Connect with us
Persepsi Review
Photo: Bioskop Online

Film

Persepsi Review: Terlalu Banyak Perspektif

Tampil dengan konsep first-person dan multi-perspective, tidak serta-merta membuat Persepsi memberikan kesan baik kala ditonton.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Film dengan genre thriller juga menjadi salah satu yang difavoritkan oleh penikmat sinema selain horror. Melalui ragam adegannya, film dengan genre tersebut hadir untuk memberikan ketegangan kala ditonton. Namun, tidak selamanya hal ini bisa diwujudkan, salah satunya pada film Persepsi asal Indonesia yang tayang secara eksklusif di Bioskop Online.

Persepsi merupakan film thriller yang disutradarai oleh Renaldo Samsara dan Matthew Hart. Berbekal berbagai aktor dan aktris ternama di Indonesia, film ini berkisah tentang sekelompok orang yang ditempatkan dalam satu rumah dan diminta untuk bertahan selama lima hari demi hadiah uang. Akan tetapi, semuanya menjadi berbeda karena ragam gangguan yang dialami oleh para kontestan ini.

Premis yang dibawa tersebut sebenarnya sangat generic, karena sudah banyak sekali film ber-genre serupa membawa hal seperti ini dan harusnya mampu memberikan pesona tersendiri kala dinikmati. Namun sayang, hal ini nampaknya tidak dieksekusi dengan baik dalam Persepsi.

Penonton seakan hanya diajak berjalan-jalan melihat setiap karakter di sana berinteraksi tanpa ada esensi berarti. Setelah itu, satu per satu mulai diganggu oleh semacam unseen force yang nantinya akan dijelaskan dalam setiap transisi harinya.

Pola tersebut akan diulang terus sepanjang 52 menit film berjalan. Meski sangat predictable, penceritaan yang diusung dalam Persepsi tersebut susah sekali untuk memberikan appeal dan lebih mudah untuk membuat penonton mengeluarkan berandai-andai mengenai apa esensi dari tontonan ini.

Belum lagi dengan penggunaan beberapa trope seperti plot twist yang disematkan pada Persepsi. Alih-alih membuat penonton tercengang, eksekusinya seakan jauh dari kata matang dan menjadikan segala cerita yang dibangun susah payah terasa pointless.

Tidak berhenti sampai di situ, Persepsi menggunakan teknik pengambilan gambar first-person yang seakan membuat penonton masuk ke dalam berbagai adegan di dalamnya. Jika film kebanyakan hanya memberikan satu perspektif, lain halnya film arahan Renaldo Samsara ini yang kerap bergonta-ganti perspektif antara satu karakter dengan yang lainnya.

Bukannya membuat film jadi memiliki cerita yang jelas, teknik first-person seperti ini justru menimbulkan kebingungan dari para penonton. Ditambah pula dengan transisi perspektif yang seakan dibuat asal, menjadikan Persepsi susah sekali untuk dinikmati.

Ada banyak sekali karakter yang dimunculkan dalam Persepsi. Walau setiap pemerannya mampu membawakan karakternya dengan cukup baik, sisi narrative-nya tidak mampu membuat penonton peduli pada masing-masing dari mereka. Bisa dibilang, penceritaannya membuat setiap karakter yang beragam ini terasa hollow dan seakan menyia-nyiakan talenta-talenta terbaik dalam perfilman Indonesia.

Persepsi mungkin ingin mendobrak standar film thriller Indonesia melalui konsepnya yang cukup revolusioner. Namun, dengan eksekusinya yang terasa acakadut, film arahan Renaldo Samsara ini belum mampu memberikan kesan yang semestinya didapatkan ketika menonton sajian menegangkan.

Click to comment

Memoir of A Murderer Review Memoir of A Murderer Review

Memoir of A Murderer Review

Film

Prey netflix review Prey netflix review

Prey Review: Pemburu Misterius yang Mengincar Para Pendaki

Film

Kate Netflix Kate Netflix

Kate Review: Film Action Gaya Hollywood dengan Estetika Jepang

Film

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Culture

Advertisement
Connect