan pada setiap karakter. Mulai dari representasi ras, LGBTQ, gaya hidup sebagai vegan dan anti percobaan pada binatang, hingga problematika remaja yang moody. Sebagai dua karakter remaja utama, Jade dan Billie memiliki dialog dengan referensi masa kini yang tidak pantas untuk diadaptasi dalam serial komersial. Keduanya juga tidak memiliki penokohan yang cerdas, lebih banyak moody-nya dan sibuk bertengkar sendiri.

Penonton mungkin tidak akan memiliki ekspektasi akan karakter remaja yang masih labil dan mencari jati dalam serial bertema zombie dengan label RE. Hubungan Jade dan Billie bersaudari pun tidak akan membuat kita merasa sentimental.

Protagonis Paling Buruk dalam Franchise Resident Evil

Franchise “Resident Evil” terkenal dengan deretan protagonis yang selalu menjadi jagoan penggemar game ini. Mulai dari Chris dan Claire Redfield yang juga bersaudara, Leon Scott Kennedy, Jill Valentine yang ikonik, hingga Ethan Winters yang misterius. Bagi penggemar RE, setelah melihat penampilan Jade Wesker dalam serial terbaru ini, mungkin akan lebih mengapresiasi penampilan Milla Jovovich dalam film adaptasi RE pada era 2000an.

Jade Wesker dalam “Resident Evil” memiliki penokohan yang sukses membuat penonton jengkel dari episode pertama. Baik Jade versi remaja maupun Jade dewasa sama-sama tidak akan menjadi jagoan penonton dalam semesta RE terbaru ini. Jade versi remaja yang diperankan oleh Tamara Smart adalah sosok pemberontak, keras kepala, dan dibekali dengan dialog yang dangkal. Sementara Jade dewasa yang diperankan oleh Ella Balinska susah bikin penonton jatuh hati karena berbagai keputusan cerobohnya.

Tidak jelas pula sebetulnya Jade ini protagonis jenis petarung atau ilmuwan? Mungkin cocok menjadi petarung, namun ketika masuk babak dimana Ia tampil sebagai ilmuwan, Ia sama sekali tidak memiliki kecerdasan yang mendukung perannya. Penulis mungkin ingin membuat Jade sebagai pemeran utama wanita yang kuat sekaligus pandai. Namun bisa kita lihat, usah tersebut gagal.

Secara keseluruhan, “Resident Evil” adaptasi versi Netflix ini tidak bisa dikategorikan sebagai serial survival zombie yang memuaskan. Zombie dalam serial ini juga hanya menjadi objek, tidak terlalu dieksplorasi dalam cerita utama. Tak hanya Umbrella Corporation yang gagal lagi dalam mengantisipasi zombie outbreak, serial terbaru ini juga gagal memenuhi ekspektasi penggemar RE maupun penikmat serial survival bertema zombie pada umumnya.

Bernadetta Yucki

Writer, hardcore movie enthusiast who believes in pop culture.

Share
Published by
Bernadetta Yucki