Connect with us
Peppermint Candy

Film

Peppermint Candy: Potret Moralitas Manusia dan Negara dalam Narasi Alur Mundur

Cerita masa lalu dengan potret sejarah pilu Korea Selatan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Nama Lee Chang-dong mungkin tidak setenar Park Chan-wook ataupun Bong Joon-ho yang sama-sama menjadi pionir New Wave Korean Cinema. Film Lee Chang-dong memang cenderung bersifat obscure dan hanya bisa dinikmati beberapa kalangan saja. Terhitung filmnya memang masih sedikit, hanya enam film dari awal karir beliau di tahun 1997.

Nama Lee Chang-dong mencuat kembali setelah filmnya “Burning” (2018) menjadi kompetitor di Palme d’Or Cannes 2018. Film ini memiliki konsep alur yang hampir mirip dengan film “Memento” (2000) yang juga rilis di tahun yang bersamaan yaitu alur mundur.

Diawali dengan kisah tragis diikuti dengan pertanyaan moralitas

Film “Peppermint Candy” dibuka dengan adegan yang bisa diasumsikan bahwa tokoh utamanya, Kim Yong-ho bunuh diri menerjang kereta. Setelah itu cerita mundur ke belakang untuk menyelami kehidupan Yong-ho dari 3 hari sebelum tindakan bunuh dirinya hingga 20 tahun sebelumnya.

Setiap dimulai momen penting penceritaan Yong-ho biasanya dimulai dengan adegan kereta yang diperlihatkan berjalan mundur lengkap dengan informasi latar tahun penceritaan. Total terdapat tujuh sesi penceritaan yang membuat penonton akan semakin mempertanyakan moralitas karakter Yong-ho. Tak jarang penonton akan merasa muak dan tidak memiliki simpati terhadap karakter Yong-ho.

Pada akhirnya penonton merasa aksi Yong-ho di awal cerita merupakan kulminasi kejahatan dan dosanya. Di sinilah Lee Chang-dong sangat piawai dalam memainkan emosi penonton lewat garapan naskahnya, terutama pengembangan karakter Lee Chang-dong.

Alur mundur sebagai penguatan karakter

Tema film “Peppermint Candy” adalah waktu dan kenangan. Dibuka dengan adegan Yong-ho melakukan praktik bunuh diri dengan diterjang kereta seraya berteriak “I am going back” dari situlah terlihat film ini akan dibawa kemana arahnya, kembali ke belakang.

Waktu dan kenangan disuguhkan Chang-dong diawali dengan Teknik leitmotif rel kereta lengkap dengan musik mendayu dan jalan yang mundur. Hal ini seperti penegasan dari Chang-dong bahwa hidup seperti halnya kereta yang hanya berjalan lurus dan tidak bisa mundur. Segala keputusan yang kita ambil tidak bisa lagi kita ulang. Dengan diperlihatkan jalan kereta tersebut mundur untuk memberi tanda kepada penonton bahwa setelah ini akan diperlihatkan kehidupan Chang-dong sebelumnya.

Mundurnya alur selain menelusuri perjalanan hidup Yong-ho secara mundur, hal ini juga untuk penguatan karakter Yong-ho. Semakin mundur alur semakin penonton tahu bagaimana peringai Yong-ho sebenarnya. Sama seperti cerita detektif ketika akhirnya menginjak akhir cerita semua kepingan-kepingan tersebut akhirnya terajut menjadi satu cerita yang utuh.

Sol Kyung-gu mewujudkan karakter Yong-ho memang sangat menawan. Pendekatan Kyung-gu terhadap karakter Yong-ho secara psikologis dan fisik membuatnya harus bisa memberikan karakter pengusaha ramah, polisi yang brutal hingga akhirnya manusia yang begitu depresif hingga berteriak penuh kesakitan. Meski begitu Kyung-gu tetap mampu menampilkan misteri dalam karakter Yong-ho; tindakan-tindakan yang tidak terprediksi entah dalam hal kebaikan maupun kebengisannya.

Pengambilan gambar di film “Peppermint Candy” memang lebih mempertegas bahwa kita sedang mengamati dan mengintip keseharian Yong-ho. Kamera di “Peppermint Candy” lebih sering bersifat statis dan tidak menunjukkan angle yang rumit. Semua itu agar kita benar-benar fokus melihat apa yang dilakukan oleh Yong-ho ketika berinteraksi dengan lingkungannya.

Potret sejarah penting di Korea Selatan

Selain mirip dengan “Memento”, film “Peppermint Candy” juga memiliki kemiripan dengan film “Forrest Gump” (1994) karena sama-sama menampilkan kejadian bersejarah selaras dengan karakter filmnya. Yongho mewakili rakyat Korea Selatan, degradasi dan keputusasaannya mencerminkan perjuangan panjang negara itu untuk mencapai demokrasi.

Ketika Yong-ho mengikuti wajib militer di tahun 1980. Momen tersebut bertepatan dengan Pergerakan Demokrasi Gwangju yang berujung pada kejadian Pembantaian Gwangju yang menewaskan hampir 200 orang. Kejadian tersebut secara tidak langsung menjadi titik balik kepribadian Yong-ho berikutnya.

Masih di tahun 80an, Yong-ho berubah menjadi pribadi polisi yang brutal dan sadis dalam menginterogasi tersangka. Tahun 80an di dalam film “Peppermint Candy” seperti alegori kekejaman presiden di kala itu, Chun Doo-hwan. Hingga akhirnya Yong-ho keluar dari polisi dan menjadi pengusaha.

Film “Peppermint Candy” merupakan salah satu film untuk memahami pergerakan New Wave Korean Cinema. Lee Chang-dong secara tidak langsung menciptakan struktur narasi modern di dalam “Peppermint Candy”. Tidak hanya menampilkan alur mundur semata tapi juga didukung oleh apiknya performa Sol Kung-gyu dalam menciptakan karakter Yong-ho.

Triangle of Sadness Triangle of Sadness

Triangle of Sadness Review: Satir Tentang Kesetaraan Duniawi

Film

first blood 1982 first blood 1982

First Blood Review: Awal Perjuangan Rambo Menghadapi Trauma Perang 

Film

Slumberland Review Slumberland Review

Slumberland Review: Petualangan Nemo & Flip Lari dari Kenyataan

Film

The Holiday The Holiday

The Holiday Review: Tontonan Musim Liburan yang Ringan & Romantis

Film

Connect