Connect with us
Red Velvet: Chill Kill

Music

Red Velvet: Chill Kill Album Review

Menari bersama Red Velvet dalam alunan mimpi buruk yang dramatis, untuk bangun menyongsong harapan baru.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Red Velvet tak diragukan sebagai salah satu girlband top tier di skena musik K-pop. Namun industri hiburan ini memiliki arus berubahan dan regenerasi yang cukup cepat dari masa ke masa.

Kini kita sedang berada di era generasi ke-5, menjadi prestasi bagi Red Velvet dari generasi ke-3 menjadi salah satu yang masih rajin merilis kampanye terbaru untuk musik-musik mereka. Sayangnya, apa rilisan terakhir dari girlband ini yang meninggalkan kesan di media utama? Masa depan Irene, Joy, Yeri, Wendy, dan Seulgi juga dipertanyakan di SM Entertainment dengan waktu perpanjangan kontrak. “Chill Kill” menjadi rilisan yang diantisipasi lebih dari sekadar musiknya, namun menjadi jawaban dari kegelisahan para ReVeluv (nama penggemar Red Velvet).

“Chill Kill” menjadi studio album ketiga Red Velvet dengan single berjudul serupa. Mulai dari cover art, video klip, dan art concept ini menjadi rilisan ‘Velvet’ dari unit ini. Selama 9 tahun berkarya, Red Velvet dikenal dengan kemampuan mereka juggling antara konsep yang centil dan ceria dengan gelap dan klasik.

Konsep awal yang tak lekang oleh waktu keunikannya untuk menjaga kontinuitas citra para membernya. “Chill Kill” sekilas terlihat seperti rilisan dengan tema yang gelap dan dewasa, namun kita masih akan mendengar semburat teatrikal ala negeri dongeng yang kerap disematkan dalam diskrogafi Red Velvet.

‘Chill Kill’ sebagai single utama sayangnya bukan pilihan terbaik sebagai starter untuk album ini. Ini pendekatan klasik dari Red Velvet yang berusaha mengaplikasikan berbagai layer dan shifting dalam lagu seperti ‘Ice Cream Cake’ atau ‘Zimzalabim’, namun lebih classy, elegant, dan toned-down. Ini menjadi lagu yang mempresentasikan ‘tragedi dan harapan’.

Itu mengapa track diawali dengan melodi dari synth dan hantaman bass yang gelap, namun mengalami transisi yang ceria menuju chorus dengan arahan vokal yang tiba-tiba lebih riang. Kita bisa menangkap apa yang dimaksud dengan ‘tragedi dan harapan’ dengan shifting yang kontras ini, namun pada akhirnya ini tetap menjadi track terlemah dalam album.

Padahal ada lebih banyak single yang terdengar lebih memikat, catchy, dan mengaplikasikan komposisi shifting yang lebih mulus. ‘Nightmare’ bisa jadi track dengan arahan komposisi yang serupa dengan ‘Chill Kill’, namun eksekusinya lebih berhasil. Secara keseluruhan juga menjadi salah satu track terbaik dalam “Chill Kill”. Track ini dibuka dengan instrumen string orkestral, berpadu dengan elemen R&B dengan mid-tempo. Showcase vokal dalam track ini juga terasa lebih memukau, seharusnya bisa menjadi single yang akan lebih memikat pada masa promosi album ini.

Masih banyak lagi track terbaik dalam album ini seperti ‘Knock Knock (Who’s There?’, ‘One Kiss’, ‘Bulldozer’, tiga track yang paling mendekati standar K-Pop hits dengan konsep badass dan edgy populer. Ini akan menjadi lagu yang sangat menarik untuk kita lihat para member Red Velvet tampilkan dengan koreografi tarian.

‘Knock Knock (Who’s There?)’ terangkai dari melodi lonceng yang misterius, bass line yang dalam dan mantap, dan selipan instrumen string yang membuat track terdengar lebih megah, terutama pada bagian chorus-nya yang catchy. Bicara tentang track ter-catchy, ‘Bulldozer’ bisa jadi yang paling catchy dalam “Chill Kill” dengan hook-nya ‘I’m your poet, I’m your pain’ yang terdengar seperti mantra.

Jika bisa memilih satu lagi track terbaik dalam “Chill Kill”, ‘Will I Ever See You Again?’ patut dinobatkan menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Ini akan menjadi tipikal lagu K-Pop underrated yang sayang sekali tidak lebih diangkat ke panggung mainstream. “Will I Ever See You Again?’ menjadi track dengan pesona melodi vintage pop yang memikat, dengan sentuhan funky melalui piano, drum beat minimalis dan gitar elektrik-nya. Hal terbaik dari komposisi ini adalah chorus-nya yang diakselerasi dengan synth piano yang membuat track ini “bercahaya”.

“Chill Kil” memiliki pengaturan tracklist yang membuat album terdengar kohesif. Mulai dari pembuka yang mid-tempo, babak pertengahan yang catchy, kemudian membawa kita pada babak penutup yang lebih tenang dengan track-track R&B jazz seperti ‘Iced Coffee’, ‘Wings’, dan ‘Scenery’. Membuat “Chill Kill” memiliki vibes yang solid dengan misteri dan tema classy dark-nya, ada banyak aplikasi genre yang diperdengarkan dalam setiap track, namun tetap berkesinambungan.

Sembari mendengarkan “Chill Kill”, kita seperti diajak menari dalam mimpi buruk yang gelap dan dramatis bersama Red Velvet, dengan harapan terbangun untuk menyambut hari baru sebagai pribadi yang lebih kuat, masih memiliki optimisme dalam menlanjutkan hidup.

MTV Unplugged in New York - Nirvana MTV Unplugged in New York - Nirvana

10 Album Musik Ikonik 30 Tahun di 2024

Cultura Lists

Hozier - Unreal Unearth Hozier - Unreal Unearth

Cultura Best 2023: Album Musik Terbaik

Cultura Best

Caroline Polachek: Desire, I Want to Turn Into You Caroline Polachek: Desire, I Want to Turn Into You

Caroline Polachek: Desire, I Want to Turn Into You Album Review

Music

Paramore: This is Why Album Paramore: This is Why Album

Paramore: This is Why Album Review

Music

Connect