Connect with us
Euphoria Review
HBO

TV

Euphoria Review: Melodrama Remaja Dengan Isu Relevan untuk Generasi Z

Kemungkinan terburuk yang bisa dihadapi oleh setiap remaja masa kini.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Jika generasi milenial punya Skins (2007), Euphoria menjadi serial melodrama remaja yang lebih relevan untuk remaja generasi Z. Mengudara pada Juni 2019 lalu, Euphoria merupakan serial drama remaja yang diadaptasi dari serial Israel dengan judul serupa. Dengan karakter utama seorang remaja perempuan bernama Rue Bennett yang baru saja keluar dari panti rehabilitasi dan masih berjuang terlepas dari jerat narkoba. Rue diperankan oleh aktris Zendaya yang baru saja memenangkan penghargaan aktris terbaik dalam ajang Emmy Awards 2020.

Sama seperti serial Skins, Euphoria memiliki sederet karakter remaja SMA dengan problematikanya masing-masing. Tak hanya Rue, ada Jules yang merupakan perempuan transgender, Kat yang melakukan eksplorasi seksual, Cassie yang terekspos melalui sosial media, dan masih ada beberapa karakter lainnya. Pergi ke sekolah yang sama membuat setiap karakter mempengaruhi kisah satu sama lain.

Sederet Karakter dengan Latar Belakang dan Dilema Beragam

Kita akan berkenalan dengan setiap karakter melalui prolog pada setiap episode Euphoria. Mulai dari mereka masih anak, hingga bertransformasi menjadi remaja, bagaimana masa kecil mereka mempengaruhi perkembangan karakter masing-masing. Kisah tersebut dibawakan dengan penulisan naskah yang singkat, padat, dan jelas.

Euphoria mengungkap sisi gelap, kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada setiap remaja masa kini. Dimana tumbuh kembang remaja dipengaruhi oleh pola didik orang tua, pertemanan, ditambah dengan pengaruhi sosial media dan kebebasan mencari informasi di internet. Bagaimana remaja lihai dan cerdik mengelabui orang tua mereka. Sebuah potret bagaimana orang tua jaman sekarang bisa saja sama sekali tak tahu dan peka dengan apa yang anak remaja lakukan di dunia maya atau di luar rumah.

Euphoria Review

HBO

Setiap karakter memiliki penokohan yang mempresentasikan setiap ragam kepribadian remaja Amerika masa kini. Namun, hanya beberapa karakter yang memiliki penokohan tepat sebagai representasi dengan isu yang perlu diberi perhatian. Jules Vaugh yang diperankan oleh Hunter Schafer, merupakan karakter dengan penokohan yang sangat kuat, bahkan lebih menarik perhatian dari Rue yang merupakan pemeran utama. Remaja transgender masih belum banyak direpresentasikan dalam budaya pop. Jules muncul sebagai karakter yang memancarkan pesona sekaligus kerapuhan yang dialami remaja transgender perempuan. Cassie juga bisa dikategorikan sebagai potret remaja masa kini yang riskan. Penyebaran video atau foto eksplisit remaja merupakan salah satu isu yang harus diberi perhatikan. Terutama karena perkembangan teknologi percakapan online masa kini.

Euphoria didominasi dengan karakter perempuan, mungkin karena kampanye feminisme yang masih hangat beberapa tahun belakangan ini. Padahal ada banyak potensi steriotip remaja laki-laki lainnya yang bisa dimasukan dalam gang Euphoria. Serial ini juga tidak bisa dibilang termasuk drama yang memiliki perkembangan cerita alami. Ada penokohan yang memang dibuat ekstrem dan hubungan antar beberapa karakter untuk efek dramatisir.

Sinematografi Menawan dan Penataan Busana yang Inspiratif

Salah satu keunggulan dari produksi serial Euphoria adalah sinematografinya yang menawan. Didominasi dengan warna-warna gelap, berpadu dengan cahaya neon biru, merah muda, dan ungu, secara sempurna mengemas genre melowdrama remaja. Serial ini memang lebih dominan dengan nuansa ‘life of a party animal’ yang menjadi budaya remaja Amerika. Namun, pada saat-saat membahagiakan pun nuansa warna yang gelap dan suram tetap menyelimuti mereka. Because the kids are not alright.

Editing yang ditampilkan dalam setiap episode Euphoria dieksekusi dengan teknik yang “ekstrem”. Mulai dari efek kamera yang berputar 180 derajat, permainan cahaya yang berani, serta beberapa teknik visual ala art house film yang absurd dan unik. Membuat Euphoria memiliki kemasan colorfull, glittery; menggambarkan dunia remaja yang penuh dengan berbagai macam emosi, melebur menjadi satu.

Euphoria Review

HBO

Setiap frame dalam serial ini semakin eye catchy didukung dengan penampilan setiap karakter yang selalu fashionable. Mulai dari Jules dengan gaya remaja yang quirky dan girly, penampilan tomboy Rue, transformasi busana Kat yang berani, hingga Maddy dan Cassie yang sexy dan selalu memperhatikan penampilan dari ujung kepala hingga kaki.

Pro Kontra Konten Eksplisit yang Terlalu Berlebihan untuk Serial Remaja

Sebagai serial remaja, Euphoria memuat berbagai konten visual yang sangat eksplisit. Mulai dari konten nudity, pemakaian narkoba, kekerasan seksual, dan footage video dewasa. Bisa dibilang terlalu eksplisit bahkan untuk penonton remaja SMA usia belasan tahun. Lalu, bagaimana serial drama remaja bisa dinikmati oleh remaja jika rate-nya saja tidak memenuhi standar usia penonton? Namun kenyataannya, berbagai isu tabu tersebut mungkin sudah sangat dekat dengan kehidupan setiap remaja masa kini. Kita saja yang selama ini sebagai masyarakat umum tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa inilah realita akan kemungkinan terburuk gaya hidup remaja generasi Z.

Euphoria juga terlalu mengeksploitasi konten remaja yang problematik, selalu melawan, dan selalu depresi. Secara tidak langsung meng-glamor-kan seks bebas, narkoba, dan kebiasaan buruk lainnya. Berbeda dengan serial atau film melowdrama remaja lainnya yang memiliki konten seimbang antara sisi baik dan buruk.

Sebagai orang dewasa, menonton Euphoria bisa membuka mata kita tentang apa yang sedang dialami oleh generasi remaja masa kini. Mungkin juga “nostalgia” akan kesalahan masa remaja yang pernah kita berbuat. Sebagai penonton remaja, Euphoria bisa menjadi contoh kemungkinan terburuk atas kesalahan yang diperbuat saat remaja. Menonton dengan bijak bisa menjadi tindakan preventif, bahwa ada konsekuensi yang “kejam” jika kita melakukan kesalahan yang seharusnya bisa kita hindari.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect