Connect with us
Persuasion
Netflix

Film

Persuasion Review: Kebanyakan Teori Cinta Tanpa Tindakan

Berusaha tampil menyenangkan, namun tetap membosankan. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Persuasion” (2022) merupakan Netflix Original terbaru bertema period romance. Dibintangi oleh Dakota Johnson, Cosmo Jarvis, dan henry Golding. Sama seperti drama period ikonik, “Pride & Prejudice” (2005), film period satu ini juga adaptasi dari novel klasik Jane Austen, yang terbit pada 1817. Diarahakan oleh sutradara perempuan, Carrie Cracknell.

Dalam “Persuasion” kita akan mengikuti narasi yang dibawakan oleh Dakota Johnson sebagai Anne Elliot. Delapan tahun yang lalu, Ia hampir saja menikah dengan pujaan hatinya, Frederick (Cosmo Jarvis). Namun, karena kekasihnya tersebut miskin dan tidak memiliki jabatan apapun, Anne dibujuk oleh keluarganya untuk melepaskan Frederick. Waktu akan menyembuhkan patah hati, namun tidak bagi Anne. Hingga akhirnya Frederick kembali ke kehidupannya, kini sudah sukses sebagai kapten kapal. Akankah Anne menyambut cinta lamanya yang selama ini tak pernah layu?

Persuasion

Perpaduan Tanggung Antara Bridgerton dengan Pride & Prejudice

Kehadiran “Bridgerton” sepertinya telah menciptakan standar baru akan berbagai proyek hiburan bertema drama period romance. Sebagai Original Netflix, “Persuasion” mempromosikan filmnya dengan trailer yang menghadirkan keseruan dengan narasi yang lebih bersahabat dan menyenangkan bagi penonton. Film ini sangat fokus dengan perspektif karakter utamanya, Anne Elliot. Model narasi yang disajikan cukup menarik, dimana Dakota Johnson berbicara pada penonton tentang perasaannya dan karakter-karakter yang Ia temui. Mirip dengan film petualangan period, “Enola Holmes” (2020).

Namun, “Persuasion” juga mempertahankan plot dan desain produksi yang sesuai dengan standar drama period konvensional seperti “Pride & Prejudice”. Dengan banyaknya referensi yang bisa kita lihat dari film-film period sebelumnya, “Persuasion” justru kehilangan jati dirinya sendiri. Film ini berusaha menjadi film drama percintaan yang menyenangkan, dengan segmentasi penonton modern maupun penggemar drama period yang murni klasik.

Pada akhirnya tidak ada esensi jelas dalam kisah Anne Elliot yang memikat bagi penonton. Penulis naskah tampak lebih sibuk dengan presentasi narasi dan gaya yang unik untuk menyampaikan cerita, namun lupa mengembangkan cerita secara maksimal.

Kebanyakan Teori dan Narasi, Anne dan Frederick Tidak Tunjukan Cinta yang Meyakinkan

Sederhananya, “Persuasion” ingin mengangkat kisah cinta bersemi kembali antara Anne dan Frederick. Namun, cinta mereka kebanyakan teori dan narasi saja, tidak ada tindakan. Kita tidak akan dibuat percaya bahwa keduanya saling mencintai, seakan kita cuma dipaksa untuk percaya dengan cerita Anne saja. Narasi terlalu bias pada Anne, kita mungkin akan memahami seberapa besar cintanya pada Frederick, namun tidak sebaliknya. Karena sepanjang film, naskah terlihat memaksa untuk membuat Anne dan penonton percaya, bahwa Frederick sudah tidak cinta dengan protagonis kita.

Kita jadi bertanya-tanya; dimana plot cintanya? Tidak dibuat berbunga-bunga maupun merasakan patah hati yang tragis, kita hanya akan dibuat kesal. Interaksi kedua pemeran utama yang dinarasikan sebagai pasangan tidak jelas maunya kemana. Hingga pada babak terakhir dengan twist, kita sebagai penonton hanya bisa komplain; kenapa tidak dari awal saja begini? Ibarat melihat pasangan yang menyebalkan karena sama-sama main berasumsi saja. Tak hanya Anne dan Frederick saja yang bikin kesal, banyak karakter lain yang juga memiliki penokohan mengganggu. Tidak ada karakter yang loveable dalam film ini.

Panorama Inggris Masa Period dan Dakota Johnson yang Menawan

Sebagai drama period berlatar di Inggris, “Persuasion” memperlihatkan panorama yang indah. Bisa jadi hiburan mata yang menyegarkan buat kita yang sudah bosan dengan paparan CGI. Syuting “Persuasion” dilakukan di berbagai lokasi period khas Inggris, mulai dari residensi di Bath hingga panorama pantai yang indah di Lyme. Tatanan eksterior dan interior dalam setiap bangunan juga terlihat otentik, memenuhi standar drama period pada umumnya.

Tata rias dan desain kostum period yang elegan dalam “Persuasion” juga cukup memanjakan mata. Apalagi penampilan Dakota Johnson yang sudah terkenal charming dan menawan sebagai aktris Hollywood. Johnson selalu tampil dalam balutan gaun klasik yang elegan dan tidak berlebihan, sesuai dengan kepribadian sebagai wanita yang cerdas. Ketika mereka berbicara pada penonton, juga sudah memikat. Seperti yang telah disebutkan, film ini terlalu bias dengan protagonisnya.

Secara keseluruhan, “Persuasion” merupakan kisah cinta bersemi kembali yang keburu layu karena terlalu banyak teori. Cinta tak hanya perasaan dan pemahaman akan berbagai prinsip, namun juga tindakan. Cinta Anne Elliot boleh saja awet dan kuat, namun kurang menunjukan tindakan untuk membuat penonton percaya akan kisahnya dengan Frederick.

Triangle of Sadness Triangle of Sadness

Triangle of Sadness Review: Satir Tentang Kesetaraan Duniawi

Film

first blood 1982 first blood 1982

First Blood Review: Awal Perjuangan Rambo Menghadapi Trauma Perang 

Film

Slumberland Review Slumberland Review

Slumberland Review: Petualangan Nemo & Flip Lari dari Kenyataan

Film

The Holiday The Holiday

The Holiday Review: Tontonan Musim Liburan yang Ringan & Romantis

Film

Connect