Connect with us
Our Ladies

Film

Our Ladies Review: Ketika Derry Girls Dipadukan dengan Euphoria

Mengukir kenangan masa muda dalam perjalanan ke Edinburgh pada 1996.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pada 1996, sekelompok remaja perempuan dari Skotlandia mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Edinburgh. Mereka menjadi bagian dari tim paduan suara sekolah Katolik khusus perempuan yang akan mengikuti kompetisi. Namun, daripada semangat untuk memenangkan kompetisi, Orla (Tallulah Greive), Finnoula (Abigail Lawrie), Kay (Eve Austin), Kylah (Marli Siu), Manda (Sally Messham) dan Chell (Rona Morison), tak sabar untuk berpesta, minum-minuman di bar, dan menggoda pria yang akan mereka temui. Mereka ingin mengukir pengalaman tak terlupakan selagi bisa, selagi berada di Edinburgh.

“Our Ladies” merupakan drama remaja dengan plot road trip seharian dimana setiap karakter mengalami momen yang berbeda-beda. Film yang disutradarai oleh Michael Caton-Jones ini sekilas akan mengingatkan kita pada “Derry Girls”. Terutama karena keenam karakter utama yang menggunakan seragam hijau khas “Derry Girls”, latar waktu, dan aksen tebal mereka yang cukup serupa. Namun serial dan film ini sama sekali tidak berkaitan, “Our Ladies” merupakan film adaptasi novel berjudul “The Sopranos” oleh Alan Warner.

Perpaduan Antara Derry Girls dan Euphoria

Dibandingkan dengan “Derry Girls” gang remaja dalam film ini akan terlihat lebih nakal dan berani. “Our Ladies” mengandung konten pergaulan bebas, adegan remaja merokok sambil minum-minuman keras, dan berbagai hal dewasa lainnya yang tidak wajar dilakukan oleh anak 18 tahun. Bahasa yang mereka gunakan juga penuh umpat dan kata-kata vulgar. Orla dan teman-teman juga bukan kelompok karakter utama yang memiliki kepribadian dengan kepribadian yang patut dicontoh.

Film remaja ini merupakan definisi sempurna ketika “Derry Girls” dipadukan dengan “Euphoria”. Hampir semua karakter memiliki latar belakang yang problematik, ditambah hasrat impulsif mereka sebagai remaja yang ingin segera melepas keperawanan sebelum terlambat. Film ini memiliki naskah yang mengglamourkan gaya hidup remaja pemberontak dari lingkungan yang konservatif. Meski disebutkan sebagai drama komedi, film ini tidak terlalu kental dengan skenario yang akan membuat penonton tertawa.

Namun ada banyak dialog sarkasme remaja dan adegan kenakalan yang lucu bagi pelakunya. Seperti ketika kita masih remaja kerap menertawakan kebodohan atau kenakalan yang kita lakukan.

Kenakalan Remaja Bukan Main yang Terlihat Otentik

Melihat kelakuan Orla dan kawan-kawan membuat kita mengelus dada. Buat yang familiar dengan serial remaja seperti “Euphoria” dan “Skins”, “Our Ladies” bisa dimasukan dalam kategori yang sama. Namun ada elemen penulisan tertentu yang khas dari film drama remaja Eropa (Inggris, Skotlandia, dan sekitarnya). Senakal dan sehebat apapun kenakalan yang mereka lakukan, skenario tetap terasa otentik bagi kita sekalipun yang tidak familiar dengan gaya hidup remaja barat secara langsung. Karena eksekusi naskah dan adegan film seperti “Our Ladies” tidak terlalu didramatisir.

Setiap karakter juga memiliki porsi penokohan yang tepat dan seimbang. Mereka bukan karakter dengan stereotip paten seperti pada drama-drama remaja Amerika. Kita akan selalu menemukan karakter baru dengan latar belakang yang baru. Meski tidak selalu mencolok atau menarik menurut media mainstream.

Contohnya saja Orla, gadis yang mengidap leukimia. Dalam drama Amerika gadis yang memiliki penyakit identik dengan penokohan yang kalem. Siapa yang menyangka gadis seperti Orla memiliki fantasi yang tidak biasa dan cabul? Namun dengan selera yang tidak sekalipun, Orla tetap terlihat otentik dalam “Our Ladies”. Karena seaneh apapun preferensi dan tingkah laku dari karakter-karakter remaja ini, lingkungan yang menjadi latar cerita tetap memberi batasan dan konsekuensi yang masuk akal.

Bukan Kisah yang Inspiratif Namun Bermakna untuk Dikenang

Dalam plot yang hanya berdurasi petualangan seharian, kita bisa melihat bahwa geng “Our Ladies” jelas tidak menunjukan kualitas yang patut ditiru. Bukan kisah yang inspiratif, namun tetap menimbulkan kenangan sentimental. Bagi karakter dalam film maupun kita sebagai penonton.

Film ini memang tidak pernah memiliki maksud untuk menginspirasi, drama ini merupakan naskah yang ditujukan untuk mengenang  momen masa remaja yang penuh dengan pengalaman pertama kalinya, kesalahan konyol, hingga kisah penemuan jati diri. Tak ketinggalan kisah persahabatan yang seru sekaligus menyentuh hati.

Ada plot yang cukup menyedihkan pada akhir kisah enam sekawan ini. Itu pun tidak terlalu didramatisir, hanya berlalu seperti pengalaman pribadi yang terasa relevan dengan kehidupan nyata. Tak berbeda dengan kisah ‘biasa’ kita yang juga pernah remaja.

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Happiest Season Happiest Season

Rekomendasi Film Chick Flick 2020an

Cultura Lists

Kilas Balik Trilogi Baru Star Wars: Kehancuran Sebuah Franchise

Entertainment

My Missing Valentine My Missing Valentine

My Missing Valentine: Menyusuri Ingatan Satu Hari yang Hilang

Film

Connect