Connect with us
Oxygen Review
Netflix

Film

Oxygen Review: Jika Buried Bergenre Science Fiction

Drama fiksi ilmiah yang kaya cerita meski hanya berlatar di satu tempat.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Seorang wanita sadar dalam situasi mencekam dan menggelisahkan, dimana Ia terjebak dalam sebuah ‘cryogenic’. Cryogenic adalah sebuah capsule serupa dengan peti, dioperasikan oleh artificial intelligence (AI). Tidak memiliki ingatan sama sekali tentang dirinya, wanita tersebut harus berpacu dengan waktu dan sisa oksigen dalam cryogenic yang semakin menipis.

“Oxygen” merupakan film drama sci-fi terbaru di Netflix, disutradarai oleh Alexandre Aja, yang sebelumnya menyutradarai “Crawl” (2019). Namun kali ini Ia mengerjakan film dalam bahasa Perancis, dibintangi oleh Melanie Laurent.

Berdasarkan premis dan trailernya, film ini akan langsung mengingatkan kita pada “Buried” (2010) yang dibintangi oleh Ryan Reynolds. Tak dipungkiri juga, banyak elemen dalam “Oxygen” yang serupa dengan film karya Rodrigo Cortes tersebut. Adakah materi baru yang hendak disajikan oleh Alexandre Aja melalui film sci-fi terbarunya? Berikut ulasan lengkap “Oxygen”.

Oxygen Review

Sabar dan Detail dalam Membangun Suasana Claustrophobic

Selama kurang lebih satu setengah jam, kita akan menyaksikan rollercoaster mental dari Liz, protagonis yang terjebak dalam sebuah cryogenic tanpa tahu bagaimana dirinya bisa ada disana. Siap-siap merasakan sensasi sesak napas dan claustrophobia melalui film ini.

“Oxygen” dengan lihai mengolah sinematografi, suara, dan nuansa untuk menghipnotis penontonnya masuk ke dalam cryogenic bersama Liz. Mulai dari adegan pertama kita akan dibuat sulit bernafas karena epilog yang sangat suspense.

Sutradara bersama sinematografer film ini juga sangat sabar merancang adegan pendukung yang detail. Ditunjukan proses sedikit demi sedikit untuk memberikan ketegangan dan rasa greget pada penontonnya. Salah satu contohnya adalah adegan dimana Liz berusaha membobol cryogenic secara paksa. Ada pula beberapa adegan yang cukup bikin ngilu dan “gore” tanpa harus memperlihatkan darah dan kesadisan secara eksplisit.

Meski berlatar dalam satu latar kecil dan sangat minimalis, “Oxygen” mampu mengeksplorasi teknik pengambilan gambar yang variatif. Setiap konsep sinematografi yang eksekusi juga bukan sekadar memberi variasi secara visual, namun mendukung perasaan dan emosi yang hendak disampaikan melalui setiap adegan. Dalam segi scoring, “Oxygen” tidak terlalu memberikan musik yang khas seperti halnya film sci-fi bagus lainnya. Namun hal tersebut tertutupi dengan aspek bagus lainnya dalam film ini.

Protagonis dengan Penokohan yang Kuat dan Penampilan Akting Maksimal

Sebagai film yang berfokus pada satu protagonis dalam latar yang sangat terbatas, “Oxygen” memiliki karakter utama dengan penokohan yang sangat kaya. Hal tersebut akhirnya juga mempengaruhi keseluruhan cerita dan plot yang padat materi dari film ini. Tanpa mengetahui latar belakangnya, kita tetap bisa melihat sosok wanita ini memiliki kepribadian dan karakter yang kuat; cerdas, pandai menganalisa situasi, dan keras kepala.

Liz menjadi karakter yang terasa nyata dimana penonton bisa berasumsi latar belakang sesungguhnya dan tidak terasa “kosong”. Kita bisa melihat bagaimana Liz menganalisa situasi, berpikir cepat, dan mencari solusi daripada menghabiskan waktu dengan kepanikan. Setiap percakapannya dengan AI bernama Milo dan tindakan yang Ia ambil membuat kita sedikit demi sedikit mengantongi sifat Liz untuk memahami karakter ini.

Melanie Laurent sebagai aktris utama juga memberikan performa akting terbaiknya. Ia tampil menyakinkan sebagai wanita yang cerdas dan bisa kita andalkan dalam kisah ini. Liz juga mengalami banyak naik turun suasana hati dan pikiran. Ada saatnya Ia berusaha untuk tenang, kemudian kembali menyalakan otaknya untuk berpikir, tak ketinggalan pula paranoia dan frustasi dalam kesempitan. Aktris Perancis ini mampu mengeksekusi setiap emosi dengan menyakinkan dan mengajak kita untuk merasakan kengerian yang Ia alami.

Film Drama Sci-Fi yang Kompleks namun Mudah Dimengerti

Kebanyakan film fiksi ilmiah menghadirkan skenario dan plot yang susah dimengerti dalam sekali tonton. Membuat kita harus mencerna cerita untuk beberapa saat atau mencari penjelasan di internet. Dengan segala kompleksitas dan latar belakang baru yang diciptakan, Alexandre Aja telah menemukan formula yang pas untuk membuat “Oxygen” mudah dipahami oleh penonton.

Tidak akan ada tanda tanya besar yang muncul setelah credit ditampilkan. Asalkan kita menyimak film dengan cermat dan fokus, dijamin “Oxygen” merupakan film yang tidak akan terlalu menguras otak.

Cerita yang dibangun memiliki banyak layer yang bisa kita kupas, dengan plot twist yang saling bertindihan namun seru untuk dikuak. Asumsi kita pada awal cerita akan terus berubah hingga akhirnya kita mendapat akhir cerita yang baru dan tidak terduga. Latar waktu masa depan yang dipakai juga telah dipresentasikan dengan baik, tidak ada kejanggalan maupun plot hole.

Pada akhirnya, “Oxygen” bisa menjadi tontonan bergenre sci-fi yang cukup santai untuk mengisi waktu luang. Dengan segala ketegangan dan kengerian yang disajikan, menghabiskan waktu bersama Liz yang terjebak dalam cryogenic akan menjadi pengalaman baru yang seru bagi kita pecinta film drama sci-fi.

Click to comment

A Boy Called Christmas Review A Boy Called Christmas Review

A Boy Called Christmas Review: Tentang Harapan dalam Kemalangan di Hari Natal

Film

The Forgotten Battle The Forgotten Battle

The Forgotten Battle Review: Film Perang Dunia II dengan Tiga Sudut Pandang

Film

Hellbound Review Hellbound Review

Hellbound Review: Terbentuknya Distopia dari Teror Neraka di Bumi

TV

The Whole Truth Review The Whole Truth Review

The Whole Truth Review: Kebenaran di Balik Lubang Dinding

Film

Advertisement
Connect